Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Kami keluarga yang aman.
Setidaknya begitu kata negara.
Aman menurut laporan.
Aman menurut tabel indikator.
Aman menurut grafik yang setiap tahun tampak
membaik, meski hidup sehari-hari terasa berjalan di tempat.
“Aman” adalah kata favorit dalam bahasa
kebijakan. Ia terdengar rasional, menenangkan, dan dewasa. Aman berarti
terkendali. Aman berarti tidak gaduh. Aman berarti sistem berjalan sebagaimana
mestinya.
Masalahnya, kata aman sering kali lebih sibuk
melindungi sistem daripada manusia di dalamnya.
Ayah kami dulu bagian dari sistem itu. Ia
bekerja di ruang-ruang yang penuh istilah integritas, tata kelola, dan
akuntabilitas kata-kata yang terdengar kokoh, tetapi dalam praktiknya lebih
sering dipajang daripada digunakan.
Suatu hari, di sebuah rapat resmi, ayah
bertanya dengan nada biasa saja, hampir sopan:
“Jika hampir semua indikator kinerja
dinyatakan tercapai, mengapa kepercayaan publik justru menurun?”
Pertanyaan itu tidak menimbulkan keributan.
Ia hanya dicatat.
Dan sejak saat itu, nama ayah perlahan
menghilang dari daftar undangan.
Ayah tidak dipecat. Itu terlalu terang.
Ia hanya “disesuaikan”.
Dalam bahasa birokrasi kita, itu berarti
disingkirkan dengan sopan, tanpa suara, tanpa konflik terbuka.
Padahal pertanyaan ayah bukan khayalan.
Berbagai survei baik nasional maupun internasional menunjukkan paradoks yang
sama: kinerja administratif membaik, tetapi persepsi keadilan dan kepercayaan
publik tertinggal. Reformasi prosedur berjalan, reformasi rasa keadilan
tertatih.
Di ruang kosong antara laporan dan kenyataan
itulah orang dalam menemukan tempat hidupnya.
Ia tidak tercantum di bagan organisasi.
Tidak tertulis di SOP.
Namun kehadirannya terasa dalam hasil akhir.
Dari ruang kebijakan, cerita itu berpindah ke
ruang kelas.
Ibu kami guru.
Mengajar di sekolah kecil dengan slogan besar
tentang masa depan. Setiap beberapa tahun, kurikulum berganti nama: merdeka,
berdiferensiasi, mendalam. Pendekatannya makin canggih, istilahnya makin
akademik. Namun kesejahteraan guru bergerak pelan, nyaris tak terasa.
Data resmi menyebut pendidikan sebagai
prioritas. Anggaran meningkat, program bertambah. Tetapi di ruang kelas, banyak
guru tetap hidup dalam kondisi cukup ,cukup untuk bertahan, belum cukup untuk
merasa aman secara martabat.
Sekolah sibuk mengukur numerasi dan literasi,
namun jarang mengukur satu hal yang paling
menentukan kepercayaan publik pada pendidikan:
keadilan dalam sistem itu sendiri.
Sebagai anak, kami tumbuh di tengah situasi
itu.
Kami lulus dengan nilai baik.
Kami mengikuti seleksi kerja.
Lolos tes tertulis.
Lolos wawancara.
Gagal di tahap yang tidak pernah dijelaskan
secara terbuka.
Kami tidak sepenuhnya terkejut. Berbagai studi
pasar kerja menunjukkan bahwa modal sosial relasi, kedekatan, jaringan, sering
kali lebih menentukan daripada kompetensi, terutama di sektor-sektor tertentu.
Meritokrasi hidup di dokumen kebijakan, patronase bekerja dalam praktik.
Pelan-pelan kami memahami pola yang sama di
banyak ruang:
kepatuhan lebih cepat dihargai daripada
kecakapan.
Diam terasa lebih aman daripada bertanya.
Dan stabilitas sering dimaknai sebagai
ketiadaan kritik.
Semua itu dilegalkan melalui prosedur.
Disahkan lewat regulasi.
Tampak rapi di atas kertas.
Tak heran jika pendidikan akhirnya lebih sibuk
mencetak lulusan yang patuh, daripada manusia yang berpikir. Sistem merasa
aman, meski daya kritis pelan-pelan dilemahkan.
Penguasa gemar mengutip kearifan lokal: nrimo,
eling, waspada. Namun lupa bahwa dalam tradisi Jawa, kekuasaan selalu dibatasi
oleh kesadaran batin oleh rasa takut menyimpang dari keadilan.
Yang sering tampak hari ini justru sebaliknya:
takut pada kritik,
namun longgar pada penyalahgunaan wewenang.
Di titik inilah orang dalam kerap lupa satu
hal paling mendasar, yang tidak pernah tercantum di modul kepemimpinan mana
pun:
semua orang akan mati.
Kematian tidak mengenal jabatan.
Tidak memeriksa relasi.
Tidak mengakui privilege.
Justru karena itu, negara hukum seharusnya
bekerja sebelum kematian mengambil alih fungsi keadilan. Bukan dengan
kemarahan, melainkan dengan akuntabilitas. Bukan dengan dendam, tetapi dengan
keberanian menempatkan siapa pun termasuk orang dalam di dalam proses hukum
ketika kuasa disalahgunakan.
Kurungan, dalam pengertian ini, bukan simbol
kekerasan.
Ia simbol batas.
Bahwa kekuasaan tidak kebal,
dan kedekatan tidak boleh mengalahkan aturan.
Suatu malam, kami berbicara tentang mati.
Bukan dengan suara tinggi.
Bukan dengan doa panjang.
Hanya percakapan biasa, seperti membahas hujan
atau listrik padam.
Di sana kami sadar:
tidak ada orang dalam di hadapan tanah.
Tak ada jalur khusus.
Tak ada rekomendasi.
Tak ada telepon yang bisa mempercepat proses.
Semua yang selama ini “aman” karena sistem,
akan tiba pada satu titik yang sama rapuhnya.
Dan di titik itu,
tidak ada pertanyaan tentang indeks, capaian,
atau stabilitas.
Yang tersisa hanya satu ukuran paling
telanjang:
apakah hidup ini sempat adil bagi orang lain.
Barangkali itulah yang paling menyakitkan.
Bukan kematian itu sendiri,
melainkan kesadaran bahwa sepanjang hidup,
kita mungkin selamat dengan cara yang tidak
sepenuhnya pantas.
Bahwa kenyamanan dibangun dari antrean yang
dipotong.
Bahwa jabatan dijaga dengan menyingkirkan yang
jujur.
Bahwa keberhasilan diraih bukan karena layak,
melainkan karena dekat.
Negara boleh menutup laporan dengan kata aman.
Namun sejarah tidak membaca ringkasan
eksekutif.
Ia membaca akibat.
Dan kematian
ia tidak mengenal istilah “sesuai prosedur”.
Ia hanya bertanya pelan, tanpa nada
menghakimi,
namun cukup untuk membuat siapa pun ingin
menunduk:
Selama hidupmu,
kalian ini menjaga keadilan,
atau hanya menjaga posisi?
Jika pertanyaan itu terasa menyakitkan,
mungkin memang begitu fungsinya.
Karena pendidikan, kekuasaan, dan negara
tidak runtuh oleh kritik,
melainkan oleh rasa malu
yang terlalu lama ditunda.
Ajibarang, 22 Januari 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar