Melestarikan Tradisi dari Meja Dapur: Siswa SDN 1 Randegan Hidupkan Filosofi Soto Banyumas dalam Ujian Praktik Kontekstual

KEBASEN, INFO BANYUMAS – Halaman SDN 1 Randegan mendadak bertransformasi menjadi area festival kuliner yang meriah pada Rabu (4/2). Bukan tanpa alasan, puluhan siswa kelas VI sekolah tersebut tampak sibuk bergelut dengan bumbu dapur, ulekan, dan aroma gurih kaldu dalam rangka melaksanakan Ujian Praktik Budaya Banyumas. Dengan fokus utama mengolah Soto Banyumas, kegiatan ini tidak sekadar menjadi syarat administratif kelulusan, melainkan sebuah manifestasi pembelajaran kontekstual yang bertujuan menanamkan rasa cinta terhadap warisan leluhur melalui pengalaman indrawi dan kerja kolektif di luar ruang kelas.


Sejak fajar menyingsing, atmosfer di lingkungan sekolah sudah menunjukkan geliat yang berbeda. Meja-meja kayu ditata sedemikian rupa sebagai stasiun memasak, lengkap dengan kompor portabel dan deretan bahan baku segar seperti kecambah, potongan daging, kerupuk warna-warni, serta bumbu kacang khas soto daerah setempat. Seluruh siswa kelas VI diorganisir ke dalam empat kelompok besar, di mana setiap individu memegang tanggung jawab spesifik, mulai dari manajemen logistik bahan hingga teknik pengadukan kuah agar bumbu meresap sempurna.


Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk nyata dari implementasi kurikulum muatan lokal yang menekankan pada pengenalan identitas kedaerahan. Melalui aktivitas memasak bersama, para guru tidak hanya memantau kemahiran teknis siswa, tetapi juga melakukan observasi mendalam terhadap aspek afektif. Informasi tersebut menegaskan bahwa poin penilaian utama justru terletak pada bagaimana siswa mampu berkomunikasi, berdisiplin menjaga kebersihan sanitasi, serta menunjukkan tanggung jawab terhadap tugas kelompoknya. Pemilihan menu Soto Banyumas dianggap sangat strategis karena kedekatannya dengan kehidupan harian siswa, sehingga proses internalisasi nilai budaya terasa lebih organik dan jauh dari kesan menjemukan.


Selama prosesi ujian berlangsung, situasi terkendali dengan sangat tertib. Para guru pendamping bertindak sebagai fasilitator yang memastikan aspek keselamatan kerja tetap terjaga, terutama saat siswa berinteraksi dengan api dan benda tajam. Aroma rempah yang menyeruak ke seluruh penjuru sekolah menciptakan suasana belajar yang hangat, mengubah ketegangan ujian menjadi sebuah perayaan kebersamaan yang penuh keceriaan.


Bagi pihak sekolah, memindahkan lokasi belajar dari kursi kayu ke depan tungku masak adalah cara paling efektif untuk membuat materi pelajaran "menetap" dalam ingatan jangka panjang siswa. Pembelajaran berbasis praktik ini dianggap mampu menyentuh sisi emosional anak, sehingga mereka merasa memiliki andil dalam menjaga kelestarian budaya Banyumasan yang kini mulai tergerus oleh tren kuliner modern.


Guru pendamping yang mengawal jalannya kegiatan, Pak Saguh, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan bagian tak terpisahkan dari standar kompetensi lulusan di SDN 1 Randegan. Ia melihat bahwa ujian praktik adalah jembatan yang menghubungkan teori di buku dengan realitas di lapangan.


“Kegiatan ini menjadi kegiatan rutinan kelas 6 dalam memenuhi kriteria kelulusan yaitu ujian praktik. Pengenalan budaya daerah melalui praktik nyata jauh lebih efektif dibandingkan hanya melalui penjelasan di dalam kelas. Selain itu, siswa juga dapat memahami bahwa budaya tidak hanya dipelajari, tetapi juga dijalani dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Pak Saguh dengan mantap di sela-sela kesibukannya memantau kematangan kuah soto siswa.


Senada dengan hal tersebut, Bu Lilis, guru lain yang turut mendampingi, memberikan apresiasi atas antusiasme para siswa. Menurutnya, pengalaman ini akan menjadi memori kolektif yang berharga saat mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia menekankan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab untuk membekali siswa dengan soft skills yang relevan dengan kehidupan nyata.


“Kegiatan ini bagus, dan semoga menjadi ladang pengalaman bagi anak-anak semua dalam kegiatan di dunia nyata esok. Pembelajaran tidak hanya bertujuan mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk keterampilan hidup yang bermanfaat, seperti bekerja sama, mandiri, dan menghargai budaya sendiri,” ungkap Bu Lilis dengan penuh harapan.


Dari sudut pandang peserta, inovasi ujian praktik ini disambut dengan sukacita. Tidak ada wajah-wajah tegang yang biasanya menghiasi meja ujian tertulis. Sebaliknya, gelak tawa dan diskusi kecil mengenai takaran garam atau cara memotong daun seledri justru mendominasi percakapan antar siswa. Mereka terlihat sangat bangga saat mampu menyajikan satu mangkuk soto lengkap dengan estetikanya masing-masing di meja penilaian.

Syakira, salah satu siswi kelas VI yang terlibat aktif dalam tim peracik bumbu, menyatakan kekagumannya terhadap metode ujian seperti ini. Baginya, mengetahui rahasia di balik lezatnya hidangan khas daerahnya sendiri adalah sebuah pencapaian yang menyenangkan.


“Saya senang dengan kegiatan ini karena menambah pengalaman saya, dan tidak bosan. Saya merasa lebih santai dan menikmati proses belajar bersama teman-teman. Saya juga baru mengetahui secara langsung cara membuat Soto Banyumas, mulai dari menyiapkan bahan hingga menyajikannya,” tutur Syakira dengan binar mata antusias.


Kepuasan yang dirasakan Syakira dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa rasa percaya diri siswa tumbuh ketika mereka diberikan kepercayaan untuk menghasilkan sesuatu secara mandiri. Momen saling mencicipi hasil masakan antar kelompok pun menjadi puncak dari nilai toleransi dan apresiasi sosial yang diajarkan dalam kegiatan tersebut.


Keberhasilan penyelenggaraan ujian praktik memasak soto ini memicu rencana jangka panjang bagi manajemen SDN 1 Randegan. Sekolah berencana untuk memperluas cakupan praktik muatan lokal ke bidang lain, seperti seni kriya khas Banyumas dan seni pertunjukan tradisional, agar profil pelajar yang berbudaya dapat terbentuk secara menyeluruh.


Melalui kepulan asap soto di halaman sekolah, SDN 1 Randegan telah membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak harus kaku. Budaya Banyumas kini tidak lagi sekadar teks dalam buku cetak yang berdebu, melainkan sebuah pengalaman yang hidup, harum, dan lezat. Inisiatif ini menjadi bukti kuat bahwa sekolah adalah garda terdepan dalam memastikan identitas lokal tetap bertahta di hati generasi alfa, memastikan tradisi tidak hanya berakhir sebagai sejarah, tetapi terus tumbuh sebagai bagian dari gaya hidup masa depan.

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama