Transformasi Paradigma Evaluasi: PGRI Cilongok Bekali Guru Teknik Penyusunan Soal Berbasis Tes Kemampuan Akademik



CILONGOK, INFO BANYUMAS – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Cilongok mengambil langkah strategis dalam meningkatkan mutu evaluasi pembelajaran di tingkat dasar. Langkah ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Penyusunan Soal Berbasis Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2026. Mengusung tema besar “Menciptakan Asesmen Berkualitas Melalui Workshop Penyusunan Soal Berbasis Tes Kemampuan Akademik (TKA)”, agenda yang dipusatkan di wilayah Cilongok ini diikuti oleh puluhan pendidik yang siap memperbarui kompetensi mereka. Melalui pelatihan intensif tersebut, para guru diharapkan tidak sekadar formalitas dalam menguji, melainkan mampu memproduksi instrumen penilaian standar, bermutu tinggi, serta adaptif terhadap dinamika regulasi pendidikan modern.


Pelaksanaan lokakarya ini mendapat respons positif dan partisipasi aktif dari berbagai satuan pendidikan di bawah naungan Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan (Korwilcam Dindik) Cilongok. Distribusi peserta dirancang secara merata agar dampak pelatihan dapat tereskalasi dengan cepat di setiap sekolah.


Ketua panitia pelaksana, Endah Mardiyatun W., S.Pd., memberikan rincian terkait demografi kepesertaan dalam laporan resminya. Ia memaparkan bahwa komposisi peserta workshop ini sengaja dirancang inklusif dengan melibatkan guru kelas, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), serta guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Lebih lanjut, Endah Mardiyatun W. menjelaskan bahwa keterwakilan guru kelas diatur dengan sistem delegasi satu orang perwakilan dari masing-masing sekolah yang ada di wilayah Korwilcam Dindik Cilongok. Sementara itu, untuk rumpun mata pelajaran PAI dan PJOK, utusan dipilih secara selektif melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) masing-masing. Secara akumulatif, agenda peningkatan kapasitas ini sukses menjaring 57 peserta yang siap mengimbaskan ilmu yang diperoleh ke instansi asal mereka.


Urgensi pelaksanaan workshop ini tidak terlepas dari pergeseran fungsi hasil asesmen dalam sistem seleksi pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan (Korwilcam Dindik) Cilongok, Roko Adi Nugroho, S.Pd., M.Pd., memberikan sudut pandang krusial mengenai posisi strategis asesmen pada era sekarang.


Dalam pidato sambutannya, Roko Adi Nugroho menegaskan bahwa fungsi asesmen di ruang lingkup persekolahan saat ini telah mengalami reorientasi peran yang sangat signifikan. Menurut analisisnya, nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang pada periode-periode sebelumnya kerap dipandang sebelah mata atau dikategorikan sebagai instrumen non-wajib, kini justru bertransformasi menjadi variabel penentu. Roko Adi Nugroho menjabarkan bahwa dalam realitas di lapangan, akumulasi nilai TKA saat ini menjadi salah satu pilar pertimbangan paling esensial dalam menyaring calon peserta didik baru yang akan masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) melalui jalur prestasi. Oleh karena itu, akurasi dan kualitas soal yang dibuat oleh guru di tingkat dasar memegang peranan kunci bagi masa depan akademik siswa.


Merespons fenomena tersebut, Korwilcam Dindik Cilongok mengingatkan para pendidik untuk mengubah pola pikir dalam memandang lembar kerja siswa. Evaluasi tidak boleh lagi sekadar menjadi alat ukur sepihak untuk menghakimi kemampuan anak.


“Sekarang sudah tidak main-main dengan asesmen. Pada kegiatan ini mari kita belajar bersama, mengoreksi, dan mengevaluasi di mana letak kekurangan kita dalam menyusun soal, sehingga nantinya dapat menghasilkan soal yang berkualitas. Soal yang kita buat juga harus menjadi bahan evaluasi bagi kita sebagai guru dalam melaksanakan pembelajaran, bukan serta-merta menyalahkan anak ketika mereka belum mampu menjawab soal,” tutur Roko Adi Nugroho dengan tegas.


Guna membedah aspek teknis teoretis hingga praktis, panitia menghadirkan pakar manajemen instrumen penilaian, M. Yusuf Setyadi, M.Pd., yang merupakan Kepala SD Negeri 2 Purwokerto Lor, Korwilcam Dindik Purwokerto Timur. Dalam sesi pemaparannya, M. Yusuf Setyadi menguliti secara mendalam anatomi dari Tes Kemampuan Akademik (TKA) itu sendiri.


M. Yusuf Setyadi menguraikan konsep dasar bahwa TKA merupakan sebentuk instrumen asesmen yang secara spesifik dirancang demi memetakan tiga domain utama siswa, yaitu kemampuan verbal, numerik, serta figuratife. Berdasarkan kajiannya, kehadiran TKA ini secara fundamental menggeser titik tekan proses pembelajaran konvensional yang selama ini terjebak pada metode hafalan tekstual. Ia menambahkan bahwa TKA menuntut siswa melompat ke level kognitif yang lebih tinggi, yakni kecakapan mengolah informasi, melakukan penalaran logis, menganalisis struktur masalah, hingga merumuskan solusi atas problem yang dihadapi.


Menurut pandangan pakar pendidikan tersebut, TKA membawa angin segar berupa perombakan pola pikir atau perubahan paradigma yang radikal dalam ekosistem pendidikan nasional. M. Yusuf Setyadi merefleksikan bahwa jika pada dekade sebelumnya kegiatan belajar mengajar sering kali mandek pada sirkuit mekanis berupa pola menghafal, mengingat, lalu menjawab, maka TKA mendobraknya dengan mengenalkan sekuens baru. Paradigma mutakhir yang diinjeksikan melalui prinsip TKA berfokus pada rangkaian proses memahami, menalar, dan memecahkan masalah secara komprehensif. Atas dasar itulah, ia mengimbau para guru untuk mulai mengabaikan pola pembuatan soal format lama dan beralih menyusun butir-butir pertanyaan yang menantang kedalaman berpikir serta kebermaknaan nalar siswa.


Lebih jauh, narasumber memetakan garis diferensiasi yang tegas antara karakteristik soal berbasis TKA dengan soal tradisional. M. Yusuf Setyadi menerangkan bahwa soal-soal TKA memiliki identitas khusus yang membedakannya secara diameteral dari evaluasi konvensional. Konstruksi soal TKA diwajibkan mengusung sifat kontekstual, bersandar pada stimulus yang kuat, berorientasi mengukur pisau penalaran, memiliki opsi pengecoh (distractor) yang berfungsi ilmiah dan logis, serta mustahil bisa ditakhlukkan siswa jika mereka hanya mengandalkan teknik hafalan buta. Struktur soal yang demikian secara otomatis memaksa dan menstimulasi peserta didik untuk melatih nalar kritis, membedah data informasi, dan mengambil keputusan berbasis logika yang valid.


Satu elemen krusial yang menyita perhatian penuh sepanjang jalannya lokakarya adalah urgensi pemanfaatan stimulus yang kontekstual sebagai fondasi utama sebelum butir pertanyaan ditulis. M. Yusuf Setyadi memosisikan stimulus sebagai instrumen vital yang mendasari proses kognitif anak sebelum mengeksekusi jawaban.


Narasumber mendefinisikan bahwa stimulus tersebut dapat dimanifestasikan dalam beragam bentuk kreatif, mulai dari paparan teks naratif, sajian gambar, penyajian tabel data, grafik tren, diagram alir, hingga visualisasi peristiwa nyata yang eksis di lingkungan sosial keseharian siswa.


“Stimulus bukan sekadar pelengkap soal. Stimulus adalah pijakan berpikir peserta didik. Dari stimulus itulah anak belajar memahami informasi, menghubungkan berbagai data, menganalisis, kemudian menggunakan penalarannya untuk menemukan jawaban,” urai M. Yusuf Setyadi secara rinci di hadapan para peserta.


M. Yusuf Setyadi menggarisbawahi bahwa kualitas dari stimulus yang dipilih guru berbanding lurus dengan mutu soal yang dihasilkan secara keseluruhan. Stimulus yang dirancang dengan matang dan kaya makna akan menjadi stimulan efektif bagi siswa dalam memicu kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Melalui pendekatan ini, sebuah asesmen tidak lagi terjebak pada fungsi klasikal yang sekadar mendata apa yang diketahui oleh siswa, melainkan naik kelas menjadi instrumen untuk menguji sejauh mana siswa mampu mengontekstualisasikan pengetahuan mereka guna mengurai kebuntuan masalah di dunia nyata.



Dalam tataran aplikatif di ruang kelas, narasumber membedah implementasi TKA ke dalam dua ranah mata pelajaran utama yang menjadi pilar akademik di sekolah dasar, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika.


Pada ranah kompetensi Bahasa Indonesia, M. Yusuf Setyadi memaparkan bahwa TKA memfokuskan bidikan evaluasinya pada empat sub-kemampuan esensial siswa, yaitu pemahaman tekstual yang akurat, kecakapan pemahaman inferensial, kemampuan melakukan evaluasi kritis terhadap bacaan, hingga tingkat apresiasi literasi. Penerapan skema ini membuat siswa tidak lagi sekadar dituntut untuk merangkum atau mencari informasi yang tertulis secara tersurat (explicit) di dalam lembar teks. Lebih dari itu, siswa digiring untuk mampu mengendus makna yang tersirat (implicit), memformulasikan kesimpulan mandiri yang valid, menimbang bobot kualitas isi teks, hingga memberikan ulasan maupun apresiasi objektif atas bahan bacaan yang disuguhkan oleh guru.


Sementara itu, pergeseran yang tidak kalah signifikan juga terjadi pada domain kompetensi Matematika. M. Yusuf Setyadi mengidentifikasi tiga lapis kemampuan yang menjadi parameter utama pengukuran dalam TKA, meliputi aspek pemahaman konsep dasar, kelancaran aplikasi formula, serta kekuatan penalaran matematis. Target capaiannya adalah siswa dituntut tidak sekadar hafal rumus di luar kepala, melainkan harus fasih memahami esensi konsep, terampil mengaplikasikannya ke dalam skenario kasus yang bervariasi, serta piawai menggunakan logika matematika untuk mengurai persoalan rumit. Melalui modifikasi ini, ketajaman analisis dan kekuatan nalar diposisikan sebagai target keterampilan paling prima yang wajib diakomodasi dan ditumbuhkan dalam setiap sesi pembelajaran matematika di kelas.


Melalui rangkaian kegiatan workshop yang padat dan terstruktur ini, para guru peserta tidak hanya dijejali dengan tumpukan teori seputar konsep makro TKA. Sepanjang agenda, mereka langsung diterjunkan dalam sesi klinis praktis untuk berlatih merancang, menyusun, membedah, dan merevisi instrumen penilaian modern yang adaptif terhadap standar evaluasi terbaru.


Tindak lanjut dari kegiatan ini diproyeksikan mampu mendongkrak kompetensi pedagogis dan profesionalitas guru secara berkesinambungan dalam merancang soal-soal bermutu tinggi. Dengan meningkatnya kapabilitas guru dalam menyusun alat ukur akademik, maka ekosistem pembelajaran dan sistem penilaian di internal sekolah dasar sewilayah Cilongok diharapkan dapat berjalan jauh lebih efektif, presisi, serta transformatif. Ujung dari investasi kompetensi guru ini tidak lain adalah demi melahirkan generasi penerus bangsa yang tidak sekadar pintar menghafal, tetapi tangguh dalam berpikir kritis, unggul dalam kreativitas, serta cakap sebagai problem solver di masa depan.


Kontributor: Laela Isna Maziatun

Post a Comment

أحدث أقدم