“Mengikat kepala
bukan untuk memenjarakan gagasan, melainkan memeluk ego agar tak menjadi liar
melintasi batas.”
Di balik kewibawaan
pria Jawa yang mengenakan ikat kepala ini, tersimpan sebuah 'arsitektur
spiritual' rahasia yang mengunci jalan pikiran mereka.
Ada momen-momen
tertentu ketika dunia terasa terlalu bising, dan jalan pikiran kita bergerak
terlalu liar tanpa kemudi. Di saat-saat seperti itulah saya sering kali meraih
selembar kain batik bujur sangkar, melipatnya perlahan, lalu melilitkannya
dengan mantap di kepala. Bagi mata awam yang melintas, iket atau yang kerap
disapa udeng, mungkin tampak sebatas pelengkap karsa busana adat. Sebuah ornamen
estetis untuk pemanis foto atau pemenuh protokol upacara tradisi.
Namun, jika kita
berani melangkah lebih dalam menembus helai-helai kain batik tersebut, kita
akan menemukan bahwa udeng bukanlah penutup kepala biasa. Ia adalah sebentuk
monumen kecil, sebuah simbol sakral nan mendalam tentang bagaimana seorang
manusia belajar menjinakkan dirinya sendiri.
Bukan Sekadar Kain, Tapi Jalan Menuju Kesadaran
Secara etimologis,
leluhur Jawa tidak pernah sembarangan merangkai kata. Nenek moyang kita menamai
kain pelilit kepala ini dengan sebutan udeng, sebuah kata yang berakar erat
pada dua istilah bermakna dalam: mudheng dan dunung.
Menjadi sosok yang
mudheng berarti kita tidak sekadar hidup, melainkan paham dan paham betul akan
arah serta tujuan hidup. Sementara dunung menuntun kita untuk selalu 'tahu
tempatnya', sebuah kepekaan batin untuk memahami posisi, peran, serta
batas-batas etika kita.
Maka, saat seseorang
melingkarkan iket di kepalanya, secara filosofis ia sedang memproklamasikan
sebuah kesadaran batiniah.
Arsitektur Spiritual di Balik Lipatan Kain
Merawat Keheningan di Tengah Zaman Modern
Di era yang serba
cepat dan instan ini, mengenakan iket bagi saya telah menjadi ritual hening
yang menyegarkan. Wibawa sejati seorang pria Jawa terletak pada kemampuannya
menguasai diri sendiri.
Saya suka memakai
iket bukan karena ingin tampak kolot atau sekadar tampil beda. Saya memakainya
karena saya merindukan jalinan kesadaran itu: sebuah jalan sunyi untuk tetap
tenang, tetap bijak, dan tetap menatap lurus ke hadirat Sang Pencipta di tengah
riuhnya zaman.
(Kang RM, 24/07/26)
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.
Posting Komentar