WANGON, INFO BANYUMAS – Di tengah kepungan teknologi kecerdasan buatan dan dominasi gawai yang semakin masif pada tahun 2026, sebuah pemandangan kontras terlihat di jalanan Desa Randegan, Ciarus. Puluhan siswa kelas 4 hingga 6 dari SD Negeri 1 Ciarus, yang berada di bawah naungan Korwilcam Dindik Wangon, terpantau melakukan aksi "berburu tanda tangan" tokoh masyarakat dan pemuka agama pada Rabu, 4 Maret 2026. Kegiatan klasik tersebut sengaja dipertahankan sebagai alternatif kegiatan positif guna mengisi bulan suci Ramadhan, sekaligus membuktikan bahwa interaksi sosial langsung tetap memiliki nilai yang tak tergantikan oleh digitalisasi.
Kegiatan yang berlangsung di sepanjang wilayah Ciarus hingga Randegan tersebut melibatkan partisipasi aktif para siswa yang membawa buku kegiatan Ramadhan mereka. Di era di mana segala sesuatu dapat diselesaikan melalui aplikasi, para siswa justru memilih untuk berjalan kaki, mengetuk pintu rumah warga, dan berdialog langsung dengan para imam masjid maupun tokoh masyarakat setempat. Langkah tersebut diambil bukan tanpa alasan; pihak sekolah menilai bahwa ketergantungan pada gawai selama bulan puasa cenderung membuat siswa menjadi pasif dan kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Pihak sekolah menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya konkret untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari layar ponsel menuju realitas sosial yang lebih bermakna. Selain itu, misi dari perburuan tanda tangan tersebut adalah untuk memastikan bahwa para siswa benar-benar menjalankan ibadah, seperti salat tarawih dan tadarus, yang kemudian dibuktikan dengan validasi fisik dari pengurus tempat ibadah. Melalui metode tersebut, nilai kejujuran dan keberanian siswa dalam berkomunikasi secara santun dengan orang yang lebih tua dapat terasah dengan sendirinya di tengah gempuran budaya instan.
Meskipun cuaca di wilayah Wangon cukup terik, antusiasme para siswa tidak surut. Mereka tampak berkelompok menyambangi satu rumah ke rumah lainnya dengan membawa misi mendapatkan apresiasi berupa tanda tangan dan pesan singkat dari para narasumber di lapangan. Upaya tersebut pun mendapatkan respon positif dari warga sekitar yang merasa senang melihat anak-anak usia sekolah dasar masih mempraktikkan etika bertamu dan berkomunikasi secara langsung, sebuah pemandangan yang mulai langka di kota-kota besar pada tahun 2026.
Keberlangsungan tradisi tersebut tidak lepas dari kebijakan tegas dan visioner dari pimpinan sekolah yang melihat celah degradasi moral akibat teknologi. Kepala SDN 1 Ciarus, Irwan Nudin, S.Pd., memberikan penjelasan mendalam mengenai urgensi kegiatan tersebut bagi ketahanan mental para muridnya. Beliau menekankan bahwa puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan di depan layar, melainkan momentum untuk membentuk jati diri.
"Kami ingin menanamkan prinsip bahwa pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada algoritma. Siswa harus mempunyai kegiatan yang menempa karakter meski lelahnya di bulan puasa yang dirasakan para siswa adalah sebuah tantangan nyata. Dengan turun ke lapangan, mereka belajar tentang kedisiplinan, tata krama, dan bagaimana menghargai proses untuk mendapatkan pengakuan atau tanda tangan tersebut," ujar Irwan Nudin saat ditemui di sela kesibukannya memantau kegiatan siswa.
Senada dengan Kepala Sekolah, Irsyad, selaku Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 1 Ciarus, menambahkan bahwa aspek spiritualitas harus dibarengi dengan aksi sosial yang nyata. Baginya, buku Ramadhan bukan sekadar lembaran kertas, melainkan rekam jejak kebaikan yang dilakukan siswa selama satu bulan penuh.
"Bulan Ramadhan harus diisi dengan hal yang positif agar siswa senantiasa menorehkan hal baik di masyarakat. Kami tidak ingin mereka hanya saleh secara individu di dalam kamar dengan gawainya, tetapi juga saleh secara sosial. Berinteraksi dengan kiai, imam masjid, dan tetangga adalah bagian dari dakwah kecil yang mereka lakukan sejak dini. Ini adalah cara kami memastikan bahwa ajaran agama benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat," tegas Irsyad.
Sementara itu, pandangan mengenai relevansi kegiatan tersebut di era modern disampaikan oleh Iqbal BR, salah satu penggerak pendidikan di lingkungan tersebut. Ia menyoroti fenomena "digital amnesia" yang menghantui generasi muda, di mana interaksi fisik mulai dianggap beban. Namun, bagi SDN 1 Ciarus, hal ini justru menjadi peluang untuk tampil beda dan mempertahankan nilai-nilai luhur.
"Dunia boleh berubah, teknologi boleh semakin canggih, namun ada hal-hal manusiawi yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Kegiatan siswa tidak hanya dikelilingi gawai saja, tetapi ada kegiatan lain meski sudah beda zaman tetap tidak terwakilkan. Keberanian seorang anak untuk menyapa orang dewasa dan meminta tanda tangan adalah bentuk literasi sosial yang sangat mahal harganya di tahun 2026, bukan soal kertasnya, tapi soal pertemuan antara dua manusia," jelas Iqbal BR dengan penuh semangat.
Pelaksanaan kegiatan ini di SDN 1 Ciarus menjadi sebuah anomali positif di tengah tren pendidikan berbasis metaverse dan hybrid learning. Ketika banyak sekolah mulai meninggalkan buku fisik dan beralih ke aplikasi pemantauan ibadah digital, Ciarus justru memilih kembali ke akar. Keputusan ini membuktikan bahwa tradisi "berburu tanda tangan" masih sangat relevan sebagai penyeimbang kesehatan mental anak-anak dari paparan blue light yang berlebihan.
Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa para warga di Desa Randegan menyambut hangat kehadiran para siswa. Beberapa tokoh masyarakat bahkan menyisipkan nasihat-nasihat singkat saat menandatangani buku para siswa, sebuah interaksi yang menciptakan ikatan emosional antara generasi tua dan generasi penerus di Wangon. Hal ini menegaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar di dalam kelas, tetapi juga jembatan yang menghubungkan siswa dengan realitas sosial di desanya.
Dengan berakhirnya kegiatan pada Rabu sore tersebut, diharapkan para siswa SDN 1 Ciarus tidak hanya membawa pulang tanda tangan di buku mereka, tetapi juga membawa pulang pengalaman berharga tentang arti perjuangan, kesopanan, dan produktivitas di tengah ibadah puasa. Tradisi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di masa depan yang serba digital, sentuhan manusia tetaplah menjadi esensi dari pendidikan yang sejati.
.jpg)

Posting Komentar