KESAKTIAN PANCASILA DAN UJIAN MENJADI MANUSIA : Pancasila barangkali tidak paling sakti ketika ia diteriakkan dalam upacara, melainkan ketika seseorang memilih tetap manusiawi di hadapan orang yang dibencinya.

 


Pancasila barangkali tidak paling sakti ketika ia diteriakkan dalam upacara, melainkan ketika seseorang memilih tetap manusiawi di hadapan orang yang dibencinya.

Oleh: Riswo Mulyadi

 

Ada masa ketika sebuah nama dapat menjadi hukuman.

Nama itu tidak lagi sekadar penanda seseorang. Ia berubah menjadi tanda yang membuat pintu-pintu tertutup, percakapan terhenti, dan jarak tumbuh di antara manusia. Seseorang dapat kehilangan kepercayaan bukan karena apa yang dilakukannya, melainkan karena label yang dilekatkan kepadanya.


Di situlah sejarah memperlihatkan wajahnya yang paling getir. Ketika ketakutan menguasai pikiran, manusia sering kali tidak lagi melihat manusia lain sebagai pribadi. Yang terlihat hanya kelompok, cap, identitas, atau musuh yang harus dijauhi.


Kita mengenal berbagai luka semacam itu dalam perjalanan bangsa ini.

Tetapi barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan semata-mata apa yang terjadi pada masa lalu. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: apa yang telah kita pelajari dari semua itu?


Di sinilah Pancasila memperoleh maknanya yang lebih dalam.

Selama ini kesaktian Pancasila sering dibicarakan dalam pengertian yang historis dan politis: bagaimana lima sila itu tetap bertahan melewati pergolakan zaman. Itu bagian dari sejarah yang penting untuk dipahami. Namun ada pengertian lain yang tak kalah penting, bahkan mungkin lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Pancasila menjadi sakti ketika ia sanggup menjaga manusia agar tidak kehilangan kemanusiaannya.

Sebab manusia paling mudah menjadi manusia ketika keadaan baik-baik saja. Yang sulit ialah tetap menjadi manusia ketika keadaan memberi kita alasan untuk membenci.

 

SEJARAH, INGATAN, DAN KEMANUSIAAN

Sejarah adalah ingatan sebuah bangsa. Tetapi ingatan dapat menjadi dua hal: cahaya yang menerangi atau bara yang terus disimpan di bawah abu.


Karena itu, mengenang masa lalu tidak cukup hanya dengan bertanya siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita juga perlu bertanya mengapa manusia pada suatu zaman dapat begitu mudah kehilangan rasa kemanusiaannya.


Pertanyaan semacam itu membawa kita kepada wilayah yang lebih dalam daripada sekadar pertengkaran tafsir sejarah.


Sejarah boleh diperdebatkan. Dokumen boleh diperiksa. Kesaksian boleh dibandingkan. Narasi boleh dikritisi.


Tetapi penderitaan manusia jangan sampai dihilangkan dari ingatan.

Sebab ketika sejarah hanya dipakai untuk mencari alasan membenci, sejarah berhenti menjadi guru. Ia berubah menjadi senjata.


Barangkali di situlah Pancasila seharusnya bekerja: bukan menghapus perbedaan tafsir, melainkan menjaga agar perbedaan tafsir tidak berubah menjadi alasan untuk menghilangkan martabat manusia.


Pancasila bukan sekadar lima kalimat yang berdiri di dinding kelas, ruang sidang, gedung pemerintahan, atau buku pelajaran. Ia adalah semacam kompas moral yang baru berarti ketika digunakan untuk menentukan arah dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Dan kehidupan yang sesungguhnya jarang sederhana.

 

“Pancasila tidak diuji ketika semua orang sepakat. Ia diuji ketika kita diberi alasan untuk membenci.”

 

KETIKA KETUHANAN MENUNTUT KERENDAHAN HATI

Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan.

Tetapi Ketuhanan yang tidak melahirkan kerendahan hati mudah berubah menjadi kesombongan atas nama Tuhan.


Ada manusia yang merasa paling dekat dengan kebenaran hanya karena ia merasa memiliki Tuhan. Dari sana lahir godaan untuk memandang orang lain lebih rendah, kurang suci, kurang benar, bahkan tidak layak didengar.


Padahal kesadaran ketuhanan semestinya membawa manusia pada kesadaran tentang keterbatasan dirinya.


Di hadapan Yang Mahabesar, manusia seharusnya belajar merundukkan ego.


Karena itu, Ketuhanan tidak dapat dipisahkan dari kemanusiaan. Keyakinan kepada Tuhan semestinya membuat manusia semakin berhati-hati ketika hendak menghakimi sesamanya.


Sebab mungkin saja seseorang merasa sedang membela Tuhan, padahal yang sedang dibelanya hanyalah kesombongan dirinya sendiri.

 

KEMANUSIAAN DI HADAPAN ORANG YANG DIBENCI

Sila kedua menghadapkan kita pada persoalan yang lebih sulit: kemanusiaan.

Mencintai manusia yang kita sukai tidaklah terlalu sulit. Ujian kemanusiaan justru datang ketika yang berhadapan dengan kita adalah orang yang kita anggap salah, orang yang berbeda, bahkan orang yang kita benci.


Di sanalah kualitas sebuah masyarakat terlihat.

Apakah kita masih sanggup melihat wajah manusia di balik kesalahan seseorang?

Apakah kita mampu menegakkan hukum tanpa kehilangan belas kasih?

Apakah kita dapat menuntut pertanggungjawaban tanpa mengubah seseorang menjadi sekadar label kesalahannya?


Kemanusiaan tidak berarti membenarkan kesalahan. Kemanusiaan justru mengharuskan kita berani menyebut kesalahan sebagai kesalahan, tetapi sekaligus menolak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk merampas martabat manusia.

Di sinilah keadilan dan kemanusiaan seharusnya berjalan bersama.

 

PERSATUAN BUKAN KESERAGAMAN

Persatuan pun sering kita pahami secara keliru.

Kita kadang mengira persatuan berarti keseragaman. Seolah bangsa yang bersatu adalah bangsa yang semua warganya harus berpikir dengan cara yang sama.


Padahal Indonesia dibangun bukan dari kesamaan.

Ia tumbuh dari perbedaan.

Bahasa berbeda, adat berbeda, keyakinan berbeda, cara memandang kehidupan berbeda. Bahkan cara membaca sejarah pun tidak selalu sama.


Persatuan bukan pekerjaan menghapus perbedaan. Persatuan adalah kemampuan untuk hidup bersama di tengah perbedaan.


Karena itu, masyarakat yang seluruh anggotanya selalu sepakat belum tentu masyarakat yang paling bersatu. Bisa jadi ia hanya masyarakat yang tidak lagi memberi ruang bagi perbedaan.

Persatuan yang matang bukanlah keseragaman.

Ia adalah kesediaan untuk tetap duduk satu meja meskipun kita tidak selalu memiliki pandangan yang sama.

 

KERAKYATAN DAN KEBIJAKSANAAN

Begitu pula dengan kerakyatan.

Demokrasi tidak selesai pada saat suara dihitung. Demokrasi justru mulai diuji setelah suara dihitung.

Apa yang dilakukan oleh mereka yang menang terhadap mereka yang kalah?

Apakah yang kalah masih dianggap bagian dari bangsa yang sama?

Apakah suara minoritas tetap didengar?

Apakah musyawarah sungguh-sungguh menjadi ruang mencari kebijaksanaan, atau sekadar panggung untuk memenangkan kehendak?

Kerakyatan membutuhkan lebih dari sekadar angka.

Ia membutuhkan kesediaan mendengar.

Membutuhkan kesanggupan menahan ego.

Membutuhkan kebijaksanaan untuk memahami bahwa kebenaran tidak selalu identik dengan jumlah orang yang berada di pihak kita.

Dalam kehidupan bersama, kemampuan untuk mengatakan “mungkin saya keliru” sering kali lebih berharga daripada kemampuan memenangkan perdebatan.


KEADILAN: UJIAN YANG PALING NYATA

Dan kemudian keadilan sosial.

Barangkali inilah sila yang paling mudah diuji oleh kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu menunggu peristiwa besar.

Lihatlah mereka yang hidup di pinggir.

Petani yang menggantungkan hidup pada musim. Buruh yang menjual tenaga dari pagi hingga petang. Pedagang kecil yang setiap hari menghitung keuntungan dengan teliti. Anak-anak yang tumbuh dengan kesempatan pendidikan yang tidak selalu sama.


Di sana Pancasila menemukan wajahnya yang konkret.

Keadilan sosial bukan terutama perkara seberapa indah ia ditulis dalam dokumen negara. Ia adalah pengalaman manusia ketika berhadapan dengan kehidupan.

Apakah hukum terasa adil?

Apakah pendidikan membuka jalan?

Apakah negara hadir ketika seseorang berada dalam keadaan paling lemah?

Pancasila menjadi bermakna ketika orang kecil dapat merasakan bahwa negeri ini juga rumahnya.

 

PANCASILA DI LAYAR TELEPON

Hari ini medan ujian Pancasila tidak hanya berada di jalan, kantor pemerintahan, sekolah, atau ruang politik.

Ia juga berada di layar telepon genggam kita.

Satu kalimat dapat melukai ribuan orang. Satu tuduhan dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya. Satu potongan video dapat membentuk penghakiman sebelum orang mengetahui seluruh cerita.

Di dunia digital, jari sering bergerak lebih cepat daripada akal sehat.

Karena itu, menghidupkan Pancasila pada zaman ini barangkali berarti sesuatu yang sangat sederhana: berhenti sejenak sebelum membagikan, menuduh, menghina, dan menghakimi.

Menahan diri menjadi bentuk kewargaan yang penting.

Tidak semua yang kita ketahui harus segera kita sebarkan.

Tidak semua yang membuat kita marah harus kita jadikan alasan untuk membenci.

Tidak semua perbedaan harus dijadikan permusuhan.

Di tengah kebisingan zaman, kemampuan untuk menahan diri justru dapat menjadi bentuk keberanian.

 

KESAKTIAN YANG TIDAK BERISIK

Mungkin karena itu kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang “kesaktian” Pancasila.

Kesaktian bukan berarti Pancasila memiliki kekuatan magis yang bekerja dengan sendirinya.

Pancasila tidak akan hidup hanya karena diucapkan.

Ia tidak akan menjadi luhur hanya karena dipasang di dinding.

Ia tidak akan menjadi sakti hanya karena setiap tahun kita memperingatinya.

Pancasila hidup melalui manusia.

Melalui keputusan-keputusan kecil yang sering tidak masuk berita.

Ketika seseorang memilih tidak membalas penghinaan.

Ketika seorang guru memperlakukan anak miskin dengan penghormatan yang sama seperti anak orang berada.

Ketika seorang pejabat tidak menggunakan kekuasaan untuk mempermalukan mereka yang berbeda.

Ketika tetangga tetap membuka pintu meski pilihan mereka tidak sama.

Ketika seseorang menolak ikut membenci hanya karena seluruh kerumunan sedang membenci.

Di situlah Pancasila bekerja.

Diam-diam.

Tidak heroik.

Tidak selalu mendapat tepuk tangan.

Tetapi justru karena itu ia menjadi penting.

 

JANGAN WARISKAN RACUN

Kita perlu mengajarkan sejarah kepada generasi berikutnya.

Tetapi jangan wariskan kepada mereka racun yang tidak mereka buat.

Anak-anak perlu mengetahui bahwa bangsa ini pernah mengalami konflik, kekerasan, ketakutan, dan luka. Mereka perlu mengetahui bagaimana sebuah masyarakat dapat terpecah ketika prasangka mengalahkan kemanusiaan.


Namun pengetahuan sejarah semestinya tidak membuat generasi baru sibuk mencari musuh baru.

Sejarah seharusnya membuat kita lebih dewasa, bukan lebih dendam.

Mengingat bukan berarti membalas.

Mengakui luka bukan berarti memelihara kebencian.

Justru karena kita mengetahui bagaimana kebencian dapat menghancurkan manusia, kita mempunyai alasan lebih kuat untuk tidak mengulanginya.

 

KESAKTIAN ITU BERNAMA MENAHAN DIRI

Maka pertanyaan tentang kesaktian Pancasila sesungguhnya dapat dibalik.

Bukan lagi:

Seberapa sakti Pancasila?

Melainkan:

Seberapa sanggup manusia Indonesia menghidupkan Pancasila ketika keadaan justru mendorongnya untuk mengingkari nilai-nilai itu?

Pancasila tidak terutama diuji ketika kita berdiri tegak dalam upacara dan mengucapkan lima sila bersama-sama.

Ia diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda.

Ketika kita memiliki kuasa untuk membalas.

Ketika massa memberi kita keberanian untuk menghina.

Ketika kebencian menawarkan jalan yang lebih mudah.

Ketika kita dapat memilih menjadi bagian dari kerumunan atau berdiri sendirian bersama suara hati.

Pada saat itulah tidak ada slogan yang cukup.

Tidak ada seragam.

Tidak ada hafalan.

Yang tersisa hanya manusia dan keputusan moralnya.

Mungkin di sanalah kesaktian Pancasila menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling berat:

“Ketika kita diberi alasan untuk tidak melihat manusia sebagai manusia, kita tetap memilih untuk melihatnya demikian.”

Jika suatu hari kita gagal melakukan itu, barangkali bukan Pancasila yang kehilangan kesaktiannya.

Kitalah yang telah berhenti menghidupkannya.



 


Tentang Penulis:


Riswo Mulyadi, adalah seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi serta geguritan banyumasan. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama