DARI TANGAN KECIL MENUJU BANYUMAS TANPA SAMPAH: Aksi Nyata Murid SADARI Menyalakan Semangat Zero Waste 2028




KARANGLEWAS - Semangat menjaga bumi menggema dari lingkungan SD Negeri 1 Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, saat ratusan siswa mengikuti Aksi Edukasi Pemilahan Sampah dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Kamis (11/6/2026). Melalui kegiatan tersebut, para siswa diajak terlibat langsung memilah sampah ke dalam lima kategori berbeda sebagai langkah nyata mendukung program Banyumas Zero Waste 2028. Kegiatan yang berlangsung meriah dan edukatif itu menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat ditanamkan sejak usia dini melalui aksi sederhana namun berdampak besar.


Berbeda dengan peringatan seremonial pada umumnya, kegiatan yang digelar SDN 1 Kediri tidak hanya berfokus pada penyampaian pesan lingkungan secara teoritis. Seluruh siswa dilibatkan secara aktif dalam praktik pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), residu, serta sampah kertas. Dengan metode belajar langsung di lapangan, para siswa memperoleh pengalaman nyata dalam mengenali berbagai jenis limbah yang selama ini sering mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.


“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga memahami langkah konkret yang harus dilakukan. Pemilahan sampah adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki generasi masa depan agar mampu menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan lingkungan,” ujar Kepala SDN 1 Kediri, Candra Septo Rinoaji, S.Pd., M.Pd.


Kegiatan yang berlangsung pada pagi hari tersebut diawali dengan pengarahan dari para guru mengenai jenis-jenis sampah dan dampaknya terhadap lingkungan. Setelah itu, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan praktik pemilahan menggunakan berbagai contoh sampah yang telah disiapkan. Mereka belajar membedakan sisa makanan dan dedaunan sebagai sampah organik, botol plastik dan kaleng sebagai sampah anorganik, baterai bekas sebagai limbah B3, tisu bekas sebagai sampah residu, serta kardus dan kertas sebagai kategori sampah kertas yang masih dapat didaur ulang.


Menurut Candra, kegiatan tersebut sengaja dirancang tidak hanya untuk membangun kesadaran lingkungan, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) peserta didik. Anak-anak diajak menganalisis karakteristik setiap jenis sampah, memahami dampak yang ditimbulkan apabila dibuang sembarangan, serta mencari solusi pengelolaan yang tepat sesuai kategorinya.


“Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di SDN 1 Kediri tidak boleh berhenti pada slogan di spanduk saja. Kita harus melompat ke aksi nyata. Dengan mengajarkan anak-anak memilah sampah ke dalam lima kategori berbeda, kita sedang menanamkan logika berpikir yang sistematis sekaligus karakter peduli lingkungan yang mendalam,” tegas Candra.


Antusiasme para siswa tampak begitu tinggi selama kegiatan berlangsung. Dengan didampingi guru, mereka berkeliling lingkungan sekolah sambil mengumpulkan berbagai jenis sampah yang kemudian dipilah sesuai kategori masing-masing. Beberapa siswa terlihat berdiskusi ketika menemukan sampah tertentu yang sulit diklasifikasikan. Situasi tersebut justru menjadi kesempatan berharga bagi guru untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai karakteristik setiap jenis limbah dan cara penanganannya.


Tidak sedikit siswa yang mengaku baru mengetahui bahwa limbah seperti baterai bekas, lampu bohlam, dan obat kedaluwarsa termasuk kategori sampah B3 yang memerlukan penanganan khusus. Mereka juga belajar bahwa sampah residu seperti tisu bekas dan popok tidak dapat didaur ulang sehingga harus dikelola secara berbeda. Melalui pengalaman langsung tersebut, pemahaman siswa menjadi lebih kuat dibandingkan hanya melalui pembelajaran di dalam kelas.


“Aksi ini adalah investasi jangka panjang. Kita sedang menyiapkan generasi yang siap menyukseskan Banyumas Zero Waste di tahun 2028. Jika sejak bangku sekolah dasar mereka sudah terbiasa disiplin memisahkan mana sampah organik, anorganik, hingga limbah berbahaya, maka budaya bersih dan bebas sampah di Banyumas bukan lagi sekadar target di atas kertas, melainkan sebuah realitas yang kita hidupi bersama,” tambah Candra dengan optimistis.


Lebih jauh, pihak sekolah menilai bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas atau kebijakan pemerintah semata, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, sekolah berupaya menjadikan peserta didik sebagai agen perubahan yang mampu membawa kebiasaan baik tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, edukasi yang diperoleh di sekolah dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan.


Melalui kegiatan ini, SDN 1 Kediri berharap setiap siswa mampu menjadi pelopor budaya hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Langkah kecil yang dimulai dari halaman sekolah di Karanglewas tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya mewujudkan Banyumas Zero Waste 2028. Ketika kesadaran lingkungan tumbuh dari tangan-tangan kecil generasi muda, harapan akan terciptanya masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sebuah kenyataan yang sedang dibangun bersama mulai hari ini.


Video kegiatan dapat disaksikan melalui: Instagram SDN 1 Kediri Karanglewas.


Kontributor: Fatoni, S.Pd.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama