WANGON, INFO BANYUMAS – Mengawali momentum bulan suci dengan semangat pemurnian hati, SDN 2 Randegan resmi membuka rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan tahun 1447 Hijriah pada Selasa, 3 Maret 2026. Mengusung konsep edukasi berbasis spiritualitas, hari pertama penyelenggaraan kegiatan tahunan ini berlangsung dengan suasana yang penuh khidmat dan ketertiban tinggi. Seluruh elemen sekolah, mulai dari tenaga pendidik hingga ratusan siswa, melebur dalam serangkaian ritus ibadah dan pendalaman materi keagamaan yang dirancang secara sistematis guna memperkuat fondasi iman serta membentuk karakter religius anak didik sejak dini.
Penyelenggaraan Pesantren Ramadan di SDN 2 Randegan tersebut dipimpin langsung oleh guru pendidikan agama Islam, Irsyad, yang bertindak sebagai koordinator utama jalannya acara. Dalam melaksanakan tugasnya, Irsyad mendapatkan dukungan penuh dari jajaran dewan guru, di antaranya Yana, Keni, Diyah, Reni, Putri, dan Wulan. Kehadiran para pendidik tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengawas teknis, namun juga sebagai mentor spiritual yang mendampingi setiap tahapan kegiatan, memastikan transisi antar-sesi berjalan kondusif, serta memberikan arahan langsung terkait tata cara peribadatan yang benar kepada para siswa.
Kegiatan tersebut dibuka dengan gema lantunan Asmaul Husna yang dibawakan secara kolektif oleh seluruh peserta didik di area utama sekolah. Suasana religius yang terbangun dari pembacaan nama-nama agung Allah tersebut dilaporkan berhasil menciptakan ketenangan batin sekaligus membangun kesiapan mental siswa sebelum memasuki materi yang lebih intensif. Sesi pembuka ini dinilai krusial sebagai jembatan spiritual bagi siswa untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas akademik formal menuju perenungan nilai-nilai ketuhanan.
Pasca-pembacaan Asmaul Husna, rangkaian acara dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Duha secara berjamaah. Melalui praktik ibadah sunnah tersebut, pihak sekolah berupaya menanamkan kedisiplinan spiritual serta membiasakan siswa untuk tidak hanya fokus pada ibadah wajib, melainkan juga memperkaya kualitas spiritual melalui amalan-amalan tambahan selama bulan puasa. Momentum tersebut juga dimanfaatkan oleh para guru untuk mengoreksi gerakan dan bacaan salat siswa agar sesuai dengan tuntunan syariat.
Interaksi siswa dengan kitab suci semakin diperdalam melalui sesi tadarus Al-Qur’an yang dilakukan secara bergiliran. Dalam kegiatan tersebut, para guru pendamping secara telaten menyimak dan memperbaiki kualitas tajwid serta makharijul huruf para siswa. Tujuan utama dari sesi tadarus tersebut adalah untuk menjembatani jarak antara siswa dengan Al-Qur’an, menjadikannya bukan sekadar bacaan di sekolah, melainkan pedoman hidup yang akrab dalam keseharian mereka, terutama pada bulan yang dikenal sebagai Syahrul Qur'an ini.
Menariknya, mekanisme evaluasi pada Pesantren Ramadan kali ini tidak dilakukan melalui perlombaan fisik atau seni yang hingar-bingar, melainkan melalui pengerjaan soal-soal kompetensi keagamaan. Metode tersebut dipilih untuk mengukur kedalaman pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan, meliputi aspek pemahaman puasa, sejarah Islam, hingga etika (akhlak). Konsentrasi dan kejujuran siswa saat mengisi lembar soal tersebut menjadi tolok ukur keberhasilan internalisasi nilai yang telah diajarkan selama sesi materi berlangsung.
Guru Pendidikan Agama Islam SDN 2 Randegan, Irsyad, menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah transformasi perilaku yang bersifat jangka panjang, bukan sekadar penggugur kewajiban kurikulum sekolah.
“Ramadan adalah bulan latihan bagi kita semua, terutama bagi anak-anak di usia sekolah dasar. Di sini, kita dilatih untuk memupuk rasa sabar, menjunjung tinggi kejujuran, dan mengasah kedisiplinan diri. Apa yang kita pelajari dan praktikkan hari ini di sekolah harus mampu mereka bawa pulang dan praktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Irsyad di sela-sela pendampingan siswa.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan komunikatif dalam penyampaian materi menjadi kunci utama agar pesan-pesan keagamaan yang bersifat abstrak dapat dicerna dengan baik oleh logika anak-anak.
“Kami berusaha menyajikan materi keagamaan dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh esensi. Tujuannya agar mereka tidak merasa terbebani, melainkan merasa butuh untuk meningkatkan kualitas ibadahnya. Melalui pengerjaan soal keagamaan tadi, kami melihat antusiasme yang luar biasa. Anak-anak tampak tenang dan penuh kesungguhan dalam membuktikan pemahaman mereka,” tambahnya lagi.
Senada dengan hal tersebut, pihak kontributor sekolah, Nawangsih Cahya Wulandari, menyampaikan harapannya agar hari pertama ini menjadi pijakan yang kokoh bagi rangkaian kegiatan hari-hari berikutnya.
“Kami berharap kegiatan Pesantren Ramadan ini mampu memperkuat pondasi iman serta membentuk karakter religius yang konsisten dalam diri siswa. Ini adalah komitmen kami untuk menghadirkan pendidikan yang seimbang, di mana kecerdasan intelektual berjalan beriringan dengan kematangan spiritual,” pungkas Nawangsih.
Kesuksesan hari pertama Pesantren Ramadan di SDN 2 Randegan ini menandai langkah awal yang positif dalam kalender pendidikan karakter tahun 2026. Dengan memadukan aspek ibadah ritual, pembinaan akhlak, dan evaluasi pemahaman, sekolah ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai kawah candradimuka bagi pembentukan generasi muda yang berintegritas dan religius.
Laporan oleh: Nawangsih Cahya Wulandari


Posting Komentar