SIMONITA, Inovasi Mahasiswa Universitas Telkom Purwokerto Percepat Deteksi Stunting dan Selamatkan Generasi Emas



BANYUMAS, 16 Mei 2026 - Upaya percepatan penanganan stunting di tingkat akar rumput mendapatkan angin segar melalui lahirnya inovasi digital karya mahasiswa Universitas Telkom Purwokerto. Melalui program mata kuliah Informatika Untuk Masyarakat (IUM), tim mahasiswa Program Studi S1 Informatika meluncurkan SIMONITA (Sistem Monitoring Stunting Terpadu), sebuah aplikasi berbasis web yang dirancang untuk membantu kader Posyandu melakukan pemantauan tumbuh kembang balita secara lebih cepat, akurat, dan terintegrasi. Implementasi serta sosialisasi sistem tersebut dilaksanakan di Posyandu Margosari 10 dan Margosari 4, Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Sabtu (16/5/2026).


Peluncuran SIMONITA menjadi jawaban atas tantangan yang selama ini dihadapi kader Posyandu dalam mengelola data kesehatan balita. Sebelum sistem ini hadir, proses pencatatan masih dilakukan secara manual menggunakan buku register yang rentan mengalami kerusakan, kehilangan data, hingga kesalahan perhitungan status gizi. Kondisi tersebut tidak hanya memperlambat proses administrasi, tetapi juga berpotensi menghambat upaya deteksi dini terhadap risiko stunting yang membutuhkan ketepatan data dan kecepatan tindak lanjut.


Ketua tim pengabdi, Annasya Maulafidatu Zahra, menjelaskan bahwa pengembangan SIMONITA berangkat dari hasil observasi langsung di lapangan. Menurutnya, kebutuhan akan sistem digital yang sederhana namun efektif menjadi sangat mendesak mengingat peran Posyandu sebagai garda terdepan dalam pemantauan kesehatan ibu dan anak.


“Ketika kami melakukan pengamatan, kami menemukan bahwa pencatatan masih dilakukan secara konvensional. Cara tersebut memiliki risiko cukup tinggi, mulai dari data yang mudah hilang hingga kesulitan dalam membuat laporan bulanan. Selain itu, perhitungan status gizi secara manual juga berpotensi menimbulkan kesalahan. Dari situlah kami mencoba menghadirkan solusi yang mudah digunakan oleh kader Posyandu,” ujar Annasya.


Bersama tiga anggota tim, yakni Abdee Alamsyah Noer Siyam, Maulisa Elvita Sari, dan Aji Noto Sutrisno, serta di bawah bimbingan dosen Lisda, S.Kom., M.Kom., SIMONITA dirancang sebagai platform berbasis web yang ramah pengguna. Sistem ini dilengkapi sejumlah fitur unggulan seperti formulir input data digital, kalkulator Z-Score otomatis untuk menghitung status gizi balita secara instan, grafik pertumbuhan real-time, hingga fasilitas ekspor laporan dalam format PDF dan Excel yang telah disesuaikan dengan kebutuhan administrasi Puskesmas Kembaran 2.


Annasya menuturkan bahwa tujuan utama pengembangan aplikasi ini bukan sekadar menggantikan buku pencatatan, melainkan membangun sistem monitoring kesehatan anak yang lebih modern dan mudah dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk kader Posyandu dan orang tua balita.


“Kami ingin kader dapat bekerja lebih efisien sehingga waktu yang dimiliki bisa lebih banyak digunakan untuk edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Dengan sistem yang terintegrasi, data pertumbuhan anak juga dapat dipantau secara berkelanjutan sehingga risiko stunting dapat diketahui lebih awal,” katanya.


Salah satu fitur yang mendapat perhatian khusus adalah integrasi layanan komunikasi berbasis WhatsApp. Melalui fitur tersebut, kader Posyandu dapat menyampaikan informasi penting kepada warga, termasuk pengingat jadwal penimbangan dan pemeriksaan kesehatan anak. Kehadiran fitur ini dinilai mampu memperkuat hubungan komunikasi antara Posyandu dan masyarakat sehingga pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif.


Selama kegiatan implementasi berlangsung, tim mahasiswa tidak hanya memperkenalkan aplikasi, tetapi juga melakukan pendampingan secara langsung kepada kader Posyandu. Melalui metode hands-on training, para kader diajarkan cara masuk ke dalam sistem, menginput data hasil pengukuran balita, membaca grafik pertumbuhan, hingga mencetak laporan bulanan yang dibutuhkan untuk pelaporan kepada Puskesmas.


“Kami sengaja memilih metode praktik langsung agar kader dapat merasakan sendiri kemudahan penggunaan aplikasi. Dengan mencoba secara langsung saat kegiatan Posyandu berlangsung, mereka lebih cepat memahami fungsi setiap fitur dan dapat segera menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari,” jelas Annasya.


Respons positif pun datang dari para kader yang menjadi pengguna pertama SIMONITA. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan tim pengabdi, sebagian besar kader mengaku pekerjaan administrasi menjadi jauh lebih ringan. Proses rekapitulasi data yang sebelumnya membutuhkan waktu lama kini dapat dilakukan secara otomatis, sementara perhitungan status gizi yang biasanya dilakukan secara manual dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik.


Apresiasi juga diberikan oleh Bidan Desa Ledug, Ibu Diajeng Henira Putri, yang menerima penyerahan hak akses Super Admin beserta buku panduan penggunaan sistem pada akhir kegiatan. Penyerahan tersebut menjadi simbol keberlanjutan program agar aplikasi dapat dikelola secara mandiri oleh pihak desa dan terus dimanfaatkan dalam kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat.


“Program seperti ini sangat membantu kami dalam meningkatkan kualitas pelayanan Posyandu. Dengan data yang lebih tertata dan mudah diakses, proses pemantauan tumbuh kembang anak menjadi lebih optimal. Kami berharap SIMONITA dapat terus digunakan dan dikembangkan sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat,” ungkapnya.


Kehadiran SIMONITA menjadi bukti bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan tinggi dan masyarakat mampu melahirkan solusi nyata bagi persoalan kesehatan publik. Di tengah upaya nasional menekan angka stunting, inovasi karya mahasiswa Universitas Telkom Purwokerto ini tidak hanya menawarkan efisiensi administrasi, tetapi juga membuka peluang lahirnya transformasi digital di tingkat Posyandu. Dari Desa Ledug, sebuah langkah kecil menuju layanan kesehatan yang lebih modern telah dimulai—membangun harapan agar setiap anak Indonesia dapat tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari ancaman stunting.


Kontributor: Annasya

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama