Sejak sore hari, suasana lingkungan RT 02 RW 04 tampak ramai oleh kehadiran warga dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga para sesepuh desa hadir memenuhi lokasi kegiatan dengan membawa aneka hidangan yang berasal dari hasil pertanian dan perkebunan di lingkungan sekitar. Berbagai menu tradisional seperti nasi, sayuran, umbi-umbian, hasil kebun, hingga makanan olahan khas desa tersaji rapi sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Allah SWT kepada masyarakat.
Pelaksanaan tasyakuran diawali dengan pembacaan mujahadah Asmaul Husna yang dipimpin oleh Kyai Saefudin. Lantunan 99 nama Allah menggema dengan khusyuk, mengiringi doa-doa yang dipanjatkan bersama agar seluruh warga diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan rezeki, serta dijauhkan dari berbagai musibah. Suasana religius yang menyelimuti kegiatan menjadi bukti bahwa tradisi Suran di lingkungan RT 02 RW 04 tidak dipandang sebagai ritual yang bertentangan dengan ajaran agama, melainkan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT yang dikemas dalam nuansa budaya masyarakat.
Ketua RT 02 RW 04 Desa Dermaji, Purnanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan acara merupakan hasil semangat gotong royong yang masih terjaga kuat di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa tasyakuran Suran bukan hanya sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi media untuk memperkuat hubungan sosial antarwarga agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis. Kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan sederhana seperti ini dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa mendatang.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga RT 02 RW 04 yang telah berpartisipasi dan bergotong royong menyukseskan kegiatan ini. Semoga tasyakuran Suran ini mendatangkan keberkahan bagi kita semua. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan sehingga kebersamaan warga tetap terjaga dengan baik," ujar Purnanto.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Kyai Saefudin. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami makna Suran secara benar agar tidak terjebak pada pemahaman yang keliru. Menurutnya, datangnya bulan Sura atau Muharam dalam kalender Hijriah merupakan momentum untuk memperbanyak ibadah, introspeksi diri, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Kyai Saefudin menerangkan bahwa dalam sejarah Islam, bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Oleh sebab itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak amal saleh, mempererat hubungan dengan sesama, serta menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik.
"Kegiatan ini bukan tanpa dasar. Apa yang kita lakukan hari ini merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT yang dibalut dengan kearifan lokal masyarakat. Selama tradisi tidak bertentangan dengan syariat Islam, justru dapat menjadi media dakwah dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat," tutur Kyai Saefudin.
Ia juga mengingatkan bahwa Suran bukanlah waktu untuk mempercayai berbagai mitos atau keyakinan yang bertentangan dengan ajaran agama. Sebaliknya, masyarakat diajak mengisi bulan Muharam dengan doa, dzikir, sedekah, memperbanyak amal kebajikan, serta mempererat hubungan antarsesama.
"Bulan Sura atau Muharam adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Maka hendaknya kita mengisinya dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, memperkuat silaturahmi, dan saling membantu. Jangan sampai Suran dimaknai dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Yang harus kita yakini adalah semua keberkahan datang dari Allah SWT, sedangkan tradisi hanyalah sarana untuk mempererat persaudaraan," jelasnya.
Usai doa bersama, seluruh warga kemudian berbondong-bondong berkumpul menikmati hidangan yang telah disiapkan. Tidak ada sekat usia maupun status sosial. Semua duduk bersama dalam suasana kekeluargaan, saling berbagi makanan, berbincang hangat, dan mempererat hubungan yang selama ini telah terjalin. Momen makan bersama menjadi simbol kuat nilai gotong royong, kebersamaan, serta rasa syukur atas hasil bumi yang telah dianugerahkan kepada masyarakat Desa Dermaji.
Menariknya, seluruh makanan yang disajikan merupakan hasil pertanian dan perkebunan warga setempat. Hal tersebut menjadi simbol bahwa masyarakat tidak hanya bersyukur atas hasil panen, tetapi juga mendukung ketahanan pangan berbasis potensi lokal. Berbagai hasil bumi yang diolah secara sederhana menjadi sajian yang menggambarkan kekayaan alam Desa Dermaji sekaligus mencerminkan filosofi hidup masyarakat pedesaan yang menjunjung tinggi kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Kegiatan Tasyakuran Suran di RT 02 RW 04 Sirongge akhirnya tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai-nilai religius, sosial, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui perpaduan antara doa bersama, tausiyah keagamaan, serta tradisi makan bersama hasil bumi, masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan harmonis dengan ajaran Islam. Semangat gotong royong, silaturahmi, dan rasa syukur yang tumbuh dalam kegiatan tersebut diharapkan terus terjaga sehingga menjadi warisan berharga bagi generasi muda dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, religius, dan penuh keberkahan.
Kontributor: Suripto
Editor: Suripto


Posting Komentar