Merdeka: Antara Perayaan dan Penghayatan

 


Merdeka: Antara Perayaan dan Penghayatan

Oleh: Riswo Mulyadi

 

Barangkali kita terlalu sering merayakan kemerdekaan sebagai sebuah kata benda.

Kita kibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, mengikuti upacara, lalu pulang membawa perasaan lega: seolah kemerdekaan adalah sesuatu yang telah selesai pada 17 Agustus 1945.

Padahal sejarah tidak pernah benar-benar selesai.

Ia hanya berganti pakaian.


Hari ini ia mungkin tidak datang dengan senapan dan dentuman meriam. Ia datang dalam bentuk yang lebih halus: harga yang tak terjangkau, pendidikan yang tak merata, hukum yang terasa jauh, pekerjaan yang tak selalu menghadirkan martabat, dan kesempatan yang kadang lebih mudah ditemukan oleh mereka yang telah memiliki pintu.


Kita menyebut diri merdeka, tetapi masih ada orang yang setiap pagi bangun dengan kecemasan tentang makan malam.

Di situlah paradoks kemerdekaan berdiri diam-diam di tengah pesta.

Kita tertawa di jalan, sementara sebagian orang menghitung utang di kamar.

Kita berebut hadiah dalam lomba panjat pinang, sementara di tempat lain orang memanjat tangga kehidupan dengan tangan kosong.


Kita meneriakkan “merdeka” dengan suara paling keras, tetapi kadang masih takut berkata benar ketika kebenaran menyentuh kepentingan sendiri.

Barangkali kemerdekaan memang bukan perkara seberapa keras kita berteriak.

Barangkali ia justru terdengar dari hal-hal yang nyaris tak terdengar.


Dari guru yang tetap masuk kelas meski penghargaan terhadap profesinya belum sebanding dengan pengabdiannya. Dari petani yang menanam meski harga panen tak selalu berpihak. Dari pedagang yang memilih tidak mengurangi timbangan. Dari orang tua yang menyisihkan sedikit penghasilan agar anaknya tetap sekolah.


Di sana kemerdekaan bekerja dalam diam.

Ia tidak membutuhkan panggung.

Tidak membutuhkan pengeras suara.

Tidak membutuhkan spanduk.

Sebab kemerdekaan yang paling penting mungkin bukan kemerdekaan dari penjajah, melainkan kemerdekaan dari keserakahan kita sendiri.

Bebas dari keinginan memiliki semuanya.

Bebas dari kebiasaan mengambil yang bukan hak.

Bebas dari rasa takut kehilangan jabatan.

Bebas dari kesenangan melihat orang lain jatuh hanya karena kita ingin berdiri lebih tinggi.

Kita sering mengira tanggung jawab adalah beban yang diletakkan di pundak setelah memperoleh kebebasan.

Padahal mungkin justru sebaliknya.

Tanggung jawab adalah harga yang membuat kebebasan tidak berubah menjadi kekacauan.

Kita boleh berbicara, tetapi kata-kata kita tidak semestinya menjadi batu untuk melukai orang lain.

Kita boleh berbeda, tetapi perbedaan tidak perlu dijadikan pagar.

Kita boleh mengkritik negeri ini, bahkan dengan suara keras. Sebab mencintai Indonesia tidak berarti harus selalu memujinya.


Ada cinta yang justru lahir dari keberanian mengatakan:

“Negeri ini masih punya banyak pekerjaan rumah.”

Dan mungkin itulah bentuk cinta yang lebih dewasa.

Sebab bangsa yang hanya pandai memuji dirinya sendiri akan mudah tertidur di depan cermin.

Setiap Agustus, kita kembali bertanya: apa yang telah kita warisi dari para pendahulu?

Tanah air, tentu.

Bendera.

Bahasa.

Sebuah negara.

Tetapi mungkin ada satu warisan yang jauh lebih berat: kesempatan untuk menyelesaikan cita-cita yang dahulu belum sempat mereka tuntaskan.

Mereka merebut kemerdekaan.

Kita mendapat giliran merawat maknanya.

Dan pekerjaan itu tidak selalu heroik.

Kadang ia sesederhana tidak berbohong ketika berbohong lebih menguntungkan.

Kadang sesunyi mengembalikan sesuatu yang bukan milik kita.

Kadang sesulit menolong orang lain ketika kita sendiri sedang kekurangan.

Kadang hanya berupa keberanian untuk tidak ikut-ikutan ketika semua orang sedang salah.

Kemerdekaan ternyata tidak selalu membutuhkan pahlawan.

Ia membutuhkan manusia biasa yang bersedia melakukan hal yang benar ketika tidak ada kamera.

Maka mungkin pada peringatan kemerdekaan tahun ini, kita tidak perlu terlalu cepat merasa telah sampai.

Biarkan pesta tetap berlangsung.

Biarkan anak-anak berlari.

Biarkan merah putih berkibar.

Biarkan kita tertawa dan berteriak sekeras-kerasnya:


MERDEKA!

Tetapi setelah suara itu hilang diterbangkan angin, barangkali ada satu pertanyaan yang layak kita bawa pulang:

Jika negeri ini benar-benar merdeka, mengapa masih ada begitu banyak manusia yang belum merasa bebas di dalamnya?

Pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada seribu spanduk.

Sebab kemerdekaan bukan monumen yang selesai dibangun.

Ia adalah rumah yang setiap hari harus diperbaiki.

Dan kita semua tinggal di dalamnya.

Maka jangan hanya bertanya apakah Indonesia telah merdeka.

Tanyakan pula kepada diri sendiri:

jangan-jangan kemerdekaan sedang menunggu kita untuk menjadi manusia yang lebih merdeka.


Karang Anjog, 22 Agustus 2026

 


Tentang Penulis:


Riswo Mulyadi, adalah seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi serta geguritan banyumasan. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama