Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Di dunia pendidikan Indonesia hari ini,
refleksi telah naik kelas. Ia bukan lagi sekadar metode, melainkan hampir
menyerupai iman. Siapa pun yang meragukannya akan segera dicurigai sebagai
pendidik yang “tidak progresif”, kurang humanis, atau belum ikut pelatihan
terbaru. Refleksi diucapkan dengan nada khidmat dalam rapat sekolah, disalin
rapi dalam laporan, dan ditutup dengan kalimat sakral: “semoga ke depan menjadi
lebih baik.”
Masalahnya, pendidikan kita belum juga
membaik.
Pujian terhadap refleksi begitu meriah, tetapi
hasil belajar murid masih tertatih. Kemampuan literasi dan numerasi siswa
Indonesia, berdasarkan berbagai asesmen nasional dan internasional, masih
berada di level yang mengkhawatirkan. Murid kesulitan memahami teks, bernalar
secara matematis, dan memecahkan masalah sederhana bahkan di sekolah-sekolah
yang rajin melakukan refleksi. Di titik ini, pertanyaan sederhana tapi tidak
populer perlu diajukan: apakah refleksi benar-benar mengubah pembelajaran, atau
hanya menenangkan hati para pendidik dewasa?
Refleksi yang Rajin, Perubahan yang Absen
Jika refleksi adalah obat mujarab, seharusnya
pendidikan kita sudah sembuh. Faktanya, yang tampak justru sebaliknya. Sekolah
semakin sibuk merefleksi, tetapi kelas tetap monoton. Guru semakin sadar akan
keterbatasan murid, tetapi target kurikulum tidak beranjak. Murid semakin
sering diminta menulis perasaan belajar, tetapi belum tentu lebih paham apa
yang dipelajarinya.
Di sinilah refleksi berubah fungsi: bukan lagi
alat diagnosis, melainkan pereda rasa bersalah kolektif. Ketika hasil belajar
rendah, kita tidak panik, kita refleksi. Ketika kebijakan gagal, kita tidak
evaluasi mendalam, kita refleksi. Refleksi menjadi semacam vitamin psikologis:
membuat merasa sehat, meski penyakitnya masih ada.
Ritual Refleksi dan Bahaya Kepatuhan
Intelektual
Refleksi di sekolah sering tampil dalam bentuk
yang sangat tertib: kolom di laporan, sesi lima menit di akhir pelajaran, atau
pertanyaan aman yang tidak mengganggu sistem. Jarang sekali refleksi digunakan
untuk menggugat hal-hal yang lebih mendasar, misalnya:
mengapa semua murid harus menuntaskan materi
yang sama dengan kemampuan awal yang sangat berbeda,
mengapa tidak naik kelas dianggap tabu meski
kompetensi belum tercapai,
atau mengapa guru dibebani administrasi
reflektif, tetapi tidak diberi ruang mengubah desain pembelajaran secara nyata.
Ironisnya, refleksi justru sering digunakan
untuk menormalisasi keadaan yang seharusnya dipertanyakan. Kita merefleksi
dengan sopan, agar tidak perlu bersikap kritis. Kita berdiskusi dengan hangat,
agar tidak perlu berdebat tentang kebijakan yang keliru. Dalam situasi ini,
refleksi tidak lagi membebaskan, tetapi menjinakkan nalar.
Ketika Semua Diminta Reflektif, Kecuali
Sistem
Ada kejanggalan logis dalam cara refleksi
dipraktikkan. Guru diminta reflektif. Murid diminta reflektif. Kepala sekolah
diminta reflektif. Namun sistem kurikulum yang padat, evaluasi yang kaku,
birokrasi yang berlapis jarang diajak refleksi secara serius.
Padahal, banyak masalah pembelajaran bukan
lahir dari kurangnya kesadaran individu, melainkan dari desain sistem yang
tidak ramah belajar. Dalam kondisi seperti ini, refleksi personal justru
berisiko berubah menjadi latihan menyalahkan diri sendiri secara kolektif. Guru
sadar ada yang salah, tetapi tidak punya kewenangan untuk mengubahnya. Murid
sadar tertinggal, tetapi tetap dipaksa melaju.
Refleksi semacam ini tidak menghasilkan
perubahan, hanya kelelahan.
Ilusi Praktik Baik dan Penyakit
Generalisasi
Setiap kali refleksi dikritik, selalu muncul
kisah satu sekolah yang berhasil. Ini sekolah A, itu sekolah B. Praktik baik
lokal lalu dijadikan pembenaran bahwa refleksi bekerja. Masalahnya, pendidikan
nasional tidak bisa diselamatkan oleh anekdot.
Dalam pendekatan ilmiah, satu contoh
keberhasilan tidak otomatis membatalkan fakta kegagalan yang lebih luas. Tanpa
data komparatif lintas wilayah dan lintas konteks, kita hanya sedang merayakan
pengecualian, bukan memperbaiki sistem. Refleksi yang sehat justru berani
mengakui bahwa apa yang berhasil di satu tempat belum tentu relevan di tempat
lain.
Refleksi yang Tidak Berani Menyakitkan
Refleksi sejati seharusnya menyakitkan. Ia
menuntut keberanian untuk mengatakan bahwa suatu program tidak efektif, bahwa
suatu kebijakan perlu dihentikan, atau bahwa suatu pendekatan gagal mencapai
tujuan. Namun refleksi yang populer hari ini justru alergi terhadap rasa sakit
itu.
Kita ingin refleksi yang aman, nyaman, dan
tetap membuat semua pihak terlihat baik. Akibatnya, refleksi kehilangan daya
ubahnya. Ia menjadi sopan, tetapi tumpul. Hangat, tetapi tidak menerangi.
Penutup: Meragukan Refleksi sebagai Bentuk
Kepedulian
Tulisan ini tidak bermaksud menolak refleksi.
Justru sebaliknya: refleksi perlu diragukan agar tidak berubah menjadi dogma.
Pendidikan tidak membutuhkan iman baru, melainkan keberanian intelektual untuk
menguji apa yang selama ini dianggap benar.
Mungkin persoalan pendidikan kita bukan kurang
refleksi, melainkan terlalu banyak refleksi yang tidak berani berujung pada
keputusan sulit. Selama refleksi hanya menjadi ritual penghibur bagi orang
dewasa, murid akan tetap belajar dalam sistem yang sama apa pun nama
pendekatannya.
Dan barangkali, refleksi paling jujur hari ini
adalah bertanya dengan suara keras:
apakah kita sungguh ingin memperbaiki
pendidikan, atau sekadar ingin merasa telah melakukannya?
Ajibarang, 21 Januari 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar