KEMRANJEN - Sebanyak 231 siswa dari 33 sekolah dasar negeri dan swasta di Kecamatan Kemranjen ambil bagian dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 yang digelar Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Ngesti Sastra Kecamatan Kemranjen, Rabu (26/8/2026). Dipusatkan di kompleks SD Negeri Kebarongan, festival tersebut menjadi panggung bagi siswa untuk menunjukkan bakat, kreativitas, sekaligus meneguhkan kecintaan terhadap bahasa dan sastra Jawa sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa. Kegiatan tahunan itu mengusung tema “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”, yang menempatkan bahasa daerah bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sebagai kekayaan budaya yang perlu terus dirawat di tengah perubahan zaman.
Ketua K3S Ngesti Sastra Kecamatan Kemranjen, Marlan, menjelaskan bahwa FTBI merupakan agenda rutin yang memiliki dua misi sekaligus, yakni menjaring potensi peserta didik dan menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa serta budaya daerah sejak usia dini. Menurutnya, festival tersebut memberikan ruang yang luas kepada anak-anak untuk berani tampil, berkompetisi secara sehat, dan mengembangkan kemampuan mereka dalam bidang bahasa dan sastra Jawa. Lebih dari sekadar perlombaan, FTBI juga menjadi bagian dari pendidikan karakter karena peserta didik belajar tentang ketekunan, keberanian, kreativitas, serta penghargaan terhadap kebudayaan sendiri.
“FTBI menjadi wadah bagi peserta didik untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam bidang bahasa dan sastra Jawa, sekaligus memperkuat karakter melalui pelestarian budaya,” ujar Marlan.
Semangat pelestarian bahasa daerah semakin terlihat dari banyaknya cabang lomba yang disiapkan dalam FTBI 2026. Sebanyak tujuh cabang dipertandingkan, meliputi maca lan nulis aksara Jawa, sesorah, cerkak, ndongeng, ndagel ijen, nembang macapat, dan geguritan. Keragaman cabang tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik dengan berbagai karakter dan bakat untuk menemukan ruang ekspresinya masing-masing. Ada siswa yang menunjukkan ketelitian melalui aksara Jawa, keberanian berbicara melalui sesorah, kemampuan bercerita melalui ndongeng dan cerkak, hingga kepekaan seni melalui nembang macapat serta geguritan. Ketua Panitia FTBI 2026, Iftahul Aman, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan memang dirancang untuk memberikan ruang kepada siswa agar dapat mengekspresikan minat, bakat, dan kreativitas mereka dalam bidang bahasa serta sastra Jawa.
Pelaksanaan FTBI tahun ini juga mendapat perhatian dari Korwilcam Dindik Kecamatan Kemranjen. Koordinator Korwilcam Dindik Kemranjen, Langgeng Basuki, hadir dalam upacara pembukaan dan menekankan pentingnya penguatan literasi bahasa Jawa di lingkungan sekolah. Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis bahasa Jawa perlu terus dikembangkan agar generasi muda tidak kehilangan keterhubungan dengan bahasa dan budaya daerahnya sendiri. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya penggunaan berbagai bahasa dalam kehidupan sehari-hari, sekolah memiliki peran strategis untuk menjaga agar bahasa Jawa tetap hidup, dipahami, dan digunakan secara tepat oleh peserta didik.
“Literasi membaca dan menulis bahasa Jawa hendaknya terus dilestarikan dan dikembangkan di sekolah masing-masing agar tidak tergerus perkembangan zaman,” pesan Langgeng Basuki dalam amanatnya.
Antusiasme ratusan peserta menjadi gambaran bahwa bahasa Jawa masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan generasi muda ketika diperkenalkan melalui pendekatan yang kreatif dan kompetitif. Para siswa tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga berani menunjukkan kemampuan di hadapan peserta lain, guru pendamping, dan dewan penilai. Proses tersebut menjadi pengalaman berharga dalam membangun rasa percaya diri sekaligus mengajarkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Di sisi lain, tema FTBI 2026 juga memberikan pesan yang lebih luas bahwa kecintaan terhadap bahasa daerah tidak berarti mengesampingkan bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Ketiganya dapat berjalan beriringan sesuai fungsi dan kebutuhan, sehingga peserta didik memiliki akar budaya yang kuat sekaligus kesiapan menghadapi dunia yang semakin terbuka.
Penyelenggaraan FTBI Kecamatan Kemranjen juga diperkuat melalui kolaborasi antara Korwilcam Dindik Kemranjen dan Korwilcam Dindik Sumpiuh. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun proses seleksi dan pembinaan peserta secara berkelanjutan agar siswa-siswa terbaik dapat melangkah ke ajang FTBI pada tingkat berikutnya. Bagi sekolah, festival ini sekaligus menjadi momentum untuk memetakan potensi peserta didik yang memiliki kemampuan khusus dalam bahasa dan sastra Jawa. Bagi para guru, kegiatan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus inspirasi untuk memperkuat pembelajaran bahasa daerah di sekolah masing-masing. Dengan demikian, hasil FTBI tidak berhenti pada pengumuman pemenang, tetapi diharapkan berlanjut melalui pembinaan sehingga bakat yang telah muncul dapat berkembang secara optimal.
FTBI 2026 akhirnya bukan sekadar perhelatan kompetisi antarsekolah, melainkan sebuah panggung kebudayaan yang mempertemukan bakat, pendidikan, dan semangat pelestarian bahasa daerah. Dari aksara Jawa yang ditulis dengan penuh ketelitian, cerita yang dituturkan dengan percaya diri, tembang yang dilantunkan dengan penghayatan, hingga geguritan yang menyuarakan kreativitas anak-anak, semuanya menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup apabila diberi ruang untuk tumbuh di tangan generasi penerus. K3S Ngesti Sastra Kemranjen bersama jajaran pendidikan dan sekolah peserta telah menghadirkan pesan kuat bahwa menjaga bahasa daerah merupakan bagian dari menjaga jati diri. Bahasa boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi akar budaya tidak boleh hilang. Melalui FTBI, generasi muda Kemranjen diajak mengenal, mencintai, dan melestarikan bahasa Jawa sembari tetap menatap masa depan dengan percaya diri.
Kontributor: Aris Sumbono
Posting Komentar