KARANGLEWAS, INFO BANYUMAS – Di tengah gempuran arus informasi digital yang kian tak terbendung, puluhan siswa SMPN 3 Karanglewas mendapatkan pembekalan krusial mengenai tata cara berinteraksi di dunia maya tanpa mengorbankan keseimbangan psikologis. Sebelas mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) angkatan 2025, sukses menyelenggarakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja” yang bertempat di Laboratorium IPA SMPN 3 Karanglewas pada Jumat (08/05/2026).
Kegiatan edukatif tersebut menyasar sekitar 70 siswa yang merupakan representasi dari pengurus OSIS, anggota Pramuka, serta para ketua kelas, dengan tujuan agar ilmu yang didapat mampu disebarluaskan kembali kepada rekan sebaya di lingkungan sekolah. Meski Dosen Pendamping, Rohmah Nia Chandra Sari, S.I.Kom., M.I.Kom., berhalangan hadir secara fisik, komitmen para mahasiswa dalam mengawal program terebut tetap berjalan solid demi memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak masif teknologi digital terhadap pola pikir remaja masa kini.
Dalam laporan kegiatannya, panitia pelaksana memaparkan bahwa pemilihan tema kesehatan mental didasari oleh realitas sosiologis di mana media sosial kini telah bertransformasi menjadi identitas kedua bagi para pelajar. Para mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa platform digital pada dasarnya adalah alat komunikasi dan interaksi yang netral, namun dapat berubah menjadi bumerang jika digunakan tanpa kontrol diri yang kuat. Informasi tersebut juga menyoroti bagaimana penggunaan media sosial yang tidak terukur secara perlahan mampu menggerus kondisi psikologis remaja, menciptakan distorsi realitas, hingga mengubah kebiasaan hidup sehari-hari yang semula produktif menjadi konsumtif terhadap konten.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsoed secara bergantian menguraikan deretan dampak negatif yang mengintai jika remaja terjebak dalam pusaran aktivitas digital yang berlebihan. Penjelasan tersebut mencakup fenomena munculnya perasaan rendah diri atau insecure akibat sering membandingkan kehidupan pribadi dengan kurasi hidup orang lain di layar ponsel. Selain itu, mereka menyebutkan bahwa kecanduan media sosial kerap memicu kecemasan akut (anxiety), pola pikir berlebih (overthinking), hingga gangguan ritme sirkadian atau pola tidur yang rusak, yang pada gilirannya akan menurunkan konsentrasi belajar siswa di sekolah.
Sebagai langkah preventif, para pemateri membagikan panduan praktis mengenai "diet digital" atau penggunaan media sosial secara sehat. Strategi tersebut meliputi pembatasan durasi penggunaan gawai, kurasi ketat terhadap konten yang dikonsumsi, hingga pentingnya melakukan detoks digital secara berkala untuk memberikan ruang bagi otak beristirahat. Siswa didorong untuk kembali membumi dengan memperbanyak aktivitas luring (offline) seperti berolahraga, menekuni hobi membaca buku fisik, serta mengasah keterampilan sosial melalui diskusi tatap muka dan aktif berorganisasi di lingkungan sekolah sebagai benteng pertahanan kesehatan mental yang paling efektif.
Kepala SMPN 3 Karanglewas, Mayasari Sasmito, yang hadir langsung memantau jalannya kegiatan, memberikan penekanan khusus pada aspek disiplin diri siswa di hadapan teknologi. Beliau menyadari bahwa tantangan mendidik generasi alpha dan zillenial tidak lagi hanya sebatas teks buku pelajaran, melainkan pada bagaimana mereka mengelola gangguan dari saku celana mereka sendiri.
“Anak-anak harus bisa mengontrol diri, jangan malah dikontrol sama gadget. Kita semua berharap kegiatan ini bermanfaat untuk siswa-siswi kami dan nantinya bisa benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi teori yang lewat begitu saja,” ujar Mayasari Sasmito dengan nada tegas namun penuh harap saat memberikan sambutan di depan peserta.
Beliau juga menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa dari universitas ternama seperti Unsoed memberikan warna baru dalam proses belajar mengajar di sekolahnya. Pendekatan yang lebih cair dan sejawat membuat materi yang berat mengenai psikologi dan komunikasi digital menjadi lebih mudah dicerna oleh para siswa SMP.
“Terimakasih untuk mahasiswa dari Unsoed yang telah memberikan pengalaman berharga untuk siswa kami. Materi ini sangat relevan dengan tantangan zaman sekarang di mana batasan antara dunia nyata dan maya semakin bias,” tambah Mayasari di penghujung sesi kegiatan.
Suasana di dalam ruangan tidak tampak seperti kuliah formal yang kaku. Sebaliknya, interaksi hangat terbangun antara para siswa dan sebelas mahasiswa yang terdiri dari Raden Roro Arimbi Fahti Ningrat, Aulalmuna Nashiroturrahman, Marsya Zaskia Kintani, Malika Putri Meilani, Bernadette Denise Mareskoti, Raissa Zahira Siregar, Muhammad Aly Akbar, Kayla Desfilda Rondonuwu, Meysia Acyuta Gavrilla, Tri Yuanita Natasha Wardhani, dan Sadajiwa.
Program pengabdian tersebut juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk menguji pemahaman siswa mengenai materi yang telah disampaikan. Melalui simulasi dan diskusi kelompok kecil, para siswa diajak untuk mengidentifikasi mana konten yang membawa dampak positif dan mana yang bersifat toksik bagi kesehatan mental mereka.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsoed berharap, melalui inisiatif ini, para kader organisasi di SMPN 3 Karanglewas dapat menjadi agen perubahan (agent of change) di lingkungan pertemanan mereka. Dengan memiliki kesadaran literasi digital yang tinggi, siswa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen konten yang pasif, tetapi mampu menjadi pengguna media sosial yang bijak, kritis, dan tetap memiliki kesehatan mental yang stabil di tengah pesatnya perkembangan teknologi masa depan.
kontributor : Reri Mei
editor : Tim Red


Posting Komentar