CILONGOK - Gemuruh tabuhan seni tradisional, barisan kirab budaya, serta semangat masyarakat menyatu mengawali pembukaan Festival Budaya Wong Tani II Desa Panusupan, Kecamatan Cilongok, Senin (29/6/2026). Festival yang akan berlangsung selama tujuh hari tersebut resmi dibuka sebagai ikhtiar bersama melestarikan budaya lokal sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mengusung semangat menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi, festival ini menghadirkan beragam kegiatan budaya, edukasi, permainan tradisional, hingga ruang promosi bagi produk-produk unggulan desa.
Rangkaian pembukaan diawali dengan doa bersama dan prosesi penyucian pusaka Desa Panusupan di Balai Desa Panusupan. Tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat tersebut dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, membawa keberkahan, serta memperkuat persatuan warga. Setelah prosesi adat selesai, peserta kirab budaya bergerak dari Balai Desa menuju Lapangan Desa Panusupan yang menjadi pusat pelaksanaan seluruh kegiatan festival. Sepanjang perjalanan, masyarakat memadati sisi jalan untuk menyaksikan iring-iringan peserta yang tampil dengan beragam kostum bernuansa budaya dan pertanian.
Kirab Budaya Wong Tani II diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMK/MA. Masing-masing kontingen menampilkan kreativitas melalui busana adat, miniatur alat pertanian, kesenian tradisional, hingga atraksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat agraris. “Semoga kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan setiap tahun sehingga menjadi warisan budaya yang membanggakan sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat,” ujar Penanggung Jawab Desa Panusupan, Tarwoto, saat memberikan sambutan pada pembukaan festival.
Menurut Tarwoto, Festival Budaya Wong Tani bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk komitmen Pemerintah Desa Panusupan bersama Pokdarwis Astagina dalam menjaga identitas budaya masyarakat. Di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, tradisi dan nilai-nilai lokal perlu diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan modernisasi. Karena itu, festival dikemas sebagai ruang pertemuan antara pelestarian budaya, pendidikan karakter, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, festival juga dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat. Selama tujuh hari pelaksanaan, berbagai pelaku UMKM lokal mendapatkan kesempatan memasarkan produk kuliner, kerajinan, hasil pertanian, hingga aneka produk kreatif kepada ribuan pengunjung yang diperkirakan hadir dari berbagai wilayah. Kehadiran stan-stan UMKM menjadi bagian penting dari festival karena budaya dan ekonomi dipandang sebagai dua unsur yang saling menguatkan dalam pembangunan desa berbasis potensi lokal.
Ketua Panitia Festival, Nofiaji, menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah semakin berkurangnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya dan permainan tradisional akibat tingginya intensitas penggunaan gawai. “Modernisasi tidak bisa kita hindari, tetapi budaya tidak boleh kita tinggalkan. Karena itu kami menghadirkan berbagai kegiatan yang mampu mempertemukan anak-anak dengan budaya secara menyenangkan. Harapan kami, mereka tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga mengenal jati diri dan warisan leluhurnya,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, panitia menghadirkan Simfoni Dromenan, sebuah ruang edukasi budaya yang akan digelar pada 1 Juli 2026. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal kembali berbagai permainan tradisional, kesenian rakyat, dan nilai-nilai kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan. Sementara itu, pada 3 Juli 2026 akan diselenggarakan Lomba Permainan Tradisional yang bertujuan membangkitkan kembali minat pelajar terhadap olahraga dan permainan warisan nenek moyang sekaligus menyediakan ruang ekspresi yang sehat di luar dunia digital.
Semarak kirab budaya juga tampak dari partisipasi aktif murid-murid SD Negeri 2 Panusupan. Dengan mengenakan kostum bertema pertanian, budaya, dan kehidupan pedesaan, mereka berjalan penuh semangat menyusuri rute kirab sambil menyapa masyarakat yang memadati sepanjang jalan. Kehadiran para siswa tidak hanya mempercantik jalannya pawai, tetapi juga menjadi simbol bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini melalui pengalaman langsung yang menyenangkan.
“Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk mengalami dan mencintai budayanya sendiri. Ketika mereka ikut kirab, mengenakan pakaian tradisional, dan mengenal permainan rakyat, mereka sedang belajar tentang identitas, kebersamaan, serta rasa bangga terhadap daerahnya. Inilah pendidikan karakter yang tumbuh dari kehidupan masyarakat,” tutur salah seorang guru pendamping SD Negeri 2 Panusupan.
Kekompakan juga ditunjukkan oleh para guru dan tenaga kependidikan SD Negeri 2 Panusupan yang turut mendampingi peserta didik selama kegiatan berlangsung. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam mendukung pelestarian budaya lokal. Kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, Pokdarwis Astagina, dan masyarakat menghadirkan suasana festival yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat nilai edukatif, sosial, dan budaya. Antusiasme warga yang memadati lapangan desa sejak hari pertama penyelenggaraan memperlihatkan bahwa Festival Budaya Wong Tani II telah menjadi milik bersama masyarakat Panusupan.
Melalui Festival Budaya Wong Tani II, Desa Panusupan kembali menegaskan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dikenang, melainkan kekuatan yang mampu menggerakkan masa depan. Tradisi yang dirawat melalui kirab budaya, doa bersama, penyucian pusaka, seni tradisional, dan permainan rakyat berpadu dengan geliat UMKM yang menghidupkan ekonomi desa. Dari Panusupan, lahir pesan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan kemajuan zaman. Sebaliknya, ketika budaya dijaga dan masyarakat bergerak bersama, tradisi akan menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun desa yang berdaya, generasi yang berkarakter, dan perekonomian yang semakin berkembang.
Kontributor: Laela Isna Maziatun
Posting Komentar