Pesta Kelulusan dan Anak-anak yang Ingin Diingat



Oleh: Riswo Mulyadi

Kota-kota kecil maupun besar di Indonesia punya penanda musim yang khas. Ada musim hujan, musim mudik, musim kampanye, dan satu lagi: musim kelulusan SMA. Pada hari-hari itu, jalan raya mendadak berubah menjadi panggung energi muda yang nyaris meledak. Konvoi sepeda motor beriringan. Klakson bersahut-sahutan. Seragam sekolah dicoret dengan spidol warna-warni, cat semprot, bahkan tanda tangan yang bertumpuk seperti grafiti emosional di atas kain putih abu-abu.


Mereka tampak bahagia. Dan mungkin memang sedang bahagia.

Tetapi seperti banyak peristiwa dalam hidup remaja, kebahagiaan itu jarang sesederhana yang terlihat.

Saya selalu merasa, pesta kelulusan anak SMA adalah semacam persimpangan psikologis yang sangat manusiawi. Di usia itu, seseorang sedang berada di titik yang ganjil: terlalu muda untuk disebut matang, tetapi terlalu dewasa untuk terus dianggap anak-anak. Mereka sedang belajar meninggalkan sesuatu, sekaligus takut kehilangan terlalu banyak.


Karena itu, kelulusan sering dirayakan dengan berlebihan.

Dalam Psikologi Remaja, fase ini ditandai oleh kebutuhan besar untuk membentuk identitas. Remaja ingin dikenali, diingat, dianggap ada. Maka coretan di baju menjadi lebih dari sekadar iseng. Ia seperti kapsul waktu. “Aku pernah menjadi bagian dari hidupmu.” “Kita pernah melewati hari-hari ini bersama.”


Ada sesuatu yang mengharukan di sana.

Tetapi juga ada sesuatu yang rapuh.

Sebab generasi hari ini hidup di tengah budaya yang menuntut segala hal untuk tampil. Kesedihan harus terlihat. Kebahagiaan harus direkam. Kelulusan pun seolah belum lengkap tanpa konvoi, video, unggahan media sosial, dan keramaian yang memancing perhatian.


Mungkin itu sebabnya jalan raya menjadi penting. Jalan raya memberi penonton.

Konvoi bukan hanya soal bergerak bersama. Ia adalah pertunjukan eksistensi. Dalam Social Identity Theory, seseorang merasa lebih kuat ketika berada dalam kelompok. Identitas pribadi melebur ke dalam identitas kolektif. Anak-anak yang sehari-hari mungkin pendiam mendadak menjadi sangat berani ketika berada di tengah rombongan.


Kadang terlalu berani.

Helm dilepas. Aturan lalu lintas terasa tidak penting. Yang penting adalah momen ini terasa besar. Terasa layak dikenang.

Dan di situlah ironi mulai tumbuh.

Pendidikan, yang bertahun-tahun berbicara tentang disiplin, tanggung jawab, dan kedewasaan, justru ditutup dengan perayaan yang kadang memperlihatkan kebalikannya. Seolah-olah setelah selesai belajar aturan, yang paling ingin dilakukan adalah melanggarnya.


Namun saya juga berpikir, mungkin kita terlalu mudah menghakimi anak-anak itu.

Kita lupa bahwa remaja selalu punya hubungan yang rumit dengan kebebasan. Mereka ingin dilepas, tetapi juga takut sendirian. Mereka ingin dianggap dewasa, tetapi diam-diam masih membutuhkan tempat pulang. Kelulusan menjadi simbol dari semua itu: perpisahan, harapan, kecemasan, dan rasa kehilangan yang bercampur dalam satu hari.


Karena itu, mereka membuat keramaian.

Karena diam kadang terlalu menakutkan.

Saya membayangkan seorang siswa yang tertawa paling keras di atas motor mungkin sebenarnya sedang cemas memikirkan masa depan. Tentang kuliah yang mahal. Tentang pekerjaan yang belum jelas. Tentang pertemanan yang mungkin segera renggang setelah seragam ditanggalkan.


Dalam perspektif Catharsis, ledakan emosi seperti ini memang bisa dibaca sebagai pelepasan tekanan. Setelah bertahun-tahun hidup dalam target, ujian, dan ekspektasi, kelulusan terasa seperti membuka pintu penjara kecil bernama rutinitas.

Tetapi pelepasan tanpa arah mudah berubah menjadi kekosongan baru.

Itulah mengapa pesta kelulusan sering terasa paradoksal: sangat ramai, tetapi diam-diam menyimpan kesepian.

Saya kira, yang perlu dipikirkan bukan sekadar bagaimana menghentikan coret-coret atau konvoi. Larangan saja tidak pernah cukup. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membantu generasi muda menemukan cara merayakan yang lebih bermakna.


Karena pada akhirnya, mereka hanya ingin satu hal yang sangat manusiawi: merasa hidup mereka berarti.

Dan mungkin tugas kita bukan mematikan kegembiraan itu, melainkan membantu mereka memahami bahwa menjadi dewasa bukan tentang seberapa gaduh kita merayakan akhir, tetapi seberapa tenang kita berjalan menuju awal yang baru.


Karang Anjog Mei 2026


Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.

 


Post a Comment

أحدث أقدم