DERMAJI – Semangat gotong royong kembali menjadi kekuatan utama masyarakat Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir. Ketua RW 01 bersama delapan Ketua RT dan sejumlah warga melaksanakan kegiatan pengukuran Jalan Dermaji–Citunggul pada Rabu (1/7/2026) sebagai langkah awal pembagian tugas kerigan atau kerja bakti rutin untuk merawat jalan utama yang menghubungkan Dusun 1 Dermaji dengan Dusun 2 Citunggul. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian masyarakat dalam menjaga akses transportasi yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas warga, sekaligus memperkuat budaya kebersamaan yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat.
Jalan Dermaji - Citunggul memiliki peran yang sangat strategis karena menjadi jalur utama yang digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, mengangkut hasil pertanian, hingga menunjang kegiatan pendidikan dan sosial. Namun, sebagian ruas jalan tersebut melintasi kawasan hutan pinus milik Perhutani yang lokasinya jauh dari permukiman warga. Kondisi tersebut menyebabkan perawatan jalan sering terabaikan sehingga saluran air tersumbat, rumput liar tumbuh menutupi badan jalan, dan beberapa bagian menjadi kurang nyaman bahkan berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama saat musim hujan.
Ketua RW 01 Desa Dermaji, Sugeng, menjelaskan bahwa gagasan pembagian tugas perawatan jalan lahir dari kesadaran bersama akan pentingnya menjaga infrastruktur yang setiap hari dimanfaatkan masyarakat.
“Jalan Dermaji-Citunggul merupakan jalur yang sangat penting bagi warga. Sebagian ruas jalan yang berada di wilayah Dusun 2 Citunggul selama ini telah dirawat oleh saudara-saudara kita di sana. Karena itu, kami di RW 01 yang berbatasan langsung merasa terpanggil untuk ikut mengambil tanggung jawab agar seluruh ruas jalan dapat terawat dengan baik melalui pembagian tugas kepada masing-masing RT,” ujarnya.
Pengukuran jalan dilakukan secara langsung oleh Ketua RW bersama delapan Ketua RT di wilayah RW 01 dengan dibantu beberapa warga. Setiap ruas jalan diukur dan dipetakan untuk menentukan batas tanggung jawab masing-masing RT dalam pelaksanaan kerja bakti atau kerigan. Dengan sistem tersebut, setiap wilayah memiliki beban pekerjaan yang proporsional sehingga kegiatan pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih teratur, efektif, dan berkelanjutan tanpa harus menunggu kondisi jalan mengalami kerusakan yang lebih parah.
Selain mengukur panjang jalan, para peserta juga melakukan identifikasi terhadap sejumlah titik yang memerlukan perhatian khusus. Saluran drainase yang mulai tertutup endapan tanah, semak belukar yang menjalar hingga ke badan jalan, serta beberapa bagian yang memerlukan pembersihan menjadi catatan bersama untuk segera ditangani dalam kegiatan kerja bakti mendatang. Pendataan tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan jadwal kerigan sehingga pekerjaan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Moko, salah seorang Ketua RT yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif yang digagas oleh Ketua RW bersama seluruh pengurus RT. Menurutnya, pembagian tugas merupakan solusi yang tepat agar tanggung jawab pemeliharaan jalan dapat dilaksanakan secara merata oleh seluruh warga.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena jalan merupakan fasilitas bersama. Kalau dirawat bersama-sama, pekerjaannya menjadi lebih ringan dan hasilnya tentu akan lebih baik. Gotong royong seperti ini juga mempererat hubungan antarwarga sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas umum,” katanya.
Bagi masyarakat Dermaji, budaya kerigan bukan sekadar kegiatan membersihkan lingkungan, melainkan bagian dari tradisi sosial yang diwariskan turun-temurun. Melalui kerja bakti, warga tidak hanya menyelesaikan persoalan infrastruktur, tetapi juga memperkuat silaturahmi, membangun komunikasi antartetangga, serta menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Semangat tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan pembangunan desa yang berbasis partisipasi masyarakat.
Pelaksanaan pembagian tugas per RT juga dinilai mampu menciptakan sistem pemeliharaan yang lebih berkesinambungan. Dengan adanya wilayah tanggung jawab yang jelas, setiap RT dapat menyusun jadwal kerja bakti sesuai kondisi lingkungan masing-masing tanpa menunggu instruksi ketika kerusakan sudah terjadi. Pendekatan ini diharapkan mampu mencegah berbagai persoalan yang selama ini muncul akibat keterlambatan penanganan, seperti saluran air yang tersumbat atau rumput liar yang mengganggu jarak pandang pengguna jalan.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya jalan yang bersih dan nyaman dilalui, tetapi juga kesadaran bersama bahwa menjaga fasilitas umum adalah tanggung jawab seluruh masyarakat. Ketika semua warga ikut berpartisipasi, manfaatnya akan dirasakan bersama, baik sekarang maupun untuk generasi berikutnya,” tambah Sugeng, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga infrastruktur desa.
Antusiasme warga yang ikut membantu proses pengukuran menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan masih tumbuh kuat di Desa Dermaji. Kehadiran para Ketua RT dan masyarakat dalam kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan pedesaan. Di tengah berbagai tantangan pembangunan, budaya gotong royong tetap menjadi solusi yang efektif karena mampu menggerakkan partisipasi masyarakat tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan dari luar.
Melalui kegiatan pengukuran Jalan Dermaji - Citunggul sebagai dasar pembagian tugas kerigan, masyarakat RW 01 Desa Dermaji menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dapat berawal dari kesadaran warga untuk menjaga apa yang telah dimiliki bersama. Jalan yang bersih, saluran air yang berfungsi dengan baik, dan lingkungan yang terawat merupakan hasil dari kepedulian kolektif yang terus dipelihara. Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Dermaji diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain bahwa kekuatan masyarakat terletak pada kebersamaan, kepedulian, dan kemauan untuk bergerak bersama demi menjaga nadi kehidupan desa.
Kontibutor: Widi Maji 3
Posting Komentar