KARANGNANGKA, BANYUMAS - Semangat membangun ketahanan pangan dari lingkungan rumah mulai ditumbuhkan mahasiswa KKN Responsif UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto melalui pembagian bibit cabai kepada warga RT 3 RW 1 Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan pada pagi hari tersebut tidak sekadar membagikan tanaman, tetapi menjadi langkah pemberdayaan masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong dan ruang di sekitar rumah sebagai sumber pangan keluarga. Melalui program sederhana yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari itu, mahasiswa KKN Responsif berupaya mengajak warga membangun kebiasaan bercocok tanam secara mandiri sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
Program pembagian bibit cabai tersebut dirancang agar warga tidak hanya menerima tanaman, tetapi juga memperoleh pengetahuan dasar mengenai cara membudidayakannya. Setelah menyiapkan bibit cabai yang sehat dan siap tanam, mahasiswa KKN Responsif menyerahkannya secara langsung kepada warga RT 3 RW 1. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai tahapan perawatan tanaman, mulai dari proses penanaman, penyiraman, pemupukan, hingga pemeliharaan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pendampingan sederhana itu menjadi bagian penting karena keberhasilan program tidak berhenti ketika bibit berpindah tangan, melainkan ditentukan oleh kesediaan warga merawatnya hingga menghasilkan panen. Dengan demikian, warga diharapkan mampu melanjutkan budidaya secara mandiri dan menjadikan kegiatan menanam sebagai kebiasaan produktif di lingkungan rumah.
“Program ini diharapkan dapat menjadi langkah sederhana untuk mengajak warga memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar rumah. Bibit yang diberikan dapat dirawat sehingga nantinya memberikan manfaat bagi kebutuhan pangan keluarga,” ujar salah satu pelaksana kegiatan KKN Responsif.
Menurutnya, cabai dipilih karena merupakan salah satu bahan pangan yang banyak digunakan dalam kebutuhan memasak sehari-hari. Ketika masyarakat mampu menanam cabai sendiri, sebagian kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi dari hasil pekarangan sehingga ketergantungan terhadap pembelian dapat dikurangi. Selain menghasilkan bahan pangan yang segar, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman kepada keluarga untuk mengenal proses bercocok tanam dan memahami bahwa lahan yang selama ini belum termanfaatkan dapat diubah menjadi ruang produktif.
Antusiasme warga RT 3 RW 1 terlihat dalam penerimaan program tersebut. Pemanfaatan lahan di sekitar rumah dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing keluarga. Tidak harus memiliki lahan luas, penanaman dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar tempat tinggal. Dari kegiatan sederhana tersebut, masyarakat didorong untuk melihat pekarangan bukan hanya sebagai ruang kosong, tetapi sebagai bagian dari sumber daya yang dapat memberikan manfaat. Selain cabai, konsep pemanfaatan lahan juga berpotensi dikembangkan untuk berbagai tanaman pangan lainnya sehingga aktivitas bercocok tanam dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih luas bagi keluarga.
“Selain membantu kebutuhan rumah tangga, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kemandirian dan kebersamaan dalam masyarakat,” kata salah satu pelaksana kegiatan.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembagian bibit memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan tanaman cabai. Ada nilai pemberdayaan yang ingin dibangun melalui keterlibatan langsung masyarakat dalam menanam, merawat, dan memanen. Warga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan pertanian dasar secara mandiri, sementara mahasiswa KKN memperoleh pengalaman berinteraksi dan bekerja bersama masyarakat dalam menjawab kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika dilakukan secara konsisten, budidaya cabai di rumah juga memiliki peluang berkembang menjadi aktivitas produktif yang hasilnya dapat dikonsumsi keluarga maupun, dalam skala tertentu, memberikan tambahan nilai ekonomi.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan besar yang harus diselesaikan melalui kebijakan, tetapi dapat dibangun dari partisipasi masyarakat di tingkat keluarga. Semangat gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemandirian menjadi nilai yang berjalan beriringan dalam program KKN Responsif tersebut. Mahasiswa tidak hanya memberikan bantuan berupa bibit, tetapi juga mendorong warga untuk terlibat aktif dalam seluruh proses. Dari penanaman hingga pemanenan, keberlanjutan program berada di tangan masyarakat. Karena itu, keberhasilan sesungguhnya bukan sekadar berapa banyak bibit yang dibagikan, melainkan seberapa banyak tanaman yang tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi warga.
“Kami berharap bibit cabai yang telah dibagikan dapat dijaga dan dimanfaatkan dengan baik oleh warga. Semoga kegiatan sederhana ini dapat menumbuhkan kebiasaan memanfaatkan lahan sekitar sebagai sumber pangan sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat,” ungkap pelaksana kegiatan.
Harapan tersebut menjadi penutup dari sebuah gerakan kecil yang membawa pesan besar tentang pentingnya memulai ketahanan pangan dari lingkungan sendiri. Pembagian bibit cabai di RT 3 RW 1 Desa Karangnangka menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dilakukan melalui program yang rumit. Sebuah bibit yang ditanam dengan kesungguhan dapat tumbuh menjadi tanaman yang bermanfaat, sementara kebiasaan merawatnya dapat berkembang menjadi budaya kemandirian. Dari pekarangan rumah warga Karangnangka, mahasiswa KKN Responsif menanam lebih dari sekadar cabai: mereka menanam harapan agar keluarga semakin mandiri, lingkungan semakin produktif, dan semangat ketahanan pangan terus tumbuh dari rumah ke rumah.
Kontributor: Khoirul ummah
Posting Komentar