Cingebul, Info Banyumas. Upaya menjaga ketahanan pangan di tengah meningkatnya serangan hama terus digencarkan oleh Pemerintah Desa Cingebul melalui rapat koordinasi yang digelar di Balai Desa Cingebul. Pertemuan tersebut menjadi langkah strategis dalam merespons kondisi pertanian yang mengalami penurunan hasil hingga mencapai angka signifikan, sekaligus merumuskan aksi nyata yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Rapat koordinasi tersebut dibuka langsung oleh Kepala Desa Cingebul, Sugeng Riyadi, yang menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan tulang punggung utama kehidupan masyarakat desa. Ia menjelaskan bahwa mayoritas warga Cingebul berprofesi sebagai petani, sehingga gangguan terhadap hasil pertanian akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, serangan hama seperti wereng dan tikus semakin sulit dikendalikan, bahkan menyebabkan penurunan hasil panen hingga sekitar 80 persen.
Dalam forum tersebut disampaikan bahwa meningkatnya populasi hama tidak terlepas dari ketidakseimbangan rantai ekosistem di lingkungan pertanian. Kondisi tersebut memicu berkembangnya organisme pengganggu tanaman secara masif, sehingga diperlukan penanganan yang terkoordinasi dan melibatkan banyak pihak. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah kegiatan “gropyokan” atau perburuan tikus secara bersama-sama sebagai upaya pengendalian hama.
Pemerintah desa menilai bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memiliki nilai edukatif yang penting. Oleh karena itu, siswa sekolah dasar direncanakan akan dilibatkan secara langsung dalam kegiatan tersebut. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya mengenalkan sejak dini kepada generasi muda tentang kondisi nyata di lingkungan pertanian, termasuk jenis-jenis hama yang dapat mengancam ketahanan pangan.
Dalam rapat tersebut, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Dian, menyampaikan bahwa serangan OPT menjadi salah satu tantangan utama dalam sektor pertanian saat ini. Ia menjelaskan bahwa hama tikus merupakan salah satu jenis hama yang sangat sulit dikendalikan apabila dilakukan secara individu. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang solid antarpetani dan seluruh elemen masyarakat untuk menekan populasinya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengendalian hama secara kolektif menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Dengan keterlibatan banyak pihak, diharapkan upaya pengendalian dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Selain itu, edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, juga menjadi faktor penting dalam menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan pertanian.
Kepala Desa Cingebul, Sugeng Riyadi, dalam pemaparannya juga menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan yang akan dimulai pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan tersebut akan melibatkan siswa kelas 4, 5, dan 6 dari berbagai sekolah dasar di wilayah desa. Selain siswa, kegiatan ini juga akan diikuti oleh guru, wali murid, anggota Linmas, pemilik lahan, serta kelompok tani (gapoktan).
Ia menjelaskan bahwa sebelum kegiatan dimulai, para peserta akan mendapatkan sosialisasi terlebih dahulu dari pihak BPP dan petugas OPT mengenai teknis pelaksanaan serta pengetahuan dasar tentang hama. Hal ini bertujuan agar kegiatan tidak hanya berjalan aman, tetapi juga memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta.
Dalam pelaksanaannya, siswa akan diminta membawa perlengkapan sederhana seperti alat pentungan dari bambu (manggar), masker, bekal makanan, serta mengenakan sepatu dan pakaian olahraga. Titik kumpul kegiatan akan berada di sekolah masing-masing sebelum bersama-sama menuju lokasi yang telah ditentukan.
Dalam forum tersebut juga disampaikan bahwa satu ekor tikus mampu berkembang biak dengan sangat cepat, bahkan dapat melahirkan antara 6 hingga 12 anak dalam satu kali reproduksi. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor utama meningkatnya populasi hama dalam waktu singkat apabila tidak segera dikendalikan secara bersama-sama.
Selain itu, pemerintah desa juga telah menyiapkan dukungan berupa bahan pengendalian hama, salah satunya belerang sebanyak 10 kilogram yang akan digunakan dalam kegiatan tersebut. Belerang tersebut menjadi salah satu alternatif dalam upaya pengendalian hama secara tradisional yang masih banyak digunakan oleh petani.
Dalam pernyataannya, Sugeng Riyadi menegaskan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk membangun kesadaran sejak dini. Ia menyampaikan, “Desa Cingebul mayoritas petani, sehingga anak-anak juga harus mengenal lingkungan pertanian sejak dini, termasuk hama yang ada di dalamnya. Kegiatan ini bukan hanya untuk mengendalikan hama, tetapi juga sebagai pembelajaran bagi generasi muda.”
Sementara itu, Dian selaku petugas POPT dari BPP menegaskan pentingnya kerja sama dalam pengendalian hama. Ia menyampaikan, “Serangan organisme pengganggu tanaman, khususnya tikus, tidak bisa dikendalikan secara mandiri. Harus dilakukan bersama-sama agar hasilnya maksimal dan berkelanjutan.”
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Cingebul dapat lebih siap menghadapi ancaman terhadap ketahanan pangan. Selain itu, keterlibatan siswa dalam kegiatan lapangan diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli terhadap sektor pertanian serta meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Rapat koordinasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah desa, petani, dan dunia pendidikan merupakan kunci dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian. Dengan langkah yang terencana dan melibatkan berbagai pihak, Desa Cingebul optimistis mampu bangkit dari ancaman penurunan hasil panen dan kembali memperkuat ketahanan pangannya di masa mendatang.
Kontributor: Supono/ Dwi Budi
Editor: Suripto


Mantap Luar biasa,baru denger dunia pertanian kolaborasinya menggandeng dengan dunia pendidikan sekolah dasar.. lanjutkan
BalasHapusPosting Komentar