Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Ada ironi yang jarang kita akui dengan jujur.
Kita adalah umat yang kitab sucinya dimulai dengan satu kata
yang mengguncang peradaban: Iqra. Perintah membaca. Bukan perintah
berdebat. Bukan pula perintah merasa paling benar.
Namun hari ini, di negeri dengan populasi Muslim terbesar di
dunia, kita menghadapi paradoks sunyi: umat semakin religius secara simbolik,
tetapi belum tentu semakin literat secara intelektual.
Masjid penuh. Majelis taklim ramai. Kajian daring
berseliweran. Potongan ceramah viral dalam hitungan detik. Tetapi pertanyaannya
sederhana: berapa banyak yang benar-benar membaca kitab secara utuh? Berapa
yang menelusuri tafsir lintas perspektif? Berapa yang memahami metodologi para
ulama?
Padahal Al-Qur’an sendiri memberi mandat intelektual yang
sangat tegas.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an, Surah At-Taubah ayat 122:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi
semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di
antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan agama (liyatafaqqahu
fid-din) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah. Ia adalah desain
peradaban. Tidak semua harus berada di garis depan fisik. Sebagian harus
tinggal, belajar lebih dalam, memperdalam ilmu, agar seluruh kaum mendapatkan
cahaya pengetahuan.
Artinya, dalam setiap generasi harus ada kelompok yang
mendedikasikan diri untuk kedalaman ilmu. Bukan sekadar menjadi pengulang
informasi, tetapi penjaga pemahaman.
Rasulullah SAW pun menegaskan dalam
hadis riwayat Ibnu Majah:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
Dan dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka
Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Mencari ilmu adalah jalan. Bukan potongan video. Bukan
sekadar kutipan singkat. Jalan itu panjang, sunyi, dan menuntut kesabaran.
Tradisi ulama terdahulu memahami amanat ini secara serius.
Dari Al-Ghazali hingga Ibnu Khaldun, dari Imam Syafi'i
hingga Ibnu Rusyd, lahir generasi yang tidak hanya fasih berdakwah, tetapi
kokoh dalam literasi. Mereka membaca ribuan halaman sebelum menulis satu
paragraf. Mereka berguru bertahun-tahun sebelum berfatwa. Mereka berdebat
dengan adab, bukan dengan amarah.
Kini kita hidup di era serba digital.
Informasi melimpah. Akses tak terbatas. Tetapi justru di
tengah kelimpahan itu, kepekaan melemah. Kita terbiasa menggulir layar, bukan
menyelami makna. Kita cepat bereaksi, lambat merefleksi. Kita membaca judul,
bukan isi. Kita menyukai ringkasan, tetapi alergi pada kedalaman.
Rendahnya kemampuan literasi membaca yang tercermin dalam
hasil Programme for International Student Assessment (PISA) bukan hanya problem
akademik. Ia berdampak langsung pada cara umat memahami agamanya. Jika teks
panjang saja sulit dipahami, bagaimana mungkin simbol-simbol keagamaan dapat
ditafsirkan secara utuh?
Ritual perlahan menjadi rutinitas.
Simbol kehilangan makna.
Ayat dibaca tanpa dialog batin.
Shalat bisa menjadi gerakan fisik tanpa getaran spiritual.
Puasa menjadi sekadar menahan lapar tanpa pendalaman empati. Zakat dipahami
sebagai kewajiban administratif, bukan transformasi sosial.
Padahal Al-Qur’an menyebut alam, sejarah, bahkan diri
manusia sebagai ayat tanda-tanda. Membaca dalam Islam bukan hanya membaca
huruf, tetapi membaca makna.
Tanpa tradisi tafaqquh pendalaman ilmu yang
sistematis umat mudah terseret arus besar zaman: materialisme yang menilai
manusia dari kepemilikan, liberalisme yang menuhankan kebebasan tanpa batas,
dan kapitalisme global yang menjadikan segala sesuatu komoditas.
Bukan ajaran Islam yang lemah.
Tetapi fondasi literasi umat yang melemah.
Identitas akhirnya direduksi menjadi simbol luar. Padahal
identitas sejati lahir dari kedalaman intelektual dan kematangan spiritual.
Ayat At-Taubah tadi seakan menjadi peringatan: jika tidak
ada kelompok yang sungguh-sungguh memperdalam ilmu untuk kepentingan umat, maka
seluruh kaum akan kehilangan arah.
Kebangkitan umat tidak dimulai dari kemarahan.
Ia dimulai dari membaca.
Dari duduk lama dengan kitab.
Dari kesabaran memahami sebelum menyimpulkan.
Iqra bukan sekadar seruan spiritual.
Ia adalah strategi peradaban.
Ia adalah jalan kelembutan hati.
Dan mungkin pertanyaan paling jujur hari ini bukanlah:
“Seberapa keras kita membela agama?”
Melainkan:
“Adakah di antara kita yang sungguh-sungguh tinggal, belajar
lebih dalam, dan kembali untuk menerangi seluruh kaum?”
Senin, 23 Feb 2026/06 Ramadhan 1447H
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Terima kasih pencerahannya Pak, kadang banyak orang berlomba menjadi "kemislam" dengan berpedoman sampaikanlah wahyu walaupun cuma satu ayat. Heeee
BalasHapusPosting Komentar