Menuju 7 Bintang FTBI! Monitoring Dongeng di SDN 1 Ciarus Wangon Matangkan Langkah Peserta




WANGON – Persiapan peserta lomba mendongeng dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Korwilcam Dindik Wangon terus dimatangkan. Selasa (8/9/2026), tim monitoring FTBI melakukan pemantauan latihan peserta di SDN 1 Ciarus, Korwilcam Dindik Wangon, untuk memastikan kesiapan penampilan sebelum berlaga di tingkat Kabupaten. Monitoring tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan peserta menuju target tujuh bintang FTBI tingkat Kabupaten Banyumas hingga diharapkan dapat berlanjut ke tingkat provinsi.


Kegiatan monitoring mempertemukan tim monitoring FTBI, peserta lomba, serta pembina yang selama ini mendampingi proses latihan. Pemantauan dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek penampilan mendongeng, mulai dari penguasaan cerita, cara bertutur, penghayatan tokoh, hingga penggunaan bahasa Banyumas yang tepat. Peserta juga mendapatkan evaluasi secara langsung agar setiap kekurangan yang masih terlihat selama latihan dapat segera diperbaiki. Dengan demikian, latihan tidak hanya berorientasi pada hafalan cerita, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemampuan peserta dalam menyampaikan cerita secara hidup, jelas, dan sesuai karakter bahasa daerah.


“Kami memberikan apresiasi kepada peserta yang sudah berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik. Yang perlu lebih diperhatikan adalah aksen atau logat yang benar dalam tutur kata bahasa Banyumas, serta kejelasan narator ketika membawakan setiap tokoh dalam cerita,” ujar Endang Turningsin, S.Pd., tim monitoring FTBI Korwilcam Dindik Wangon. 


Menurutnya, penggunaan aksen dan logat yang tepat menjadi salah satu unsur penting dalam lomba mendongeng berbasis bahasa daerah. Peserta tidak cukup hanya mampu menghafalkan naskah, tetapi juga perlu menghadirkan karakter bahasa Banyumas melalui intonasi, ekspresi, dan cara bertutur yang alami sehingga cerita dapat diterima dengan baik oleh penonton maupun dewan juri.


Proses evaluasi tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengetahui bagian penampilan yang masih perlu diperkuat. Dalam mendongeng, kemampuan membedakan suara dan karakter setiap tokoh menjadi bagian yang tidak kalah penting karena dapat membuat cerita lebih menarik dan mudah dipahami. Selain itu, narator harus mampu menjaga alur cerita agar tidak terputus ketika berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Masukan yang diberikan tim monitoring diharapkan menjadi bahan latihan lanjutan bagi peserta dan pembina untuk memperbaiki detail penampilan sebelum hari perlombaan tiba.


“Terima kasih atas masukan dari tim monitoring. Semua catatan yang diberikan akan langsung kami tindaklanjuti agar persiapan peserta bisa lebih maksimal,” ungkap Irwan Nudin, S.Pd., Kepala SDN 1 Ciarus. 


Dukungan sekolah menjadi bagian penting dalam proses persiapan tersebut. Dengan adanya evaluasi dari tim monitoring, pembina memperoleh gambaran lebih jelas mengenai aspek yang harus diperbaiki, sementara peserta mendapatkan arahan untuk meningkatkan kualitas penampilan. Kolaborasi antara sekolah, pembina, dan tim monitoring diharapkan mampu menciptakan proses pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.


Bagi peserta, monitoring bukan sekadar kegiatan penilaian, melainkan bagian dari perjalanan menuju penampilan terbaik. Setiap koreksi terhadap logat, intonasi, ekspresi, maupun karakter tokoh menjadi bekal untuk tampil lebih percaya diri. Proses tersebut sekaligus mengajarkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan, tetapi membutuhkan latihan berulang, keberanian menerima masukan, serta kemauan memperbaiki kekurangan. Semangat untuk membawa bahasa dan budaya Banyumas melalui seni mendongeng menjadi motivasi tersendiri bagi peserta dalam menjalani setiap tahapan persiapan.


“Harapannya, melalui pembinaan dan monitoring ini, peserta semakin siap memberikan penampilan terbaik dan mampu meraih hasil yang membanggakan, sehingga dapat melangkah dari tingkat Kabupaten Banyumas sampai tingkat provinsi,” menjadi harapan yang mengiringi persiapan FTBI Wangon. 


Dari SDN 1 Ciarus, proses menuju panggung kompetisi terus dibangun melalui latihan dan evaluasi. Tujuh bintang FTBI yang menjadi target bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang keberanian anak-anak menghidupkan kembali bahasa ibu melalui cerita. Sebab, ketika sebuah cerita disampaikan dengan logat yang tepat, karakter yang kuat, dan penuh percaya diri, di sanalah bahasa Banyumas menemukan ruang untuk terus hidup di tengah generasi muda.


Kontributor: Iqbal

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama