Sekolah Anti Bullying: Mengapa Kata-Kata Guru Harus Diaudit

 




Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja


Sekolah-sekolah kita hari ini gemar mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Anti Bullying. Spanduk dipasang, pakta integritas dibacakan, dan sanksi ditulis tebal dalam tata tertib. Namun ada satu wilayah yang kerap luput diaudit: bahasa guru di ruang publik pendidikan.

Bullying tidak selalu berupa pukulan atau dorongan. Ia sering hadir dalam bentuk yang lebih halus, lebih sistemik, dan justru lebih berbahaya: kata-kata yang merendahkan, diucapkan oleh otoritas, lalu dinormalisasi sebagai “cara mendisiplinkan”.


Kalimat seperti “otaknya dipakai” atau “kalau tidak bisa baris, dijemur sampai siang” bukan sekadar luapan emosi. Ia adalah pesan pedagogis yang keliru dan bertentangan langsung dengan semangat sekolah anti bullying yang dideklarasikan sendiri.


Ketika Bahasa Melukai, Pendidikan Gagal

Dalam Quantum Teaching, Bobbi DePorter menegaskan satu prinsip kunci:
“Everything Speaks.”

Segala sesuatu berbicara termasuk nada suara, pilihan kata, dan cara guru memberi instruksi.

Ketika guru berbicara dengan sarkasme dan ancaman, pesan yang diterima murid bukanlah disiplin, melainkan:
rasa tidak aman,
malu di depan umum,
dan ketakutan untuk berbuat salah.

Ironisnya, cara ini sering tidak efektif. Murid tetap riuh, instruksi tetap tidak dipahami, dan suasana justru semakin kacau. Artinya, bahasa yang melukai bukan hanya bermasalah secara etis, tetapi gagal secara pedagogis.


Disiplin Bukan Soal Nada Tinggi

Bobbi DePorter mengingatkan bahwa komunikasi efektif harus memenuhi dua syarat:
jelas dan memberdayakan.

Instruksi seperti:
“Saya ingin barisan rapi dengan jarak satu lengan supaya senam kita nyaman. Kita ulangi bersama, ya.”

lebih kuat dampaknya dibanding teriakan panjang penuh ancaman.

Disiplin tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari pengertian.

Sekolahnya Manusia: Murid Bukan Objek Kemarahan


Munif Chatib dalam Sekolahnya Manusia menegaskan bahwa sekolah sejati adalah sekolah yang memanusiakan manusia. Dalam kerangka ini, murid bukan objek pelampiasan emosi guru, melainkan subjek belajar yang sedang bertumbuh.


Jika murid tidak bisa berbaris rapi, maka pertanyaannya bukan:
“Kenapa anak-anak ini bodoh?”

Melainkan:
“Apakah instruksi saya sudah sesuai dengan usia dan kondisi mereka?”

Munif Chatib mengingatkan:
tidak ada anak bodoh, yang ada adalah guru yang belum menemukan pendekatan yang tepat.

Bahasa yang merendahkan hanya akan menjauhkan murid dari proses belajar. Sebaliknya, bahasa yang menghargai membuat murid merasa mampu dan mau mencoba.


Sekolah Anti Bullying Harus Dimulai dari Guru

Deklarasi anti bullying akan menjadi slogan kosong jika:
guru masih bebas mengumpat,
sarkasme dianggap wajar,
dan ancaman dijadikan alat kontrol.

Di sinilah pimpinan sekolah harus berani mengambil peran strategis:
menjadikan komunikasi guru sebagai indikator budaya sekolah,
memasukkan evaluasi bahasa dalam supervisi,
dan menjadikan pelatihan komunikasi efektif sebagai kebutuhan, bukan formalitas.

Sekolah anti bullying bukan hanya soal melindungi murid dari sesama murid, tetapi juga melindungi murid dari kekerasan verbal yang dilegitimasi oleh sistem.


Penutup: Mengaudit Kata-Kata, Menyelamatkan Pendidikan


Jika sekolah sungguh-sungguh ingin menjadi ruang aman, maka yang pertama diaudit bukan murid—melainkan kata-kata guru.


Karena seperti diingatkan Bobbi DePorter dan Munif Chatib, dengan bahasa yang berbeda namun pesan yang sama:
anak belajar paling dalam dari cara kita memperlakukannya, bukan dari seberapa keras kita berteriak.






 

Ajibarang, 5 Januari 2026



Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama