DARMAKRADENAN, INFO BANYUMAS – Sinar matahari pagi yang hangat menyapa pelataran Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Darmakradenan pada Jumat (30/1/2026), menjadi saksi bisu kekhusyukan ratusan siswa dalam membasuh jiwa melalui rangkaian ibadah kolektif. Seluruh peserta didik, guru, hingga tenaga kependidikan berkumpul dengan satu tujuan mulia: melaksanakan Sholat Duha berjamaah, pembacaan Asmaul Husna, serta lantunan Sholawat Nariyah sebagai pilar utama program penguatan karakter religius sekolah.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB ini bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan sebuah manifestasi nyata dari visi sekolah dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual. Pihak sekolah memandang bahwa di tengah gempuran arus digitalisasi yang masif, pembiasaan ibadah sejak dini adalah "rem" sekaligus "kompas" bagi moralitas anak bangsa.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian integral dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang dirancang secara sistematis untuk membentuk karakter religius peserta didik. Melalui program ini, sekolah berupaya keras menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT secara konkret. Guru-guru di SDN 1 Darmakradenan meyakini bahwa dengan membiasakan peserta didik untuk beribadah di pagi hari, akan muncul sikap disiplin, tanggung jawab, dan akhlakul karimah yang secara otomatis tercermin dalam perilaku mereka, baik di dalam kelas maupun di kehidupan bermasyarakat.
Lebih lanjut, narasumber internal sekolah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berfungsi sebagai sarana untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang sejuk dan harmonis. Dengan melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari penjaga sekolah hingga kepala sekolah, tercipta sebuah keteladanan yang nyata. Para siswa tidak hanya diperintahkan untuk beribadah, tetapi diajak bersama-sama merasakan kedamaian dalam lantunan doa, sehingga lingkungan religius yang dicita-citakan dapat tumbuh secara organik dari hati setiap individu.
Prosesi diawali dengan pengambilan air wudhu yang tertib oleh para siswa. Setelah saf-saf terbentuk rapi di aula dan selasar sekolah yang telah disulap menjadi tempat sujud raksasa, gema takbir memulai ibadah Sholat Duha. Suasana mendadak hening, hanya terdengar desir angin dan suara imam yang memimpin jalannya sholat dengan khidmat.
Pasca sholat, suasana semakin syahdu saat bait-bait Asmaul Husna mulai dilantunkan. Nama-nama indah Allah tersebut menggema, memecah keheningan pagi di desa Darmakradenan. Tak berhenti di situ, Sholawat Nariyah yang dipimpin oleh salah satu guru agama senior menjadi penutup rangkaian dzikir, membawa pesan cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW sekaligus permohonan agar segala kesulitan hidup diberikan kemudahan oleh Sang Pencipta.
Seorang guru yang menjadi motor penggerak kegiatan ini, Bapak Wahyudin, S.Pd.SD., memberikan pernyataannya mengenai urgensi kegiatan ini.
"Kami percaya bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya diajarkan melalui teori di papan tulis atau buku teks. Karakter adalah soal rasa dan kebiasaan. Dengan mengajak anak-anak bersujud di waktu Duha dan memuji nama Allah melalui Asmaul Husna setiap Jumat, kita sedang menanamkan benih ketenangan batin. Anak yang terbiasa memulai harinya dengan mengingat Tuhan cenderung memiliki kontrol emosi yang lebih baik, lebih menghormati guru, dan lebih peduli terhadap sesama temannya. Inilah investasi jangka panjang kami untuk masa depan mereka," ujar Ahmad Fauzi dengan nada penuh keyakinan.
Dampak dari pembiasaan ini mulai dirasakan oleh para orang tua dan tenaga pendidik. Kedisiplinan siswa dilaporkan meningkat secara signifikan sejak program ini diintensifkan. Siswa menjadi lebih tepat waktu hadir di sekolah karena tidak ingin tertinggal momen ibadah bersama. Selain itu, tingkat perundungan (bullying) di sekolah juga menunjukkan tren menurun, seiring dengan seringnya diingatkan nilai-nilai kasih sayang dalam setiap sesi ceramah singkat pasca sholat.
Kepala Sekolah SDN 1 Darmakradenan, Ibu Jumiati, S.Pd.SD., yang turut serta bersimpuh di antara para siswa, menekankan bahwa kegiatan ini adalah bentuk tanggung jawab moral lembaga pendidikan kepada orang tua siswa.
"Orang tua menitipkan anak-anak mereka kepada kami bukan hanya untuk pintar berhitung atau membaca, tetapi untuk menjadi manusia yang baik. Sholat Duha dan pembacaan sholawat ini adalah 'nutrisi' bagi jiwa mereka. Kami ingin SDN 1 Darmakradenan dikenal sebagai sekolah yang seimbang antara prestasi akademik dan kekuatan spiritual. Melihat anak-anak kami begitu khusyuk dan penuh penghayatan tadi, saya optimis bahwa generasi masa depan dari Darmakradenan akan menjadi generasi yang beradab dan memiliki integritas tinggi berdasarkan nilai-nilai agama," ungkap Jumiati saat ditemui seusai kegiatan.
Kegiatan rutin Jumat pagi di SDN 1 Darmakradenan ini diharapkan dapat terus konsisten dilaksanakan dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di wilayah sekitarnya. Pihak sekolah menyadari bahwa tantangan zaman ke depan akan semakin berat, terutama dalam menjaga moralitas remaja. Oleh karena itu, membentengi anak-anak dengan spiritualitas sejak bangku sekolah dasar dianggap sebagai langkah preventif yang paling efektif.
Melalui sinergi antara guru, orang tua, dan masyarakat, SDN 1 Darmakradenan berkomitmen untuk tidak hanya mencetak lulusan yang siap secara kompetensi, tetapi juga insan yang memiliki kedekatan spiritual dengan Tuhannya. Hari Jumat di Darmakradenan bukan sekadar akhir pekan sekolah, melainkan momentum untuk kembali suci, kembali peduli, dan kembali mengabdi pada nilai-nilai ketuhanan yang luhur.
Kontributor : Tri Utami


إرسال تعليق