Dari Dapur Desa, Asa Diracik: Ibu-Ibu KDMP Dermaji Tempa Keterampilan Lewat Praktik Kacang Sukro


DERMAJI - Suasana ruang dapur Balai Desa Dermaji tampak lebih hidup pada Jumat, 31 Januari 2026, ketika ibu-ibu anggota KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) berkumpul mengikuti praktik membuat cemilan kacang sukro. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi berbasis keterampilan yang digagas KDMP Dermaji guna membekali anggota dengan kemampuan praktis yang dapat dikembangkan secara mandiri. Sejak pagi, peserta terlihat antusias mempersiapkan bahan dan peralatan, mencerminkan semangat belajar yang tinggi.


Kegiatan praktik ini dilaksanakan sebagai sarana pelatihan keterampilan anggota KDMP, khususnya kaum ibu, agar mampu menghasilkan produk olahan yang bernilai guna dan bernilai jual. Ketua KDMP Dermaji, Slamet, menegaskan bahwa koperasi desa tidak hanya berfungsi sebagai wadah simpan pinjam, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat.


“Kegiatan praktik membuat cemilan kacang sukro ini kami laksanakan sebagai bagian dari upaya nyata KDMP atau Koperasi Desa Merah Putih dalam meningkatkan keterampilan anggota, khususnya ibu-ibu. Kami ingin anggota tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Slamet.

Pemilihan cemilan kacang sukro dinilai tepat karena proses pembuatannya relatif sederhana, bahan bakunya mudah diperoleh, dan digemari berbagai kalangan. Selain itu, kegiatan ini juga melatih ketelitian dan kesabaran dalam mengolah bahan agar menghasilkan tekstur renyah dan cita rasa yang seimbang. Bendahara KDMP Dermaji, Rastati, menilai praktik ini sebagai langkah awal membuka peluang usaha rumahan berbasis potensi lokal.


“Kami melihat kacang sukro ini sangat potensial. Dari kegiatan ini, anggota tidak hanya belajar memasak, tetapi juga belajar konsistensi rasa, ketelitian proses, dan kerja sama kelompok,” ungkap Rastati.

Selama kegiatan berlangsung, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil agar proses praktik berjalan efektif dan interaktif. Setiap kelompok mencoba meracik bumbu, mengatur teknik penggorengan, serta mengevaluasi hasil olahan secara bersama-sama. Raut wajah penasaran tampak jelas ketika hasil pertama dicicipi, lalu diperbaiki demi mendapatkan kualitas terbaik.


Ketua kelompok ibu-ibu anggota KDMP, Wiji Setya Utami, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman baru yang sangat berharga bagi para peserta. Ia menilai praktik langsung membuat anggota lebih memahami proses secara menyeluruh.


“Kami para ibu merasa sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Ternyata untuk mendapatkan tekstur renyah dan rasa yang pas dibutuhkan teknik khusus dan ketelatenan. Ini membuka wawasan kami bahwa memasak juga soal kualitas, bukan sekadar bisa,” tutur Wiji Setya Utami.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul selama praktik, mulai dari pemilihan kacang berkualitas, komposisi bumbu, hingga cara menjaga kerenyahan agar tahan lebih lama. Diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban, menciptakan suasana belajar yang partisipatif. Ketua KDMP menilai kondisi tersebut sebagai indikator keberhasilan kegiatan.


“Ketika anggota aktif bertanya dan mencoba, itu artinya pelatihan ini benar-benar hidup dan dibutuhkan,” kata Slamet.

Selain melatih keterampilan teknis, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antaranggota KDMP. Ibu-ibu saling berbagi pengalaman, memberi masukan, dan membangun kepercayaan diri secara kolektif. Menurut Rastati, kekuatan koperasi desa terletak pada kebersamaan anggotanya.

“Kebersamaan inilah yang menjadi modal sosial kami untuk tumbuh dan berkembang bersama sebagai koperasi desa,” ujarnya.


Pelaksanaan praktik membuat kacang sukro berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Seluruh bahan dan peralatan telah dipersiapkan dengan baik, sehingga kegiatan berjalan sesuai rencana. Pada tahap akhir, sebagian besar kelompok berhasil menghasilkan kacang sukro dengan tekstur renyah dan rasa yang seimbang.


“Setelah mengikuti praktik ini, kami jadi lebih percaya diri untuk mencoba membuatnya sendiri di rumah, bahkan tertarik menjadikannya usaha kecil,” kata Wiji Setya Utami.

KDMP Dermaji juga merencanakan tindak lanjut dari pelatihan ini berupa pengemasan sederhana dan penghitungan biaya produksi. Langkah tersebut diharapkan mampu membekali anggota dengan pengetahuan dasar kewirausahaan. Bendahara KDMP menegaskan pentingnya kesinambungan program.


“Kalau sudah bisa produksi dengan baik, tahap berikutnya adalah belajar bagaimana mengemas dan memasarkannya,” jelas Rastati.


Ketua KDMP menambahkan bahwa pelatihan keterampilan seperti ini akan terus dikembangkan dengan variasi produk olahan lainnya. Menurutnya, pemberdayaan ekonomi desa harus dimulai dari potensi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.


“Kami ingin keterampilan anggota terus berkembang dan menjadi kekuatan ekonomi keluarga. Dari hal kecil seperti ini, dampaknya bisa besar jika dikelola bersama,” tegas Slamet.


Melalui praktik membuat cemilan kacang sukro ini, KDMP Dermaji menunjukkan bahwa dapur desa dapat menjadi ruang belajar, kreativitas, dan harapan. Dari tangan-tangan ibu anggota Koperasi Desa Merah Putih, kemandirian ekonomi perlahan diracik dengan semangat kebersamaan, ketekunan, dan optimisme menuju masa depan yang lebih sejahtera.


Kontributor : Dian Prass

Post a Comment

أحدث أقدم