Dari Kotak Infak Menjadi Benih Kebaikan, KKN UIN Saizu Tumbuhkan Semangat Berbagi di TPQ Darussalam



SOKAWERA - Sebuah kotak infak sederhana menjadi media untuk menanamkan nilai kepedulian dan kedermawanan kepada generasi muda ketika mahasiswa KKN UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar kegiatan Penyaluran Kotak Infak Bersama dalam rangka Pemberdayaan Pengajar TPQ dan Kegiatan Pendidikan Al-Qur’an di TPQ Darussalam, Desa Sokawera, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa KKN, Ibu Nunung selaku guru ngaji, anak-anak TPQ, serta wali murid. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa kebiasaan berinfak dan bersedekah dapat dikenalkan sejak dini melalui kegiatan sederhana, kreatif, dan menyenangkan.


Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an di TPQ Darussalam, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter anak. Mahasiswa KKN UIN Saizu berupaya membangun pemahaman bahwa berbagi tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak harta. Kebiasaan menyisihkan sebagian yang dimiliki, meskipun kecil, dapat menjadi latihan untuk menumbuhkan keikhlasan, kepedulian, dan rasa tanggung jawab sosial. Ibu Nunung sebagai guru ngaji turut memberikan pendampingan kepada anak-anak agar mereka memahami makna infak secara sederhana sesuai dengan usia mereka. “


Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan seperti ini. Anak-anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga belajar bagaimana berbagi dan peduli kepada orang lain. Semoga kebiasaan kecil ini bisa terus mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ibu Nunung.


Kehadiran kotak infak kemudian menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Mereka diberikan pemahaman bahwa uang yang disisihkan secara ikhlas dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan pendidikan Al-Qur’an maupun kebutuhan bersama. Suasana kegiatan dibuat tidak kaku sehingga anak-anak dapat mengikuti proses dengan antusias. Bagi mahasiswa KKN, pendekatan tersebut penting karena pendidikan karakter akan lebih mudah tertanam ketika diberikan melalui praktik nyata dan pembiasaan, bukan hanya melalui nasihat. Salah seorang anak TPQ yang mengikuti kegiatan tersebut mengaku senang karena mendapatkan pengalaman baru mengenai pentingnya berbagi. 


“Saya senang bisa ikut mengisi kotak infak. Kalau sedikit tetapi dilakukan bersama-sama, ternyata bisa menjadi banyak. Saya ingin terus belajar berbagi dengan teman dan orang lain,” ungkapnya polos.


Bagi mahasiswa KKN UIN Saizu, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk pengabdian yang mempertemukan nilai akademik dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan pemberdayaan pengajar dan pendidikan Al-Qur’an menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung. Hal itu sejalan dengan semangat KKN UIN Saizu tahun 2026 yang menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pemberdayaan masyarakat melalui program yang bersifat kolaboratif dan berdampak. UIN Saizu sendiri menempatkan KKN sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.Dalam kegiatan di TPQ Darussalam, mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga belajar dari pengajar, anak-anak, dan wali murid mengenai praktik pendidikan keagamaan di tengah masyarakat.


Dukungan wali murid menjadi unsur penting dalam membangun keberlanjutan kebiasaan tersebut di luar lingkungan TPQ. Pendidikan tentang infak akan semakin kuat apabila orang tua turut memberikan contoh di rumah, sehingga anak melihat langsung bahwa berbagi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Wali murid juga memiliki kesempatan untuk memperkuat pesan yang diberikan guru ngaji dan mahasiswa KKN melalui pembiasaan sederhana dalam keluarga. Salah seorang wali murid menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut karena dinilai memberikan pengalaman positif bagi anak-anak. 


“Kami sebagai orang tua tentu mendukung kegiatan seperti ini. Anak-anak perlu dibiasakan untuk berbagi sejak kecil. Mudah-mudahan setelah mengikuti kegiatan ini, mereka semakin peka terhadap keadaan orang lain dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” tutur wali murid.


Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar. Sebuah kotak infak dapat menjadi instrumen pendidikan yang sederhana, tetapi memiliki pesan moral yang kuat ketika dilakukan secara konsisten. Anak-anak TPQ belajar tentang keikhlasan, pengajar mendapatkan dukungan dalam menjalankan pendidikan Al-Qur’an, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam membangun komunikasi dan kolaborasi dengan masyarakat. Semangat kebersamaan semacam ini juga memiliki relevansi dengan pola pengabdian UIN Saizu yang mendorong mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat serta membangun kepedulian sosial.  


“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada penyaluran kotak infak saja. Yang lebih penting adalah bagaimana kebiasaan berbagi dan peduli kepada sesama dapat terus dilanjutkan oleh anak-anak, keluarga, dan masyarakat,” kata perwakilan mahasiswa KKN UIN Saizu.


Penyaluran kotak infak di TPQ Darussalam Sokawera akhirnya menjadi sebuah momentum kecil dengan makna yang besar. Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa, guru ngaji, anak-anak, dan wali murid dalam satu semangat untuk membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an, tetapi juga membentuk akhlak dan kepedulian sosial. Dari tangan anak-anak yang belajar menyisihkan sebagian miliknya, tumbuh sebuah pelajaran bahwa kebaikan dapat dimulai dari hal sederhana. Kotak infak bukan sekadar tempat menyimpan uang, tetapi menjadi simbol tumbuhnya kepedulian bahwa generasi yang dekat dengan Al-Qur’an diharapkan juga menjadi generasi yang ringan tangan untuk berbagi, peduli kepada sesama, dan mampu menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama