Mahasiswa Apoteker Unsoed Transformasi Pengetahuan Jahe Merah Menjadi Benteng Kesehatan Siswa SMPN 3 Karanglewas



KARANGLEWAS, INFO BANYUMAS — Dalam upaya memperkuat literasi kesehatan berbasis kearifan lokal, mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Angkatan XIX menggelar aksi edukasi strategis di SMP Negeri 3 Karanglewas pada Jumat, 13 Maret 2026. Fokus utama kegiatan ini adalah mengenalkan potensi luar biasa jahe merah sebagai Tanaman Obat Keluarga (TOGA) unggulan kepada 20 pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Bertempat di Laboratorium IPA, kolaborasi akademis ini tidak hanya bertujuan mentransfer teori medis ke level sekolah menengah, tetapi juga mendorong kemandirian kesehatan siswa melalui pemanfaatan tanaman herbal yang tersedia melimpah di lingkungan pedesaan.


Kegiatan promosi kesehatan tersebut dirancang sebagai bagian integral dari mata kuliah Farmasi Pedesaan pada Fakultas Ilmu Kesehatan Unsoed. Sebanyak enam mahasiswa calon apoteker, yakni Siti Nurhaliza, Yuli Handoyo, Syarifah Rahmatika, Arfinda Hanung Saputri, Zalfa Ifri Nur Afifah, dan Septiana Rohama Ria Hikmawati, secara kolektif menyusun materi yang komprehensif namun mudah dipahami oleh para remaja. Pemilihan jahe merah sebagai objek utama didasari oleh profil tanaman tersebut yang memiliki nilai medis tinggi namun sering kali hanya dipandang sebelah mata sebagai bumbu dapur biasa di wilayah Karanglewas dan sekitarnya.


Dalam sesi pemaparan, tim mahasiswa tersebut menjelaskan secara mendalam mengenai karakteristik biologis jahe merah yang secara ilmiah dikenal dengan nama latin Zingiber officinale varietas rubrum. Mahasiswa menekankan bahwa jenis jahe ini berbeda dengan jahe biasa, terutama pada kandungan minyak atsiri dan gingerolnya yang lebih tinggi, sehingga memberikan rasa pedas yang lebih kuat dan khasiat yang lebih tajam bagi tubuh. Pengetahuan mengenai diferensiasi tanaman tersebut sangat penting diberikan agar para siswa OSIS, sebagai agen perubahan di sekolah, mampu mengidentifikasi dan membudidayakan tanaman obat yang tepat di pekarangan rumah maupun taman sekolah.


Selain aspek identifikasi, mahasiswa juga menguraikan berbagai manfaat fungsional jahe merah yang mampu bertindak sebagai stimulan alami bagi sistem imun. Kandungan aktif dalam tanaman tersebut diketahui efektif untuk menghangatkan badan, meningkatkan stamina, hingga membantu melancarkan peredaran darah. Informasi mengenai khasiat tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif solusi kesehatan bagi siswa dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu, di mana gangguan kesehatan ringan seperti flu atau sakit tenggorokan sering kali menyerang aktivitas belajar mereka.


Interaksi yang terjalin selama kegiatan berlangsung di Laboratorium IPA tersebut menunjukkan tingkat rasa ingin tahu yang tinggi dari para siswa. Sebanyak 20 anggota OSIS tidak hanya berperan sebagai audiens pasif, tetapi aktif terlibat dalam diskusi mengenai cara pengolahan jahe merah agar nutrisinya tetap terjaga. Melalui simulasi dan penjelasan praktis, para mahasiswa membuktikan bahwa menjaga kesehatan tidak harus selalu bergantung pada produk farmasi sintetis yang mahal, melainkan dapat dimulai dari pemanfaatan sumber daya alam yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.



Para mahasiswa calon apoteker tersebut sangat berharap agar paparan informasi ini menjadi langkah awal bagi para siswa untuk beralih ke gaya hidup yang lebih alami. Dengan membekali generasi muda mengenai dasar-dasar farmakognosi atau pengenalan obat dari alam, mahasiswa Unsoed secara tidak langsung sedang membangun fondasi masyarakat yang sadar obat. Harapannya, para siswa OSIS ini dapat menjadi penyambung lidah bagi rekan-rekan mereka yang lain, menyebarkan semangat "kembali ke alam" dan memperkuat posisi TOGA sebagai apotek hidup di setiap rumah tangga.


Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata bahwa kurikulum pendidikan tinggi, khususnya dalam bidang farmasi, dapat memberikan dampak langsung (socio-impact) bagi masyarakat pedesaan. Sinergi antara Unsoed dan SMPN 3 Karanglewas diharapkan dapat terus berlanjut dalam berbagai bentuk pengabdian masyarakat lainnya, menciptakan jembatan antara teori akademik di universitas dengan kebutuhan praktis kesehatan di tingkat sekolah menengah.


Keberhasilan program edukasi terebut mendapat apresiasi tinggi dari otoritas sekolah. Kepala SMP Negeri 3 Karanglewas melihat kehadiran mahasiswa Unsoed sebagai suplemen pengetahuan yang sangat berharga bagi pengembangan diri siswa di luar kurikulum reguler.


“Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk siswa-siswi kami. Terimakasih untuk mahasiswa dari Unsoed yang telah memberikan pengalaman kepada para siswa melalui kegiatan ini. Semoga silaturrahmi antara sekolah kami dan mahasiswa dari Unsoed dapat terus terjalin dengan baik,” ujar Mayasari Sasmito, Kepala SMP Negeri 3 Karanglewas.


Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari tim mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker Unsoed menegaskan pentingnya edukasi ini dalam membentuk pola pikir kesehatan sejak dini.


“Jahe merah merupakan tanaman obat keluarga yang mudah dibudidayakan serta sering digunakan sebagai bahan rempah dan pengobatan tradisional. Manfaat lain dari jahe merah yaitu dapat membantu meredakan sakit tenggorokan dan menjaga kesehatan tubuh secara alami. Harapannya setelah kegiatan ini adik-adik lebih fokus memanfaatkan obat-obatan dari tanaman herbal terlebih dahulu sebelum menggunakan obat-obatan dari bahan kimia,” jelas para mahasiswa PSPA Unsoed secara bergantian.


Melalui penutupan yang inspiratif tersebut, para mahasiswa menekankan bahwa farmasi bukan hanya soal meracik obat di apotek, tetapi juga soal mengedukasi masyarakat agar bijak dalam memilih terapi kesehatan. Dengan berakhirnya sesi di Laboratorium IPA hari itu, para siswa OSIS SMPN 3 Karanglewas membawa pulang lebih dari sekadar catatan, melainkan sebuah keyakinan baru bahwa rahasia kesehatan jangka panjang mungkin saja tertanam tepat di bawah permukaan tanah halaman rumah mereka sendiri.

Kontributor : Rery Mei

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama