Kelulusan atau Pelarian Massal?



 (Anak-anak Merayakan Akhir Sekolah Seperti Narapidana Menemukan Lubang Tembok Penjara)

Tanggapan untuk tulisan Riswo Mulyadi

(https://www.infobanyumas.com/2026/05/pesta-kelulusan-dan-anak-anak-yang.html)

 

Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Setiap musim kelulusan, negeri ini seperti mengulang adegan yang sama dengan ekspresi yang sama pula: maklum.


Anak-anak SMA/SMK  konvoi di jalan. Knalpot meraung-raung seperti genderang perang. Seragam dicorat-coret. Jalan raya berubah menjadi panggung histeria kolektif. Video-video bertebaran di media sosial. Orang dewasa mengelus dada sambil tersenyum tipis:

“Namanya juga anak muda.”

 

Lalu sebagian penulis mencoba memahami itu sebagai gejolak psikologis remaja. Sebagai pencarian identitas. Sebagai kebutuhan eksistensi. Sebagai bentuk catharsis generasi yang sedang takut kehilangan masa mudanya.

Penjelasan itu tidak salah.

Tetapi mungkin terlalu lembut untuk sebuah kenyataan yang sesungguhnya keras.

 

Sebab saya justru melihat pesta kelulusan itu bukan sekadar ledakan emosi remaja.

Saya melihatnya sebagai bocoran paling jujur tentang gagalnya sekolah membangun hubungan sehat dengan murid-muridnya.

 

Mari kita jujur sekali saja.

Kalau sekolah benar-benar menjadi tempat bertumbuh yang menyenangkan, mengapa akhir dari perjalanan itu dirayakan seperti tahanan yang baru menemukan pintu keluar?


Mengapa ekspresi dominannya bukan haru, bukan syukur, bukan penghormatan terhadap ilmu melainkan kebisingan?

 

Mengapa begitu banyak anak merasa harus tancap gas, berteriak, ugal-ugalan, dan memenuhi jalan raya untuk mengatakan:

“Aku bebas!”

Bebas dari apa?

Dari pelajaran? Dari tugas? Dari tekanan? Dari seragam? Atau dari sistem pendidikan yang terlalu lama memperlakukan mereka sebagai objek administrasi?

 

Inilah ironi terbesar pendidikan kita.Sekolah begitu rajin berbicara tentang “pendidikan karakter”, tetapi gagal membaca karakter emosional muridnya sendiri.Anak-anak dijejali slogan:

profil pelajar,budaya positif,disiplin,moderasi,literasi,numerasi,pembelajaran mendalam,dan entah istilah apalagi yang lahir dari ruang rapat ber-AC.

 

Tetapi diam-diam banyak murid menjalani sekolah seperti pekerja shift di pabrik kurikulum.

Datang pagi. Duduk. Mencatat. Mengerjakan tugas. Diuji. Dibandingkan. Diranking. Lalu dipaksa percaya bahwa semua itu bernama “masa paling indah.”


Padahal bagi sebagian anak, sekolah justru ruang cemas yang panjang.Cemas nilai. Cemas gagal. Cemas dimarahi. Cemas tidak diterima. Cemas tidak punya biaya kuliah. Cemas menjadi pengangguran setelah lulus.


Lalu kita heran ketika kelulusan berubah menjadi ledakan liar?

Tidak.Itu bukan kejutan.

Itu akumulasi.Konvoi kelulusan sebenarnya bukan pesta. Ia lebih mirip ventilasi sosial.

Tempat anak-anak meluapkan sesuatu yang bertahun-tahun ditekan tetapi tidak pernah sungguh-sungguh didengar.

 

Dan yang paling ironis: orang dewasa sibuk menyalahkan anak, padahal anak-anak itu hanya sedang memantulkan wajah sistem yang membesarkan mereka.

 

Kita ini bangsa yang aneh.

Pidato pendidikan penuh kata “generasi emas.” Tetapi praktik pendidikannya sering membuat anak merasa seperti besi berkarat yang dipukul setiap hari demi angka-angka statistik.


Kita terlalu sibuk mengukur prestasi, tetapi lupa mengukur kesehatan jiwa murid.

Terlalu sibuk mengejar kelulusan, tetapi lupa menyiapkan kedewasaan.

Terlalu sibuk membuat aturan, tetapi lupa menciptakan makna.

Akibatnya sekolah menghasilkan lulusan yang mungkin hafal rumus, tetapi gagap menghadapi hidup.

 

Dan ketika kelulusan tiba, yang muncul bukan ketenangan seorang pembelajar yang siap memasuki dunia baru.

Yang muncul justru euforia seperti orang yang berhasil lolos dari tekanan panjang.Mungkin inilah pertanyaan paling menyakitkan yang jarang berani diajukan:Apakah anak-anak itu sebenarnya sedang merayakan kelulusan?Atau sedang merayakan keberhasilan meninggalkan sekolah?

 

Kalau jawabannya yang kedua, maka problemnya bukan pada konvoi.Problemnya ada pada kita semua.Pada sistem pendidikan yang terlalu sering membanggakan angka kelulusan, tetapi gagal membuat murid jatuh cinta pada proses belajar.


Dan barangkali di situlah ironi terbesar pendidikan Indonesia hari ini:Sekolah ingin melahirkan generasi emas, tetapi terlalu sering lupa bahwa emas tidak dibentuk dengan tekanan tanpa makna.


Generasi Emas dibentuk dari manusia-manusia muda yang merasa dihargai, didengar, dipahami, dan dituntun menjadi dewasa. Bukan sekadar dibuat kenyang dan tidak berpikir. Bukan sekadar diluluskan.


Ajibarang, 7 Mei 2026





Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama