Menanam Benih Empati di Usia Emas: Potret Filantropi Cilik TK ABA 1 Ajibarang Kulon dalam Balutan "Ramadan Ceria"



AJIBARANG, INFO BANYUMAS — Menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kedermawanan tidak harus menunggu hingga usia dewasa. Hal inilah yang dibuktikan oleh keluarga besar TK ABA 1 Ajibarang Kulon melalui perhelatan bertajuk "Ramadan Ceria" yang berlangsung penuh khidmat selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 13–14 Maret 2026. Dengan mengusung tema filosofis “Indahnya Berbagi, Berkahnya Peduli. Mari Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadhan nan Suci”, sekolah anak usia dini ini berhasil mengolaborasikan peran guru, murid, dan pengurus Persatuan Orang Tua Murid (POM) dalam serangkaian aksi bakti sosial yang menyasar panti asuhan hingga masyarakat umum di sekitar lingkungan sekolah. Melalui pendekatan pengalaman langsung (experiential learning), institusi ini berupaya mencetak generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan emosional dan sosial yang kuat sejak bangku sekolah taman kanak-kanak.


Rangkaian kegiatan yang dipusatkan di depan sekolah dan wilayah Ajibarang Kulon tersebut dirancang secara sistematis untuk memberikan dampak psikologis positif bagi anak didik. Agenda hari pertama diawali dengan kegiatan pentasyarufan atau penyaluran zakat fitrah yang dikemas secara edukatif. Para siswa diajak keluar dari zona nyaman kelas mereka menuju panti asuhan setempat guna menyerahkan amanah zakat secara langsung. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk pembelajaran kontekstual agar anak-anak mampu memahami realitas sosial di luar lingkaran keluarga mereka sendiri, sekaligus menanamkan rasa syukur atas nikmat yang telah diterima selama ini.


Puncak keceriaan berlanjut pada hari kedua dengan agenda pembagian paket sembako untuk warga prasejahtera dan aksi bagi takjil bagi pengguna jalan. Uniknya, seluruh logistik bantuan tersebut bersumber dari akumulasi uang infak harian para siswa yang dikumpulkan secara sukarela selama bulan suci Ramadan. Penggunaan dana infak anak-anak untuk membiayai kegiatan tersebut merupakan strategi edukatif untuk menunjukkan bahwa sekecil apa pun kontribusi yang diberikan secara kolektif, mampu menciptakan dampak besar bagi orang lain. Kegiatan ini pun mendapatkan respon hangat dari warga sekitar yang merasa tersentuh melihat semangat anak-anak usia dini dalam menebarkan kebaikan di trotoar depan sekolah mereka.


Dukungan penuh dari wali murid menjadi pilar utama keberhasilan program Ramadan Ceria ini. Sinergi antara pihak sekolah dan orang tua terlihat dari keterlibatan aktif wali murid dalam membantu teknis pendistribusian hingga pendampingan putra-putri mereka. Kolaborasi tersebut dianggap krusial, mengingat pendidikan karakter bagi anak usia dini memerlukan konsistensi antara nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dengan dukungan moral yang diberikan di rumah. Antusiasme para siswa yang rela berangkat ke sekolah dua kali dalam sehari—yakni sesi pagi untuk aktivitas rutin dan sesi sore untuk aksi sosial—menjadi bukti bahwa metode pembelajaran berbasis pengabdian masyarakat ini sangat diminati oleh anak-anak.



Keberhasilan TK ABA 1 Ajibarang Kulon dalam menyelenggarakan kegiatan ini mendapat apresiasi luas dari berbagai elemen masyarakat. Para pendidik di sekolah tersebut meyakini bahwa masa emas (golden age) anak-anak adalah waktu yang paling krusial untuk mengisi memori mereka dengan pengalaman-pengalaman positif terkait kebajikan. Dengan membiarkan anak-anak berinteraksi langsung dengan penerima bantuan, sekolah sedang membangun fondasi adab yang kokoh, di mana rasa hormat, empati, dan keikhlasan bukan lagi sekadar teori abstrak, melainkan tindakan nyata yang mereka lakukan dengan tangan sendiri.


Lebih jauh, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana sosialisasi bagi sekolah untuk menunjukkan peran aktifnya dalam pembangunan sosial di tingkat lokal. Dengan melibatkan anak-anak dalam pembagian sembako dan takjil, TK ABA 1 Ajibarang Kulon telah bertransformasi dari sekadar tempat belajar-mengajar menjadi pusat persemaian nilai-nilai kemanusiaan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga sekitar. Pengalaman ini diharapkan akan melekat kuat dalam sanubari setiap siswa, menjadi modal berharga bagi mereka saat tumbuh dewasa untuk tetap menjadi pribadi yang peduli dan bermanfaat bagi masyarakat luas.


Keberlanjutan program ini ditegaskan kembali oleh jajaran pimpinan dan tenaga pendidik sekolah yang melihat betapa besarnya potensi transformasi karakter pada diri anak melalui kegiatan religius yang terukur.


Kepala TK ABA 1 Ajibarang Kulon menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara ini merupakan pengejawantahan dari visi sekolah dalam membentuk pribadi yang saleh dan peduli.


“Rangkaian kegiatan Ramadan Ceria meliputi pentasyarufan zakat fitrah, pembagian sembako, serta berbagi takjil kepada masyarakat sekitar. Kemarin hari Jumat anak-anak kami ajak ke Panti Asuhan Muhammadiyah Ajibarang untuk menyalurkan zakat fitrah sehingga mereka bisa merasakan langsung makna berbagi. Untuk kegiatan berbagi sembako dan takjil tersebut berasal dari uang infak anak-anak yang dikumpulkan setiap hari selama bulan Ramadhan,” tutur Kepala Sekolah Serli Kurnia Laeli.


Senada dengan hal tersebut, jajaran guru menekankan pentingnya pendampingan orang tua dalam proses internalisasi nilai-nilai sosial ini.


“Anak-anak harus diajari untuk berbagi sejak dini agar tumbuh rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh wali murid yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini, baik secara moril maupun materiil,” ungkap guru Sutarmi.


Kesan mendalam juga dirasakan oleh perwakilan orang tua murid yang melihat perkembangan positif pada perilaku putra-putrinya selama mengikuti kegiatan sosial ini.


“Anak-anak sangat antusias dan semangat mengikuti kegiatan ini walaupun hari ini mereka harus berangkat ke sekolah dua kali, pagi dan sore. Semoga kegiatan ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi semua,” ujar wali murid, Bunda Zifa.



Melalui penutupan rangkaian kegiatan pada Sabtu sore tersebut, TK ABA 1 Ajibarang Kulon telah berhasil menanamkan satu pelajaran penting yang tidak tercantum dalam buku rapor: bahwa kebahagiaan sejati ditemukan saat kita mampu memberikan senyuman kepada orang lain. Benih-benih empati yang disemai di jalanan Ajibarang Kulon hari ini diharapkan akan tumbuh menjadi karakter mulia yang akan terus dijaga oleh anak-anak tersebut sepanjang hayat mereka.


Kontributor : Rery Mei

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama