Oleh: Riswo Mulyadi
Ketika kita berbicara tentang manfaat sastra dalam ruang
pendidikan, kita sedang tidak membicarakan hal-hal pragmatis seperti bagaimana
cara mendapat nilai ujian yang sempurna atau bagaimana memenangkan persaingan
di dunia kerja. Sastra bekerja di wilayah yang jauh lebih dalam dan sunyi: ia
bekerja di dalam dada anak-anak didik kita, menanam jiwa dan merawat
kemanusiaan mereka.
Di tengah dunia pendidikan yang hari ini makin mekanis di mana
anak-anak kerap diukur layaknya mesin produksi melalui angka-angka
kognitif sastra hadir sebagai penawar. Sastra bukan sekadar materi hafalan
sejarah atau biografi pujangga, melainkan sebuah instrumen penting yang
memiliki manfaat mendasar bagi tumbuh kembang manusia seutuhnya.
Berikut adalah beberapa manfaat utama sastra dalam dunia pendidikan
kita:
1. Mengasah Kepekaan Rasa dan Empati (Aspek Afektif)
Pelajaran matematika atau sains melatih anak untuk berpikir logis
dan lurus. Namun, ilmu-ilmu tersebut tidak bisa mengajarkan bagaimana rasanya
menjadi orang lain. Sastra mengisi kekosongan itu.
Ketika seorang murid membaca cerita tentang seorang petani tua yang
gagal panen, atau tentang perjuangan seorang anak di pelosok desa demi bisa
sekolah, mereka sedang diajak untuk "masuk" ke dalam baju orang lain.
Sastra melatih otot-otot empati anak-anak didik kita. Dari rahim sastralah
lahir generasi yang tidak mudah menghakimi, yang tahu tenggang rasa, dan
memiliki kelembutan hati untuk peduli pada sesama yang lemah.
2. Merawat Ketenangan Batin di Dunia yang Riuh
Anak-anak zaman sekarang dikepung oleh gempuran layar gawai yang
serbacepat, bising, dan instan. Hal ini sering kali membuat mereka menjadi
pribadi yang tidak sabaran, mudah cemas, dan kehilangan daya konsentrasi.
Aktivitas mengapresiasi sastra baik membaca novel yang tebal,
merenungkan sebait puisi, maupun menulis cerita secara perlahan adalah sebuah
laku sunyi. Sastra melatih anak-anak untuk memperlambat tempo batin mereka,
duduk dengan tenang, menyimak dengan sabar, dan merenungkan makna mendalam di
balik untaian kata. Ini adalah oase batin yang sangat langka namun krusial di
era modern.
3. Memperluas Cakrawala Imajinasi dan Berpikir Kritis
"Logika akan membawa kita dari A ke B, namun imajinasi dalam
sastra akan membawa kita terbang ke mana saja."
Sastra tidak pernah menyodorkan kebenaran hitam-putih yang kaku
seperti rumus pasti. Dalam sebuah cerita, ada banyak sudut pandang, ada latar
belakang mengapa seorang tokoh berbuat salah, dan ada konsekuensi moral yang
harus direnungkan. Hal ini melatih daya nalar kritis siswa. Mereka belajar
untuk tidak menelan mentah-mentah informasi, serta mampu melihat sebuah
persoalan kehidupan dari berbagai sisi dengan bijaksana.
4. Menjaga Akar Budaya dan Identitas Bangsa
Melalui karya sastra yang bermutu, anak-anak didik diperkenalkan
pada nilai-nilai luhur, kearifan lokal, dan sejarah berjalan bangsanya. Sastra
lisan, dongeng daerah, hingga novel-novel berlatar budaya mengajarkan mereka
untuk menghormati tradisi, mencintai tanah air, dan mengerti dari mana mereka
berasal. Pendidikan yang mengabaikan sastra terancam melahirkan generasi yang
cerdas di awang-awang, namun tercerabut dari akar buminya sendiri.
Maka, memberikan ruang yang terhormat bagi sastra di
sekolah-sekolah kita bukanlah sebuah kemewahan atau sekadar pengisi waktu
luang. Itu adalah sebuah keharusan.
Pendidikan tanpa sastra hanya akan melahirkan manusia-manusia
cerdas yang dingin, yang mahir menghitung namun gagap dalam meresapi kehidupan.
Dengan sastra, kita sedang memastikan bahwa tunas-tunas muda yang kelak
memimpin negeri ini adalah manusia yang tidak hanya tangguh isi kepalanya,
tetapi juga jernih dan santun budi pekertinya.
Karang Anjog, 30 Mei 2026
Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.
Posting Komentar