Dalam
dunia pendidikan saat ini, keberhasilan sering kali diukur secara sempit
melalui capaian angka dan peringkat. Nilai rapor, ranking kelas, serta predikat
juara menjadi tolok ukur utama yang kerap dibanggakan. Tidak jarang, orang tua
lebih sering menanyakan nilai anaknya dibandingkan menanyakan bagaimana sikap,
kepedulian, dan pergaulan sosial anak di lingkungan sekitarnya.
Fenomena
ini menunjukkan bahwa orientasi pendidikan masih terlalu berfokus pada hasil
akhir, bukan pada proses pembentukan kepribadian. Orang tua merasa bangga
ketika anak memperoleh nilai tinggi atau menjadi juara kelas, namun kerap luput
memperhatikan bagaimana anak tersebut bersikap terhadap teman, guru, dan
masyarakat. Padahal, pendidikan sejatinya tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi
juga membentuk karakter dan moral peserta didik.
Karakter
tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang
terus melekat dalam diri anak, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan
sosial. Sikap jujur, empati, tanggung jawab, dan saling menghargai adalah
nilai-nilai moral yang tumbuh dari pembiasaan, keteladanan, dan penguatan yang
konsisten. Tanpa itu semua, prestasi akademik yang tinggi berpotensi menjadi
kosong makna.
Ironisnya,
di tengah maraknya kasus kenakalan remaja, perundungan, hingga lunturnya etika
dalam pergaulan, perhatian terhadap pendidikan moral justru sering
terpinggirkan. Anak-anak dibebani target nilai dan prestasi, namun kurang
dibentengi dengan karakter yang kuat. Akibatnya, muncul generasi yang cerdas
secara intelektual tetapi rapuh secara moral.
Pendidikan
moral menjadi fondasi penting agar ilmu pengetahuan yang dimiliki anak dapat
digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Sekolah dan orang tua perlu
berjalan beriringan dalam menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini. Prestasi
akademik memang penting, tetapi tanpa moral yang baik, prestasi tersebut tidak
akan memberi manfaat yang luas bagi diri sendiri maupun masyarakat.Sejalan
dengan hal tersebut, Kurikulum Merdeka hadir
sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter melalui pembelajaran yang lebih
bermakna dan kontekstual. Kurikulum ini
menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang tidak hanya dikejar
capaian akademiknya, tetapi juga penguatan nilai-nilai moral melalui Profil
Pelajar Pancasila. Nilai-nilai seperti beriman dan bertakwa, gotong
royong, mandiri, bernalar kritis, kreatif, serta berkebinekaan global menjadi
ruh utama dalam proses pendidikan.
Namun demikian, realitas di
lapangan menunjukkan bahwa kenakalan remaja masih marak terjadi. Hal ini
menjadi sinyal bahwa penguatan pendidikan moral belum sepenuhnya berjalan
optimal. Kurikulum Merdeka yang menekankan nilai-nilai karakter dan Profil Pelajar
Pancasila sering kali masih dipahami sebatas konsep, belum sepenuhnya
terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari peserta didik. Salah satu
penyebabnya adalah ketidaksinambungan antara pendidikan di sekolah, lingkungan
keluarga, dan masyarakat. Nilai moral yang diajarkan di kelas kerap tidak
diperkuat di rumah atau bahkan bertolak belakang dengan realitas sosial yang
dihadapi remaja, termasuk pengaruh media sosial, pergaulan bebas, dan minimnya
keteladanan. Akibatnya, peserta didik mengalami kebingungan nilai dan kesulitan
menerapkan karakter positif dalam kehidupan nyata.
Oleh karena itu, pencegahan kenakalan remaja tidak cukup hanya melalui
kurikulum tertulis, tetapi membutuhkan implementasi yang konsisten dan
kolaboratif.
Sekolah perlu menghadirkan
pembelajaran yang menekankan keteladanan, pembiasaan, dan refleksi moral. Orang
tua berperan sebagai pendidik pertama yang memberi contoh nyata dalam sikap dan
perilaku, sementara masyarakat menjadi ruang praktik nilai-nilai sosial yang
sehat. Dengan sinergi tersebut, pendidikan moral tidak berhenti sebagai wacana,
melainkan menjadi kekuatan nyata dalam membentuk generasi muda yang
berkarakter. Melalui proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), peserta
didik dilatih untuk menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata, berinteraksi secara
positif dengan lingkungan sosial, serta membangun empati dan tanggung jawab.
Dengan demikian, Kurikulum Merdeka tidak hanya mendorong kebebasan belajar,
tetapi juga menegaskan bahwa pendidikan moral dan karakter adalah bagian tak
terpisahkan dari tujuan pendidikan nasional.
Sudah saatnya paradigma pendidikan diubah. Keberhasilan anak tidak semata-mata diukur dari angka dan ranking, melainkan dari keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan moral. Dengan demikian, pendidikan benar-benar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia.
.jpg)

إرسال تعليق