Catatan dari Gigir Bukit Sinawing
Oleh: Riswo Mulyadi
Dari Gigir Bukit Sinawing, jalan-jalan sejarah tampak seperti
sungai yang tak pernah benar-benar kering.
Sesekali airnya surut. Sesekali ia meluap.
Dan demonstrasi adalah salah satu arus yang paling sering muncul
ketika saluran-saluran lain tersumbat.
Di negeri ini, demonstrasi bukan barang baru.
Ia lahir bahkan sebelum republik ini genap bernama Indonesia. Mahasiswa, buruh,
petani, seniman, ulama, hingga ibu rumah tangga pernah turun ke jalan dengan
alasan yang berbeda-beda.
Kadang mereka menang.
Kadang mereka pulang membawa luka.
Tahun 1966, jalanan dipenuhi teriakan tentang perubahan. Tahun
1974, Malari menjadi penanda bahwa kemarahan rakyat bisa berubah menjadi
ledakan sosial. Tahun 1998, mahasiswa menduduki Gedung DPR, dan sejarah
mencatat bahwa suara dari jalan mampu mengguncang kekuasaan yang telah berdiri
selama 32 tahun.
Namun demonstrasi tidak pernah sekadar soal menjatuhkan seseorang.
Ia adalah cara rakyat mengirim surat ketika alamat kekuasaan sudah
tak lagi mau menerima pesan.
Masalahnya, setiap zaman memiliki paradoksnya
sendiri.
Ketika demonstrasi berhasil melahirkan reformasi, sebagian orang
percaya tugas sejarah telah selesai. Seolah demokrasi adalah bangunan yang
selesai dibangun pada 21 Mei 1998.
Padahal demokrasi bukan rumah.
Ia lebih mirip sawah.
Harus terus ditanami, diairi, dan dijaga dari
gulma.
Kalau tidak, ia kembali menjadi semak belukar.
Dari bukit ini, jejak demonstrasi Indonesia
tampak seperti jejak kaki di tanah basah. Ada yang masih jelas. Ada yang mulai
pudar. Ada pula yang sengaja dihapus oleh waktu.
Tetapi satu hal tak pernah berubah.
Demonstrasi selalu lahir dari rasa tidak puas.
Dari harga yang dianggap tak masuk akal.
Dari hukum yang dianggap tak adil.
Dari kekuasaan yang dianggap terlalu jauh dari rakyat.
Begitulah yang terjadi menjelang Reformasi 1998 ketika krisis
ekonomi, kemarahan publik, dan gelombang aksi mahasiswa bertemu dalam satu
titik sejarah. Tragedi Trisakti, pendudukan Gedung DPR/MPR, hingga pengunduran
diri Presiden Soeharto menjadi penanda bahwa jalanan pernah menjadi ruang
sidang terbesar bangsa ini.
Tetapi sejarah juga mengajarkan harga yang mahal.
Reformasi tidak lahir dari panggung yang nyaman.
Ia lahir dari ketakutan, pengorbanan, korban luka, dan mereka yang
tidak pernah pulang ke rumah. Banyak warga hingga hari ini masih mengingat Mei
1998 sebagai salah satu bab paling kelam dalam perjalanan bangsa.
Karena itu, setiap kali melihat demonstrasi,
saya selalu teringat satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita sedang berjalan menuju perubahan?
Ataukah hanya sedang mengulang kemarahan yang sama?
Dari Gigir Bukit Sinawing, saya melihat anak-anak muda masih turun
ke jalan. Spanduk berubah. Tagar berubah. Pemerintah berganti. Tetapi keresahan
tetap menemukan jalannya sendiri.
Mungkin itulah takdir demokrasi.
Ia tidak pernah selesai.
Ia selalu meminta rakyat untuk terus mengawasinya.
Dan selama masih ada orang yang berani bertanya kepada kekuasaan,
selama masih ada warga yang menolak diam ketika merasa diperlakukan tidak adil,
jejak demonstrasi akan terus terbaca di negeri ini.
Bukan sebagai tanda kekacauan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa suara rakyat, betapapun sering
diabaikan, selalu mencari jalan untuk didengar.
Karang Anjog, 14 Juni 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.
إرسال تعليق