Dari Asap Menjadi Harapan: Mahasiswa KKN UHB Hadirkan Rocket Stove, Desa Limpakuwus Melangkah ke Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan


LIMPAKUWUS - Asap pembakaran sampah yang selama ini menjadi pemandangan sehari-hari di Desa Limpakuwus perlahan menemukan titik balik. Melalui inovasi sederhana namun berdampak nyata, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Harapan Bangsa (UHB) Kelompok 15 menghadirkan tempat pembakaran sampah minim asap berbasis rocket stove sebagai solusi ramah lingkungan bagi masyarakat desa. Inisiatif ini menjadi simbol perubahan dari kebiasaan lama menuju pengelolaan sampah yang lebih sehat dan berkelanjutan.


“Kami melihat persoalan sampah di desa ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga menyangkut kesehatan dan kualitas hidup warga. Dari situ muncul gagasan untuk menghadirkan teknologi yang sederhana namun efektif,” ungkap perwakilan mahasiswa KKN UHB Kelompok 15.


Program pembuatan tempat pembakaran sampah minim asap ini dilaksanakan di wilayah RW 3 RT 3 Desa Limpakuwus, dengan proses pembangunan berlangsung sejak 19 hingga 21 Januari 2026 dan diresmikan pada 26 Januari 2026. Seluruh mahasiswa KKN UHB Kelompok 15 terlibat aktif bersama perangkat desa dan warga setempat, menciptakan kolaborasi yang memperkuat nilai gotong royong dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.


“Sejak awal kami libatkan warga agar fasilitas ini benar-benar menjadi milik bersama, bukan sekadar program mahasiswa yang selesai lalu ditinggalkan,” jelas salah satu anggota tim KKN.


Permasalahan sampah di Desa Limpakuwus selama ini menjadi tantangan serius akibat keterbatasan sarana pengelolaan. Banyak warga memilih membakar sampah secara terbuka karena dianggap paling praktis, meski berdampak pada pencemaran udara dan gangguan kesehatan. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa KKN UHB menghadirkan alternatif pembakaran yang lebih aman.


“Pembakaran terbuka memang mudah, tetapi asapnya sangat mengganggu, terutama bagi anak-anak dan lansia. Kami ingin mengurangi risiko itu,” tutur warga setempat saat proses pembangunan berlangsung.


Teknologi rocket stove dipilih karena mampu menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna melalui sistem aliran udara terkontrol. Dengan desain tertutup, asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan metode konvensional. Selain itu, bahan bangunan seperti batako dan besi mudah diperoleh dan relatif murah.


“Rocket stove ini tidak rumit. Justru kelebihannya ada pada kesederhanaan desain yang bisa ditiru masyarakat dengan biaya terjangkau,” terang mahasiswa KKN saat menjelaskan prinsip kerja alat tersebut.


Sebelum pembangunan dilakukan, mahasiswa KKN terlebih dahulu melaksanakan observasi lapangan dan koordinasi dengan perangkat desa serta tokoh masyarakat. Pemetaan kebiasaan warga dalam mengelola sampah menjadi dasar perancangan desain yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat Desa Limpakuwus.


“Kami tidak ingin membangun sesuatu yang tidak terpakai. Karena itu, lokasi dan desain ditentukan bersama agar aman dan mudah diakses warga,” ujar salah satu mahasiswa.


Tahap pembangunan dilakukan secara gotong royong, melibatkan mahasiswa dan warga sekitar. Dari penyusunan batako hingga penyempurnaan ruang bakar, seluruh proses menjadi ruang belajar bersama. Partisipasi aktif warga menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas yang dibangun.


“Dengan ikut membangun, kami jadi paham cara kerjanya. Jadi nanti kalau ada kerusakan, kami tidak bingung memperbaikinya,” kata salah satu warga RW 3.


Setelah pembangunan rampung pada 21 Januari 2026, dilakukan uji coba pembakaran sampah kering. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan pembakaran terbuka, terutama dari segi jumlah asap yang dihasilkan. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa rocket stove layak diterapkan di desa.


“Asapnya jauh lebih sedikit, tidak menyengat seperti biasanya. Ini jelas lebih nyaman dan aman,” ungkap warga yang menyaksikan uji coba.


Selain pembangunan fisik, mahasiswa KKN juga memberikan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai penggunaan dan perawatan rocket stove. Edukasi tersebut mencakup pemilahan sampah, jenis sampah yang aman dibakar, serta pentingnya menjaga kebersihan area pembakaran.


“Kami tekankan bahwa ini bukan satu-satunya solusi. Pemilahan sampah dan pengurangan dari sumbernya tetap harus dilakukan,” jelas mahasiswa KKN.


Program ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Limpakuwus. Sekretaris Desa Limpakuwus, Warno, menilai inovasi mahasiswa KKN UHB sebagai langkah konkret yang memberi manfaat langsung bagi warga dan lingkungan desa.


“Kami sangat mengapresiasi inovasi mahasiswa KKN UHB. Ini solusi sederhana namun efektif untuk mengurangi asap pembakaran sampah dan dampaknya bagi kesehatan warga,” ujar Warno.


Lebih lanjut, Warno menegaskan komitmen pemerintah desa untuk mendukung keberlanjutan program tersebut. Ia menilai keterlibatan masyarakat sejak awal menjadi kunci agar fasilitas yang telah dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.


“Ketika warga merasa memiliki, fasilitas ini tidak akan terbengkalai. Pemerintah desa siap mendukung pengembangannya,” tambahnya.


Mahasiswa KKN UHB Kelompok 15 berharap kehadiran tempat pembakaran sampah minim asap berbasis rocket stove dapat menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran lingkungan di Desa Limpakuwus. Program ini tidak hanya menghadirkan sarana fisik, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.


“Kami berharap apa yang kami lakukan bisa menjadi pemantik perubahan. Dari langkah kecil ini, semoga tumbuh kepedulian besar terhadap lingkungan,” tutup perwakilan mahasiswa KKN.


Dengan diresmikannya fasilitas rocket stove pada 26 Januari 2026, Desa Limpakuwus kini memiliki alternatif pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Kehadiran mahasiswa KKN Universitas Harapan Bangsa menjadi bukti nyata peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat desa secara langsung dan berkelanjutan.


Kontributor: N.Devi Lipia

Post a Comment

أحدث أقدم