Di Tengah Pemangkasan Anggaran, Desa Lumbir Tetap Prioritaskan Bidang Pendidikan Khususnya Jenjang PAUD




LUMBIR, INFO BANYUMAS – Di tengah ruang fiskal desa yang semakin sempit, Pemerintah Desa Lumbir, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, memilih untuk tidak menggeser pendidikan dari daftar prioritas pembangunan. Komitmen itu diwujudkan melalui Pelatihan atau Bimbingan Teknis Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) bagi Pendidik PAUD Desa Lumbir, yang diikuti oleh 18 pendidik dengan suasana santai, komunikatif, namun tetap sarat substansi.


Kegiatan tersebut menjadi penegasan bahwa keterbatasan anggaran bukan alasan untuk menghentikan investasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di tengah berkurangnya kemampuan APBDes tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Pemerintah Desa Lumbir tetap mengalokasikan perhatian terhadap sektor pendidikan, khususnya penguatan kapasitas pendidik PAUD.


Kebijakan tersebut diambil di tengah tekanan anggaran desa yang disebut mengalami pengurangan signifikan akibat adanya pemangkasan anggaran untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih. Kondisi itu membuat pemerintah desa harus semakin cermat menentukan skala prioritas pembangunan agar kebutuhan strategis masyarakat tetap mendapatkan perhatian.


Dalam konteks pendidikan anak usia dini, peningkatan kompetensi pendidik dinilai menjadi investasi jangka panjang yang tidak boleh terhenti. Penyusunan KSP menjadi bagian penting karena dokumen tersebut menjadi pijakan satuan pendidikan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak, potensi lingkungan, serta kebutuhan masyarakat setempat.


Kepala Desa Lumbir, Suwarjo menyampaikan, keputusan mempertahankan pendidikan sebagai salah satu prioritas APBDes merupakan bentuk kesadaran bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik. Menurutnya, pembangunan manusia melalui pendidikan harus tetap berjalan meskipun pemerintah desa menghadapi keterbatasan sumber pembiayaan.


"Kami menyadari kondisi anggaran tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ruang gerak kami memang lebih terbatas. Namun, pendidikan tidak boleh ikut terpinggirkan. Kalau kita ingin membangun Desa Lumbir dalam jangka panjang, maka investasi pada pendidikan anak-anak dan peningkatan kualitas para pendidik harus tetap dijaga," tegasnya.


Pelatihan yang diikuti 18 pendidik PAUD itu kemudian dikemas dalam suasana yang cair dan komunikatif. Para peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi aktif berdiskusi, bertanya, menyampaikan pengalaman, serta membedah berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam menyusun dan mengembangkan KSP di satuan pendidikan masing-masing.




Hadir sebagai narasumber sekaligus pembimbing utama, Penilik Korwilcam Dindik Lumbir, Eko Adi Priyanto, S.Pd.SD., memberikan penguatan mengenai pentingnya KSP sebagai dokumen yang hidup dan benar-benar menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan. Penyusunan kurikulum, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada pemenuhan administrasi, tetapi harus mampu diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang bermakna bagi anak.


"KSP jangan hanya menjadi dokumen yang tersimpan rapi di lemari. Kurikulum harus hidup di ruang-ruang belajar, menjadi arah bagi guru dalam mendampingi anak. Karena itu, ketika pendidik menyusun KSP, yang harus dipikirkan bukan sekadar apa yang harus ditulis, tetapi bagaimana kurikulum itu benar-benar menjawab kebutuhan anak dan karakteristik satuan pendidikannya," ujarnya.


Menurut Penilik, dukungan pemerintah desa terhadap peningkatan kompetensi pendidik PAUD merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Kolaborasi antara pemerintah desa dan satuan pendidikan menjadi kekuatan penting untuk memastikan layanan PAUD terus berkembang, meskipun setiap wilayah memiliki tantangan dan keterbatasan yang berbeda.


Dari sebuah ruang pelatihan di Desa Lumbir, pesan tentang pentingnya pendidikan kembali menemukan maknanya. Di tengah angka-angka anggaran yang harus dipangkas dan berbagai kebutuhan pembangunan yang terus menunggu, 18 pendidik PAUD tetap duduk bersama, berdiskusi, dan belajar menyusun arah pendidikan anak-anak mereka. Sebab, ketika sebuah desa masih memilih untuk berinvestasi pada pendidikan di tengah keterbatasan, sesungguhnya desa itu sedang menanam benih masa depan yang mungkin baru akan dipetik bertahun-tahun kemudian.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama