Titut Cowong Sewu dan Cara Desa Menolak Punah

 


Titut Cowong Sewu dan Cara Desa Menolak Punah



Oleh: Riswo Mulyadi

 

 Di tengah zaman yang serba cepat ini, desa sering kalah suara.

Orang-orang lebih sibuk membicarakan kecerdasan buatan, konten viral, saham digital, dan hidup serba instan. Sementara di sudut-sudut kampung, ada tradisi yang perlahan menghilang tanpa sempat berpamitan. Tidak mati mendadak, melainkan dilupakan pelan-pelan.


Di tengah keadaan seperti itu, nama Titut Edi Purwanto atau yang akrab disebut Titut Cowong Sewu menjadi menarik untuk dibicarakan.


Ia bukan pejabat. Bukan selebritas. Bukan pula akademisi yang sibuk berbicara di forum-forum hotel. Ia hanya lelaki desa yang memilih menjaga budaya ketika banyak orang justru malu mengaku berasal dari desa.


Titut dikenal sebagai pelestari tradisi Cowongan, ritual khas Banyumasan yang dahulu dipercaya masyarakat sebagai ikhtiar memanggil hujan ketika kemarau panjang datang. Bagi generasi hari ini, Cowongan mungkin terdengar asing. Sebagian mungkin menganggapnya tak lebih dari ritual kuno yang tak lagi relevan.


Tetapi justru di situlah masalahnya. Modernitas sering membuat kita terlalu cepat menertawakan masa lalu, tanpa sempat memahami mengapa tradisi itu lahir.


Cowongan muncul bukan dari ruang kosong. Ia lahir dari masyarakat agraris yang hidupnya sangat dekat dengan alam. Hujan bukan sekadar data cuaca, melainkan soal hidup dan mati sawah. Maka ritual itu bukan semata urusan mistik, tetapi juga bentuk kebersamaan sosial, harapan kolektif, dan cara masyarakat desa berdialog dengan alam.


Dan Titut tampaknya memahami bahwa nilai paling penting dari budaya bukan sekadar bentuk ritualnya, melainkan kesadaran yang dikandung di dalamnya.


Karena itu, ia tidak sekadar “mengawetkan” Cowongan seperti benda museum. Ia menghidupkannya kembali lewat pertunjukan seni, diskusi budaya, dan aktivitas masyarakat. Cowongan di tangan Titut menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia berubah menjadi kritik sosial.


Kritik terhadap manusia modern yang merasa paling pintar tetapi justru semakin jauh dari alam.

Lihat saja hari ini.

Sungai rusak.

Hutan habis.

Sawah berubah jadi beton.

Tetapi manusia masih merasa dirinya makhluk paling maju.


Ironisnya, ketika banjir datang atau kemarau panjang melanda, manusia kembali panik mencari keseimbangan yang dulu pernah diajarkan leluhur.


Di titik itu, tradisi seperti Cowongan terasa memiliki makna baru.


Bukan soal percaya atau tidak percaya pada ritualnya, melainkan soal kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup dengan memusuhi alam.


Yang menarik dari Titut Cowong Sewu adalah caranya menjalani hidup. Ia tidak memosisikan diri sebagai budayawan yang jauh dari rakyat. Ia tetap dekat dengan kehidupan kampung, dengan petani, dengan obrolan warung kopi, dengan lumpur sawah. Ada kesan bahwa baginya budaya bukan panggung mewah, melainkan bagian dari napas sehari-hari.


Dan mungkin memang itu yang mulai hilang hari ini.

Kita terlalu sering menjadikan budaya sekadar acara seremonial. Dipakai saat festival, dipamerkan ketika ada tamu penting, lalu disimpan lagi setelah acara selesai. Tradisi akhirnya kehilangan ruh dan hanya tinggal kostum.


Titut tampaknya menolak jalan itu. Ia memilih menjaga ruhnya tetap hidup.

Tentu saja jalan semacam itu tidak selalu memberi keuntungan besar. Menjaga budaya sering kali tidak menghasilkan popularitas instan. Tetapi dari orang-orang seperti Titutlah kita belajar bahwa tidak semua hal harus diukur dengan jumlah penonton, angka viral, atau tepuk tangan media sosial.


Ada hal-hal yang perlu dijaga karena itu membuat manusia tetap menjadi manusia.

Mungkin itulah sebabnya sosok seperti Titut Cowong Sewu penting di tengah kehidupan yang katanya modern ini. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus membuat manusia tercerabut dari akarnya sendiri.

Sebab pohon boleh tumbuh tinggi ke langit, tetapi ia tetap membutuhkan tanah untuk bertahan hidup.



Karang Anjog, 2026







Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama