(Anak-anak Merayakan
Akhir Sekolah Seperti Narapidana Menemukan Lubang Tembok Penjara)
Tanggapan untuk tulisan Riswo Mulyadi
(
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Setiap musim kelulusan, negeri ini seperti mengulang adegan
yang sama dengan ekspresi yang sama pula: maklum.
Anak-anak SMA/SMK
konvoi di jalan. Knalpot meraung-raung seperti genderang perang. Seragam
dicorat-coret. Jalan raya berubah menjadi panggung histeria kolektif.
Video-video bertebaran di media sosial. Orang dewasa mengelus dada sambil
tersenyum tipis:
“Namanya juga anak muda.”
Lalu sebagian penulis mencoba memahami itu sebagai gejolak
psikologis remaja. Sebagai pencarian identitas. Sebagai kebutuhan eksistensi.
Sebagai bentuk catharsis generasi yang sedang takut kehilangan masa mudanya.
Penjelasan itu tidak salah.
Tetapi mungkin terlalu lembut untuk sebuah kenyataan yang
sesungguhnya keras.
Sebab saya justru melihat pesta kelulusan itu bukan sekadar
ledakan emosi remaja.
Saya melihatnya sebagai bocoran paling jujur tentang
gagalnya sekolah membangun hubungan sehat dengan murid-muridnya.
Mari kita jujur sekali saja.
Kalau sekolah benar-benar menjadi tempat bertumbuh yang
menyenangkan, mengapa akhir dari perjalanan itu dirayakan seperti tahanan yang
baru menemukan pintu keluar?
Mengapa ekspresi dominannya bukan haru, bukan syukur, bukan
penghormatan terhadap ilmu melainkan kebisingan?
Mengapa begitu banyak anak merasa harus tancap gas,
berteriak, ugal-ugalan, dan memenuhi jalan raya untuk mengatakan:
“Aku bebas!”
Bebas dari apa?
Dari pelajaran? Dari tugas? Dari tekanan? Dari seragam? Atau
dari sistem pendidikan yang terlalu lama memperlakukan mereka sebagai objek
administrasi?
Inilah ironi terbesar pendidikan kita.Sekolah begitu rajin
berbicara tentang “pendidikan karakter”, tetapi gagal membaca karakter
emosional muridnya sendiri.Anak-anak dijejali slogan:
profil pelajar,budaya
positif,disiplin,moderasi,literasi,numerasi,pembelajaran mendalam,dan entah
istilah apalagi yang lahir dari ruang rapat ber-AC.
Tetapi diam-diam banyak murid menjalani sekolah seperti
pekerja shift di pabrik kurikulum.
Datang pagi. Duduk. Mencatat. Mengerjakan tugas. Diuji.
Dibandingkan. Diranking. Lalu dipaksa percaya bahwa semua itu bernama “masa
paling indah.”
Padahal bagi sebagian anak, sekolah justru ruang cemas yang
panjang.Cemas nilai. Cemas gagal. Cemas dimarahi. Cemas tidak diterima. Cemas
tidak punya biaya kuliah. Cemas menjadi pengangguran setelah lulus.
Lalu kita heran ketika kelulusan berubah menjadi ledakan
liar?
Tidak.Itu bukan kejutan.
Itu akumulasi.Konvoi kelulusan sebenarnya bukan pesta. Ia
lebih mirip ventilasi sosial.
Tempat anak-anak meluapkan sesuatu yang bertahun-tahun
ditekan tetapi tidak pernah sungguh-sungguh didengar.
Dan yang paling ironis: orang dewasa sibuk menyalahkan anak,
padahal anak-anak itu hanya sedang memantulkan wajah sistem yang membesarkan
mereka.
Kita ini bangsa yang aneh.
Pidato pendidikan penuh kata “generasi emas.” Tetapi praktik
pendidikannya sering membuat anak merasa seperti besi berkarat yang dipukul
setiap hari demi angka-angka statistik.
Kita terlalu sibuk mengukur prestasi, tetapi lupa mengukur
kesehatan jiwa murid.
Terlalu sibuk mengejar kelulusan, tetapi lupa menyiapkan
kedewasaan.
Terlalu sibuk membuat aturan, tetapi lupa menciptakan makna.
Akibatnya sekolah menghasilkan lulusan yang mungkin hafal
rumus, tetapi gagap menghadapi hidup.
Dan ketika kelulusan tiba, yang muncul bukan ketenangan
seorang pembelajar yang siap memasuki dunia baru.
Yang muncul justru euforia seperti orang yang berhasil lolos
dari tekanan panjang.Mungkin inilah pertanyaan paling menyakitkan yang jarang
berani diajukan:Apakah anak-anak itu sebenarnya sedang merayakan kelulusan?Atau
sedang merayakan keberhasilan meninggalkan sekolah?
Kalau jawabannya yang kedua, maka problemnya bukan pada
konvoi.Problemnya ada pada kita semua.Pada sistem pendidikan yang terlalu
sering membanggakan angka kelulusan, tetapi gagal membuat murid jatuh cinta
pada proses belajar.
Dan barangkali di situlah ironi terbesar pendidikan
Indonesia hari ini:Sekolah ingin melahirkan generasi emas, tetapi terlalu
sering lupa bahwa emas tidak dibentuk dengan tekanan tanpa makna.
Generasi Emas dibentuk dari manusia-manusia muda yang merasa
dihargai, didengar, dipahami, dan dituntun menjadi dewasa. Bukan sekadar dibuat
kenyang dan tidak berpikir. Bukan sekadar diluluskan.
Ajibarang, 7 Mei 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar