Ujian, Lulus & Kebenaran yang Gugur

 


Ujian, Lulus & Kebenaran yang Gugur

Catatan dari Ruang Kelas yang Sunyi.

 

Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Apa alasanmu hari ini untuk tetap tersenyum dan bernapas?

Pertanyaan sederhana itu, di ruang-ruang kelas kita hari ini, terdengar seperti lelucon yang lupa punchline. Sebab di balik napas yang masih teratur, ada sistem evaluasi yang justru tersengal. Ujian Sekolah, TKA (Tes Kemampuan Akademik), TKAD (Tes Kemampuan Akademik Daerah) nama boleh banyak, tapi satu hal yang terasa: kebenaran hasil belajar justru makin kabur.

 

Kita seperti sedang menyusun panggung megah bernama “evaluasi pendidikan”, tetapi aktor utamanya kejujuran diam-diam sudah keluar dari panggung sejak babak pertama.

 

Hasil yang Disesuaikan, Nilai yang Dipoles

Mari kita ulang mantra yang beredar pelan tapi pasti:

Hasilnya disesuaikan

Hasilnya diperindah

Hasilnya dibesut cinta

Hasilnya diproses ulang

Hasilnya dipacking ulang

Dalam teori evaluasi, Ralph Tyler pernah menegaskan: evaluation is the process of determining to what extent educational objectives are actually being realized. Evaluasi adalah cermin. Tapi di sekolah kita, cermin itu sudah dilapisi filter kecantikan.Nilai bukan lagi refleksi kemampuan, melainkan hasil negosiasi: antara standar, tekanan sosial, citra sekolah, dan yang paling sunyi ketakutan akan “angka buruk”.


Benjamin Bloom berbicara tentang mastery learning: siswa diberi kesempatan mencapai penguasaan sejati. Tapi yang terjadi? Kita memberi “penguasaan administratif”. Lulus karena sistem tidak tega menolak. Naik kelas karena tidak ada standar yang benar-benar berani ditegakkan.

 

TKA Ditolak, TKAD Dicurigai: Siapa Percaya Siapa?

Ironinya makin pahit.Perguruan Tinggi Negeri banyak yang diam-diam meragukan nilai TKA dari SMA/SMK.SMA/SMK pun tidak sepenuhnya percaya pada TKA dari SMP.Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini masalah krisis kepercayaan.


Dalam dunia evaluasi, validitas dan reliabilitas adalah dua pilar utama. Tapi bagaimana mungkin sebuah nilai dianggap valid jika bahkan lembaga penerima berikutnya pun tidak percaya?

 

Lee Cronbach, tokoh besar dalam evaluasi pendidikan, pernah mengingatkan bahwa evaluasi harus serve decision-making. Tapi keputusan apa yang bisa diambil jika datanya sendiri diragukan?


Kita sedang membangun rantai evaluasi yang saling mencurigai. Dari SMP ke SMA, dari SMA ke PTN semuanya seperti berkata pelan:

Maaf, kami tidak yakin dengan hasil kalian.”

 

Standar yang Tidak Standar, Kelulusan yang Tidak Lulus

Kelulusan?Kenaikan kelas?

Di atas kertas, semuanya tampak rapi. Tapi di lapangan, setiap sekolah seperti punya “agama evaluasi” sendiri.

Tidak ada benchmark nasional yang benar-benar hidup. Yang ada hanya angka-angka yang dinegosiasikan. Guru dihadapkan pada dilema: antara menjaga standar atau menjaga “stabilitas sosial”.

Akhirnya kita sampai pada titik absurd:Siswa yang tidak siap, dinyatakan siap.Kompetensi yang belum tuntas, dianggap tuntas.Proses belajar yang rapuh, diberi stempel “berhasil”.

John Dewey pernah mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri, bukan sekadar persiapan hidup. Tapi jika evaluasi kita palsu, maka kehidupan yang kita siapkan pun ikut palsu.

 

Sekolah: Pabrik Nilai atau Tempat Belajar?

Mari jujur.Hari ini, sekolah lebih sibuk memastikan “semua lulus” daripada memastikan “semua belajar”.Tes demi tes hadir:

Ujian sekolah,TKA ,TKAD,

Try out.

Asesmen formatif yang berubah jadi sumatif terselubung.Semua ingin mengukur. Tapi tak semua berani mengakui hasil pengukuran.Di sinilah tragedinya:Kita tidak kekurangan instrumen evaluasi.Kita kekurangan keberanian untuk jujur pada hasilnya.Dusta yang Dilegalkan

Dan akhirnya kita sampai pada bait paling getir:

Hasilnya bukan keberhasilan

Hasilnya kepalsuan

Hasilnya dusta yang dilegalkan

Dengan tanpa daya, dengan tanpa tenaga,semua hanya bisa bergumam:

Ya, bagaimana lagi? Inilah adanya.”

Bahkan sesal dan air mata tak lagi cukup.Karena sistem ini tidak meminta penyesalan.

Ia hanya meminta kepatuhan.

 

Jalan Sunyi yang Tersisa

Di tengah semua ini, mungkin hanya ada satu pilihan yang tersisa:Lihat apa yang terlihat

Dengar apa yang terdengar.

Tetap lurus di jalan sunyi. Menjadi guru yang tetap menilai dengan jujur, meski sistem mengajak kompromi.

Menjadi kepala sekolah yang berani menjaga standar, meski sendirian.

Menjadi manusia yang tidak ikut memoles dusta, meski itu terasa lebih “aman”.

 

Selama masih ada denyut nadi,

seharusnya kita masih peduli.

Karena ketika evaluasi pendidikan kehilangan kejujuran,

yang lulus bukanlah siswa melainkan kepalsuan itu sendiri.

Dan saat itu terjadi,yang gagal bukan mereka.Tapi kita.

 

Ajibarang , awal Mei 2026





Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama