Manusia Modern: Di Antara Teori Kesetaraan dan Hukum Rimba Sosial



Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Ada sebuah ironi besar yang tersembunyi di balik kemegahan peradaban manusia masa kini. Di ruang-ruang seminar ber-AC yang dingin, di ruang kelas yang tertib, di mimbar-mimbar agama yang suci, hingga di kolom-kolom komentar media sosial yang riuh, kita begitu fasih berbicara tentang kemanusiaan universal. Kita berseru lantang tentang kesetaraan derajat, tentang hak asasi yang sama, tentang saling menghormati, dan tentang cinta kasih yang melampaui batas. Kita mengajarkan dan mengulang-ulang bahwa setiap manusia lahir sama, berharga sama, dan mulia derajatnya.

 

Namun, begitu acara selesai, begitu diskusi usai, begitu kita menutup buku atau mematikan layar gawai, kita kembali mengenakan “seragam” kehidupan nyata. Dan sejak detik itu juga, sekat-sekat sosial mulai tumbuh subur di sekeliling kita. Sekat itu kadang bernama jabatan, kadang bernama organisasi atau instansi, kadang bernama agama atau aliran kepercayaan, kadang bernama partai politik, atau sesederhana warna kaos dan logo komunitas yang kita kenakan.

 

Fenomena ini bukan sekadar pengamatan biasa, melainkan realitas sosiologis yang diteliti oleh sosiolog terkemuka seperti Émile Durkheim, yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang secara alami membutuhkan pengelompokan dan identitas kolektif. Identitas itu berfungsi memberi rasa aman, rasa memiliki, dan batasan yang jelas antara “kita” dan “mereka”. Anehnya, logika ini bekerja sangat sederhana namun sangat kuat: saat seseorang memakai kaos yang sama, berlogo sama, atau memiliki atribut keanggotaan yang sama, tiba-tiba ia dianggap “saudara seperjuangan”, satu frekuensi, dan satu derajat. Namun begitu atributnya berbeda, statusnya perlahan bergeser menjadi orang luar, outsider, atau “bukan bagian dari kami”, yang keberadaannya sering kali tidak sepenuhnya diterima atau dianggap setara.

 

Hubungan manusia di era modern ini ternyata sering kali setipis kain yang kita pakai, setipis simbol yang kita tampilkan. Kita yang begitu bangga menyebut diri sebagai makhluk rasional, beradab, dan berbudaya, nyatanya masih terjebak dalam pola pikir purba: menilai manusia bukan dari isi kepala dan hatinya, melainkan dari tanda pengenal yang melekat padanya.

 

Identitas Simbolik dan Jebakan Ego Kelompok

 

Dalam perspektif budaya, Clifford Geertz pernah mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang hidup dalam jaring makna yang ia rajut sendiri. Makna-makna itu disimbolkan lewat benda, perilaku, dan atribut. Sejak zaman suku-suku kuno yang memakai tanda tubuh atau hiasan kepala, hingga era digital saat ini yang memakai lencana akun, badge keanggotaan, atau jabatan dalam struktur birokrasi, naluri dasar manusia tetap sama: ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Kelompok memberi perlindungan, memberi pengakuan eksistensi, dan memberi kekuatan.

 

Namun di situlah letak jebakan bermula. Simbol yang seharusnya hanya berfungsi sebagai alat pengenal, perlahan berubah menjadi tembok pemisah yang kokoh. Seragam bukan lagi sekadar kain pembeda tugas, melainkan lambang status dan kekuasaan. Logo bukan lagi sekadar gambar identitas, melainkan penanda kasta sosial. Komunitas bukan lagi ruang bertemu dan bersilaturahmi, melainkan benteng eksklusivitas yang menjaga jarak dengan dunia luar.

 

Lalu lahirlah apa yang disebut oleh sosiolog sebagai etnosentrisme: keyakinan bawah sadar bahwa kelompok kitalah yang paling benar, paling hebat, dan paling berharga. Akibatnya, yang berada di dalam lingkaran merasa lebih manusia, lebih berhak, dan lebih dihargai dibandingkan mereka yang berada di luar lingkaran. Muncul dikotomi tajam: “Kami dan Mereka”, “Kita dan Mereka”, “Satu Geng dan Bukan Geng Kami”.

 

Ironi teknologi modern semakin memperparah kondisi ini. Teknologi informasi yang sejatinya diciptakan untuk menyatukan dunia, justru sering kali menjadi alat untuk memperkokoh tembok-tembok identitas itu. Lewat algoritma media sosial, kita hanya mendengar suara yang sefrekuensi dengan kita, hanya bertemu pandangan yang sejalan, dan semakin mengukuhkan persepsi bahwa kelompok kitalah yang paling benar. Manusia modern memang berhasil menciptakan teknologi canggih, pesawat antariksa, dan kecerdasan buatan, tetapi tampaknya ia gagal membereskan penyakit tertua kemanusiaan: kesombongan identitas dan fanatisme kelompok.

 

Equality dalam Teori, Hierarki dalam Praktik

 

Di bangku sekolah, di buku filsafat, dan dalam dokumen-dokumen kenegaraan, teori kemanusiaan selalu terdengar sangat indah dan mulia. Kita diajarkan: “Semua manusia setara”, “Semua manusia wajib dihormati”, dan “Kemuliaan seseorang hanya dibedakan oleh ketakwaan dan akhlak mulianya”.

 

Namun, realitas sosial tidak bekerja sesederhana slogan atau teori etika. Ada masalah mendasar yang sering kali kita abaikan: Taqwa tidak punya barcode, dan akhlak mulia tidak memiliki tampilan fisik. Tidak ada alat pemindai yang bisa kita arahkan ke seseorang untuk mengukur kedalaman hatinya, ketulusan niatnya, atau kualitas moralnya. Nilai-nilai luhur itu bersifat abstrak, tersembunyi, dan sulit dibuktikan secara kasat mata.

 

Karena itulah, dalam kehidupan nyata, manusia cenderung lebih mudah menilai dan menghargai sesuatu yang tampak jelas di mata. Kita lebih sering memberi tempat utama bagi mereka yang memiliki jabatan tinggi, kekayaan melimpah, popularitas luas, kekuasaan besar, penampilan meyakinkan, jaringan luas, dan pengaruh nyata. Dunia sosial bekerja dengan indikator visual dan materi.

 

Akibatnya, sering kali kita menyaksikan ketimpangan yang menyakitkan namun nyata: orang yang berakhlak baik, jujur, dan tulus namun hidup sederhana atau miskin, sering kali hanya dipuji dalam pidato kenegaraan atau ceramah agama. Di kehidupan sehari-hari, ia sering kali berada di pinggiran, kurang didengar, dan kurang dihargai. Sebaliknya, orang yang mungkin kurang peduli pada moral, namun kaya raya, punya kuasa, atau punya koneksi luas, hampir selalu mendapat kursi paling depan, sapaan paling hangat, dan penghormatan paling besar.

 

Inilah perbedaan tajam antara dunia idealita dan dunia realita. Di dunia ideal, manusia dimuliakan karena moralitasnya. Di dunia nyata yang keras ini, manusia sering kali dihargai karena utilitasnya - seberapa berguna dia bagi kepentingan orang lain, seberapa besar pengaruhnya, dan seberapa keras suaranya terdengar. Nilai seseorang sering kali diukur bukan dari kemanusiaannya, melainkan dari apa yang bisa diberikannya kepada struktur kekuasaan yang ada.

 

Asu Gede Menang Kerahe: Hukum Rimba dalam Kemasan Modern

 

Orang Jawa sejak berabad-abad yang lalu tampaknya sudah membaca peta sosial ini dengan sangat jujur dan tajam, jauh sebelum sosiologi menjadi ilmu formal. Ada sebuah ungkapan yang terdengar kasar namun menyimpan filsafat sosial yang sangat dalam dan pahit: “Asu gede menang kerahe”. Secara harfiah artinya: “Anjing yang besar akan menang dalam perkelahian.”

 

Ungkapan ini bukan sekadar pepatah kampung, melainkan refleksi realitas bahwa dalam banyak ruang kehidupan, kekuatan masih menjadi penentu utama kebenaran dan kemenangan. Yang punya kuasa lebih didengar, yang punya modal lebih dihormati, yang punya massa lebih ditakuti, dan yang punya posisi lebih dituruti.

 

Dari sini kita bisa melihat bahwa manusia modern sebenarnya belum terlalu jauh bergerak meninggalkan hukum rimba. Bedanya hanyalah pada kemasan dan gayanya saja. Dulu, pertarungan kekuasaan di hutan belantara memakai taring dan cakar untuk mempertahankan wilayah dan kelompok. Sekarang, di gedung-gedung tinggi perkotaan dan institusi pendidikan, pertarungan itu dilakukan memakai jabatan, pangkat, dan aturan main. Dulu, hewan saling menerkam demi makanan dan wilayah kekuasaan. Sekarang, manusia saling menjatuhkan, saling mendompleng, atau saling menyingkirkan demi posisi sosial, jabatan struktural, dan pengakuan status.

 

Inti pertentangannya sama persis: perebutan kekuasaan dan dominasi. Bedanya hanya bahasa yang digunakan: dulu teriakan dan gonggongan, sekarang beralih menjadi bahasa diplomatis, rapat tertutup, surat keputusan, dan manuver birokrasi. Sosiolog Karl Marx pernah mengemukakan dialektika pertentangan kepentingan sebagai penggerak sejarah; di sini kita melihatnya dalam bentuk paling dasar: pertentangan antara yang kuat dan yang lemah, antara yang punya akses dan yang terpinggirkan.

 

Wirya, Arta, Winasis: Tiga Pilar Realitas Sosial

 

Kearifan budaya Jawa juga meninggalkan rumusan yang sangat realistis mengenai bagaimana masyarakat memandang seseorang, lewat konsep Wirya, Arta, Winasis. Artinya: Kewibawaan, Harta, dan Kepandaian. Tiga hal ini dianggap sebagai modal utama dan penimbang harga diri seseorang di mata masyarakat.

 

Ini adalah pengakuan jujur bahwa realitas sosial tidak selalu berjalan di jalur romantis seperti dalam dongeng. Orang yang bijak dan berilmu namun tidak punya kekuatan, koneksi, atau perlindungan, sering kali hanya menjadi penonton perjalanan sejarah. Orang yang baik hati namun tidak memiliki harta atau pengaruh, kadang hanya menjadi objek kasihan belaka, bukan mitra yang setara. Orang yang pintar dan cerdas namun tidak memiliki keberanian atau sandaran, sangat mudah disingkirkan dari panggung utama.

 

Maka, manusia modern pun hidup dalam ketegangan abadi, dalam dialektika yang melelahkan antara idealisme moral dan kerasnya realitas sosial. Di satu sisi, kita tahu dan ingin agar dunia ini berjalan atas dasar keadilan dan kasih sayang. Di sisi lain, kita merasakan bahwa dunia ini sering kali tunduk pada hukum kekuatan dan kepentingan. Kita berjuang menyeimbangkan diri antara apa yang seharusnya terjadi, dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

Lalu, Apakah Kemanusiaan Itu Bohong?

 

Menghadapi realitas yang demikian pahit, muncul pertanyaan besar yang sering menghantui kesadaran kita: Apakah semua ajaran tentang kesetaraan dan kemanusiaan itu hanyalah kebohongan besar? Apakah etika hanya dibuat untuk menenangkan mereka yang lemah?

 

Jawabannya tegas: Tidak.

 

Kemanusiaan, kesetaraan, dan nilai-nilai luhur itu tetap benar, tetap penting, dan tetap mutlak diperlukan. Ia bukan kebohongan, melainkan arah yang harus dituju. Ia adalah kompas moral yang menjaga agar peradaban ini tidak kembali sepenuhnya menjadi hutan belantara. Ia adalah cahaya yang mencegah kita tenggelam sepenuhnya dalam kegelapan kepentingan.

 

Namun, kita perlu berani jujur mengakui satu hal: kehidupan sosial sering kali tidak digerakkan oleh idealisme, melainkan oleh kepentingan. Inilah alasan mendasar mengapa banyak orang merasa sangat kecewa saat mereka beranjak dewasa. Sejak kecil, kita diajarkan dongeng bahwa dunia ini selalu menghargai kebaikan, kejujuran, dan kebenaran. Namun begitu kita terjun ke dunia nyata, ke sekolah, ke kantor, ke masyarakat, kita menemukan fakta yang berbeda: dunia ini jauh lebih sering menghargai kekuatan, pengaruh, dan kemampuan tawar-menawar.

 

Namun justru di sinilah letak nilai luhur kemanusiaan itu diuji dan dibuktikan. Menghormati manusia yang berkuasa, yang kaya, yang satu kelompok, atau yang populer itu sangat mudah dilakukan. Itu adalah naluri dasar manusia untuk mendekat pada kekuatan.

 

Yang sulit, dan yang mulia, adalah tetap mampu menghormati manusia lain tanpa melihat seragamnya, tanpa melihat kantongnya, tanpa melihat jabatannya, dan tanpa melihat warna kaosnya.

 

Nilai kemanusiaan sejati teruji saat kita berhadapan dengan mereka yang tidak bisa memberi keuntungan apa pun kepada kita, mereka yang berada di luar kelompok kita, mereka yang tidak punya suara, dan mereka yang dianggap “biasa saja”. Apakah kita tetap melihat mereka sebagai manusia yang sama derajatnya?

 

Penutup: Menjadi Manusia di Tengah Rimba Modern

 

Maka, barangkali masalah terbesar manusia modern hari ini bukanlah kurangnya teori, kurangnya buku, atau kurangnya teknologi tentang kemanusiaan. Teori tentang kesetaraan sudah terlalu banyak tertulis, rumus-rumus etika sudah terlalu banyak diajarkan, dan teknologi komunikasi sudah sangat canggih menyatukan kita.

 

Yang benar-benar kurang adalah keberanian dan kejujuran untuk menjalani teori-teori itu saat itu tidak menguntungkan bagi diri sendiri.

 

Kita sangat mudah berbicara tentang kesetaraan saat posisi kita aman, saat kita menjadi penguasa, atau saat kita tidak rugi apa-apa. Tetapi kita sering kali menjadi sangat sulit untuk berlaku adil dan setara saat ego kita tersentuh, saat status kita terancam, atau saat kepentingan kita terusik.

 

Kita harus sadar kembali: hubungan manusia mungkin sering kali hanya setipis warna kaos, hanya selembar seragam, atau hanya sebatas kepentingan yang sama. Tetapi justru karena itulah, kita dituntut untuk terus belajar dan berusaha keras menjadi manusia yang sesungguhnya. Menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar anggota kelompok, bukan sekadar pemakai simbol, bukan sekadar makhluk sosial yang bergerak mengikuti siapa yang paling kuat.

 

Sebab, jika di balik kemegahan gedung, kemajuan teknologi, dan keramaian kota besar ini, kita masih tunduk sepenuhnya pada hukum “asu gede menang kerahe”, maka peradaban modern yang kita banggakan ini tidak lain hanyalah hutan belantara yang penghuninya memakai jas, dasi, dan seragam rapi. Dan di sanalah, kita akan gagal menjadi manusia, dan hanya berhasil menjadi hewan yang pandai berpakaian.

 

Ajibarang, 9 Mei 2026





Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama