PURWOKERTO, INFO BANYUMAS – Gerakan Pramuka pangkalan MTs Ma’arif NU 1 Sokaraja (Manusa) sukses menembus ruang dengar publik melalui kolaborasi inspiratif dalam program Talk Show "Sore Ceria" di Studio RRI Pro 2 FM Purwokerto, Senin (2/2). Mengusung tajuk strategis “Mencetak Generasi Berkarakter dan Islami di Era Digital”, delegasi pramuka penggalang ini membedah urgensi integrasi nilai-nilai religius dan kepanduan sebagai benteng moral remaja di tengah gempuran disrupsi teknologi. Kehadiran mereka di studio disambut hangat oleh host Kiki Riski, yang menandai sebuah pencapaian literasi publik bagi anggota muda Pramuka Kwartir Ranting Sokaraja untuk menunjukkan eksistensi organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Diskusi yang berlangsung selama satu jam penuh tersebut mengupas tuntas mengenai formulasi pendidikan karakter yang diterapkan di pangkalan MTs Ma’arif NU 1 Sokaraja. Fokus utama pembicaraan terletak pada bagaimana organisasi kepanduan ini mampu menyeimbangkan hobi dan gaya hidup remaja modern dengan kewajiban spiritual. Narasumber memaparkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar keterampilan tali-temali, melainkan ketahanan mental dan spiritualitas di dunia maya.
Pembina Putra, Kak Bambang Wisnu Wardhana, S.Pd.I, menjelaskan secara rinci mengenai mekanisme internal pangkalan dalam menyikapi perubahan perilaku remaja. Informasi tersebut menyebutkan bahwa kurikulum kepanduan di sekolah mereka sengaja diselaraskan dengan nafas Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja). Penyelarasan tersebut dimaksudkan agar para anggota tidak hanya cakap secara teknis kepramukaan, tetapi juga memiliki pondasi akidah yang kuat. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan muncul sebuah identitas baru yakni "Pramuka Santri" yang mampu menjadi teladan bagi rekan sebaya mereka.
Dalam sesi penyampaian gagasan, Kak Bambang Wisnu Wardhana menekankan bahwa pendidikan di luar ruangan harus tetap memiliki muatan spiritual yang kental agar tidak kehilangan arah. Beliau menyatakan:
"Kami memadukan kepanduan umum dengan nilai religi agar anak-anak tetap bisa have fun sebagai remaja namun tetap memiliki prinsip yang tidak ditinggalkan, terutama dalam menjaga habit ibadah di tengah gempuran era digital."
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen lembaga dalam mencetak kader yang tidak hanya cerdas intelektual, namun juga taat secara ritual.
Beranjak ke sesi kedua, dialog mengalir lebih dinamis dengan menghadirkan perspektif dari para pemimpin muda Dewan Penggalang. Raditya Ghani, yang menjabat sebagai Pratama Putra, berbagi pengalaman empirisnya mengenai perjalanan karier di dunia kepramukaan. Ia menceritakan bagaimana proses seleksi dan latihan keras yang dilaluinya saat mengikuti berbagai perhelatan besar, mulai dari Jambore Ranting hingga mencapai panggung Jambore Cabang di Banteran.
Kisah sukses tersebut dipaparkan untuk memberikan gambaran kepada pendengar bahwa Pramuka adalah kawah candradimuka bagi pembentukan kepemimpinan. Raditya menegaskan bahwa pengalaman yang didapatkan di lapangan sangat membantu dirinya dalam membangun kepercayaan diri, termasuk saat harus berbicara di depan mikrofon radio. Baginya, Pramuka adalah jembatan untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi, yakni mencapai tingkatan Pramuka Garuda.
Mengenai pengalaman perdananya mengudara di RRI, Raditya Ghani mengungkapkan rasa bangganya:
"Kegiatan talk show ini benar-benar asik dan menjadi pengalaman luar biasa bagi kami untuk menunjukkan bahwa Pramuka itu berprestasi dan menyenangkan."
Kalimat tersebut seolah mematahkan stigma bahwa Pramuka adalah kegiatan yang kaku dan ketinggalan zaman. Raditya membuktikan bahwa melalui organisasi ini, seorang penggalang bisa memiliki wawasan seluas cakrawala.
Menutup rangkaian diskusi, aspek kesehatan mental dan ketangguhan pribadi menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Selvina Febriliyan Ghani, selaku Pratama Putri, yang juga sempat memukau pendengar dengan bakat menyanyinya, menyoroti pentingnya keterlibatan remaja dalam organisasi positif guna menghindari dampak negatif kecanduan gadget.
Selvina menjelaskan bahwa aktivitas kepramukaan yang melibatkan interaksi fisik dan kerja sama tim secara nyata adalah obat penawar bagi fenomena isolasi sosial di era digital. Keterangan tersebut juga menggarisbawahi bahwa setiap tantangan yang dihadapi dalam latihan kepramukaan, baik panas maupun hujan, merupakan simulasi kehidupan yang melatih kesabaran. Keterlibatan dalam organisasi tersebut diklaim sebagai cara yang paling efektif bagi remaja untuk memperluas jaringan pertemanan yang sehat dan suportif.
Memberikan dorongan semangat bagi ribuan pendengar setia Pro 2 FM, Selvina Febriliyan Ghani menitipkan pesan mendalam:
"Jangan pernah takut capek atau kotor karena Pramuka itu melatih kita untuk sabar, disiplin, dan mandiri; teruslah berkarya dan jangan menyerah untuk meraih prestasi setinggi mungkin."
Kegiatan talk show yang merupakan hasil sinergi apik antara RRI Pro 2 FM Purwokerto dan Gugus Depan MTs Ma'arif NU 1 Sokaraja ini berakhir dengan sebuah kesimpulan penting mengenai konsistensi. Pihak penyelenggara dan narasumber sepakat bahwa momentum di studio radio hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga semangat berorganisasi ini agar tetap konsisten dalam jangka panjang.
Pesan penutup dalam acara tersebut menekankan bahwa "istiqomah" atau konsistensi adalah kunci dari setiap kesuksesan. Memulai sebuah program kerja mungkin terasa mudah dan penuh euforia, namun mempertahankan ritme kerja dan dedikasi di tengah kesibukan akademik adalah ujian karakter yang sebenarnya.
Dengan berakhirnya siaran "Sore Ceria" ini, Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Sokaraja, khususnya pangkalan Manusa, telah membuktikan diri sebagai pionir komunikasi publik di tingkat sekolah menengah. Mereka tidak hanya membawa nama baik sekolah, tetapi juga membawa pesan harapan bahwa generasi masa depan Indonesia adalah generasi yang tetap memegang teguh identitas Islami meski hidup di puncak kemajuan teknologi.
Kontributor : (Sutriono-Humas Kwarran Sokaraja)

.jpg)
إرسال تعليق