(Membaca Tulisan Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja: Ujian,
Lulus & Kebenaran yang Gugur, Catatan dari Ruang Kelas yang Sunyi / Info
Banyumas 06 Mei 2026)
Tulisan
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja menghadirkan kegelisahan yang relevan sekaligus
mendesak: tentang evaluasi pendidikan yang kehilangan daya pantulnya sebagai
cermin kebenaran. Dalam bahasa yang puitik namun tajam, penulis mengajak kita
menengok ruang kelas bukan sekadar sebagai tempat belajar, tetapi sebagai arena
negosiasi antara idealitas dan realitas.
Kritik
utama tulisan ini terletak pada praktik “pemolesan nilai” yang perlahan
menggeser makna evaluasi. Rujukan pada Ralph Tyler, Benjamin Bloom, hingga Lee
Cronbach memperkuat argumen bahwa yang sedang goyah bukan sekadar teknis
penilaian, melainkan fondasi kepercayaan dalam sistem pendidikan itu sendiri.
Ketika nilai tidak lagi dipercaya oleh jenjang berikutnya, maka yang runtuh
bukan hanya angka, tetapi legitimasi.
Namun
demikian, persoalan ini barangkali tidak berdiri dalam ruang hampa. Sekolah dan
guru kerap berada dalam tekanan berlapis: tuntutan kelulusan tinggi, citra
institusi, hingga ekspektasi orang tua. Dalam konteks ini, “kompromi” yang
disinggung penulis bisa dibaca bukan semata sebagai kegagalan moral, tetapi
juga sebagai gejala sistemik yang membutuhkan pembenahan menyeluruh.
Di
sinilah letak pentingnya membedakan antara kritik dan jalan keluar. Tulisan ini
kuat sebagai alarm, tetapi tantangan berikutnya adalah merumuskan langkah
konkret: bagaimana membangun sistem evaluasi yang tidak hanya adil secara
konseptual, tetapi juga realistis untuk dijalankan di lapangan. Standarisasi
yang jelas, penguatan integritas pendidik, serta keberanian institusi untuk
menerima “ketidaknyamanan angka” menjadi beberapa prasyarat yang tak bisa
ditunda.
Bagian
“jalan sunyi” yang ditawarkan penulis menjadi penutup yang reflektif sekaligus
normatif. Ia mengingatkan bahwa di tengah kerumitan sistem, selalu ada ruang
bagi pilihan personal: untuk tetap jujur, tetap menjaga standar, meski tidak
populer. Ini penting, meski tidak cukup jika tidak diiringi perubahan
struktural.
Akhirnya,
tulisan ini layak dibaca sebagai pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar soal
kelulusan, melainkan tentang kejujuran proses. Jika cermin evaluasi terus
dibiarkan buram, kita bukan hanya gagal menilai siswa, tetapi juga gagal
mengenali wajah pendidikan kita sendiri.
Karang Anjog, 06 Mei 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.
إرسال تعليق