Oleh : Trisnatun,M.Pd
Saya pernah menjadi kepala sekolah yang jarang
tersenyum.
Bukan karena saya tidak ramah.
Bukan karena saya lupa etika.
Saya jarang tersenyum karena terlalu sering
menelan sesuatu yang pahit sendirian.
Saya datang paling pagi dan pulang paling
sore. Tetapi kepala saya tidak pernah benar-benar pulang. Ia ikut rebahan di
kasur, ikut terbangun di tengah malam, ikut cemas tanpa alasan yang bisa
dijelaskan secara administratif. Ada malam-malam ketika saya terjaga bukan
karena pekerjaan belum selesai, melainkan karena rasa bersalah yang tak kunjung
reda.
Saya melihat guru honorer sarjana, mengajar
penuh waktu, bekerja dengan hati digaji lima ratus ribu rupiah sebulan. Lima
ratus ribu. Angka yang bahkan kalah sopan untuk disebut upah, apalagi
penghargaan. Saya melihat itu setiap bulan. Dan setiap bulan pula saya merasa
gagal, meski laporan keuangan rapi dan administrasi dinilai baik.
Saya tahu persis: keadilan tidak pernah
benar-benar singgah di ruang kerja saya.
Saya ingin membela mereka.
Saya ingin marah.
Saya ingin bersuara.
Tapi saya juga tahu: suara saya pendek, gema
kekuasaan saya terbatas.
Di titik itu, senyum terasa mahal.
Bukan karena saya tak ingin tersenyum,
melainkan karena tersenyum terasa seperti berkhianat pada nurani sendiri.
Aturan Tegak di Kertas, Lentur di Meja
Saya juga menyaksikan aturan berdiri tegak di
dokumen, lalu membungkuk di lapangan. Seleksi siswa baru sering kali tak kalah
cerdas dari politik kecil. Ada rekomendasi. Ada titipan. Ada permintaan yang
dibungkus kata “kemanusiaan”.
“Tolong dipertimbangkan, Pak.”
Kalimat itu selalu terdengar sopan. Tapi
isinya menuntut.
Ketika saya patuh pada aturan, saya disebut
kaku.
Ketika saya melonggarkan, saya pulang dengan
rasa bersalah.
Jika saya menolak, saya dianggap tak
kooperatif.
Jika saya menerima, saya ikut melanggengkan
ketidakadilan.
Saya tidak pernah benar-benar menang.
Di sinilah jebakan moral paling sunyi dalam
kepemimpinan pendidikan:
ketika kejujuran membuatmu sendirian,
dan kompromi membuatmu ramai—tapi hampa.
Setiap keputusan bukan lagi soal benar atau
salah,
melainkan soal aman atau berbahaya.
Dan perlahan, wajah kepala sekolah mulai
kehilangan senyum.
Tekanan Tanpa Henti
Tekanan tidak datang dari satu arah.
Wali murid berharap sekolah sempurna: nilai
tinggi, fasilitas mewah, hasil instan.
Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa sekolah
bukan pabrik nilai, dan guru bukan mesin produksi prestasi.
LSM datang membawa pengawasan kadang tanpa
empati konteks. Sekolah diperlakukan seperti tersangka, bukan mitra. Satu
laporan bisa menghancurkan reputasi. Satu potongan narasi bisa menghabisi
karier.
Kepala sekolah hidup dalam rezim kewaspadaan
permanen:
salah bicara bisa viral,
salah langkah bisa fatal.
Maka saya belajar satu hal yang pahit:
diam sering kali terasa lebih aman daripada
jujur.
Kegelisahan tentang Ketimpangan
Namun kegelisahan paling berat justru datang
dari dalam.
Guru profesional.
Bersertifikat.
Menerima Tunjangan Profesi Guru setiap
bulan jumlahnya berkali lipat dari gaji guru honorer.
Hak itu sah. Saya tidak mempersoalkannya.
Yang melelahkan adalah ketika hak besar tidak
diikuti tanggung jawab yang setara.
Ada yang datang terlambat, tapi paling keras
menuntut.
Ada yang perangkat pembelajarannya hasil
salin-tempel, tapi paling lantang berbicara di rapat.
Ada yang mengaku senior, tapi berhenti menjadi
teladan.
Di ruangan lain, ada guru honorer yang bekerja
lebih jujur, lebih bersih, lebih setia tanpa pernah berani menuntut apa pun.
Perbandingan itu tidak pernah diucapkan, tetapi selalu terasa. Dan justru
karena itulah ia menghantui.
Menegur guru profesional bukan perkara teknis.
Ia perkara politik psikologis.
Ada senioritas.
Ada ego.
Ada risiko dilaporkan, dipelintir, diseret ke
mana-mana.
Tidak menegur?
Risikonya lebih sunyi, tapi sama merusaknya:
budaya kerja membusuk,
keadilan mengendur,
sekolah berjalan tanpa jiwa.
Saya berada di antara dua kesalahan yang
sama-sama melelahkan. Maka saya memilih yang paling aman: menjaga suasana,
meredam konflik, dan menyimpan kebenaran di dalam diri.
Di situlah saya mulai kehilangan senyum yang
jujur.
Senyum Berubah Fungsi
Senyum saya tetap ada untuk rapat, untuk tamu,
untuk foto dokumentasi.
Tetapi ia tidak pernah benar-benar sampai ke
hati.
Ia berubah fungsi: dari ekspresi ketulusan
menjadi alat bertahan hidup.
Yang penting tidak ada konflik terbuka.
Yang penting sekolah tampak baik-baik saja.
Yang penting laporan aman.
Di titik ini, kepala sekolah sering kali bukan
lagi pemimpin nilai,
melainkan manajer risiko.
Kembali jadi Guru
Sekarang saya sudah tidak lagi menjadi kepala
sekolah.
Jabatan kepala sekolah telah rampung, dan
jejak kegelisahan rasanya masih ada.
Setelah turun, saya semakin menyadari: bahwa
hal
yang paling melelahkan bukan beban kerja,
melainkan berpura-pura baik-baik saja,
di tengah sesuatu yang jelas-jelas tidak
baik-baik saja.
Saya menulis ini bukan untuk mengeluh.
Saya menulis ini agar kita berhenti terlalu
cepat menilai wajah.
Jika suatu hari Anda bertemu kepala sekolah
yang jarang tersenyum, jangan buru-buru menuduhnya dingin atau tak manusiawi.
Bisa jadi ia sedang berjuang menjaga nurani tetap hidup, di tengah sistem yang
lebih pandai menghitung angka daripada merawat keadilan.
Dan mungkin seperti saya dulu
ia sedang belajar satu hal yang paling sunyi
dalam kepemimpinan:
bahwa tersenyum tidak selalu berarti bahagia.
Kadang, itu hanya tanda bahwa seseorang masih
bertahan.
Penutup: Pertanyaan yang Tak Enak Tapi
Perlu
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Sudahkah kepala sekolah tersenyum hari
ini?”
Melainkan:
“Sudahkah kita membuat kepala sekolah cukup
aman untuk bisa tersenyum dengan jujur?”
Jika jawabannya belum,
maka jangan heran jika banyak kepala sekolah
tampak murung
sebab mereka sedang berdiri di antara
idealisme dan realitas,
sendirian, dan nyaris tanpa jaring pengaman.
Dan di negeri seperti ini,
yang paling cepat hilang bukan senyum—
melainkan keberanian untuk tetap manusiawi.
Ajibarang,1 Feb 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Posting Komentar