Dongeng Rasul, Menanam Akhlak: SD NU Master Sokaraja Hidupkan Maulid Nabi dengan Cara Kreatif

 


SOKARAJA - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SD NU Master Sokaraja berlangsung khidmat sekaligus meriah melalui seni dongeng interaktif yang mengajak ratusan siswa meneladani sifat-sifat Rasulullah, Senin (24/8/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Baitul Muslimin, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tersebut mengusung tema “Teladan Nabiku: Inspirasiku dalam Belajar dan Berbuat Baik”. Berbeda dari peringatan Maulid yang hanya dikemas dalam bentuk pengajian formal, sekolah menghadirkan pendongeng asal Rawalo, Banyumas, Ustadz Slamet Ma'mun, S.Pd.I., untuk menyampaikan pesan-pesan kerasulan melalui cerita yang jenaka, komunikatif, dan melibatkan interaksi dengan peserta didik.


Pendekatan tersebut membuat suasana peringatan Maulid Nabi terasa lebih dekat dengan dunia anak. Ratusan siswa dari berbagai tingkatan kelas tampak antusias mengikuti setiap kisah yang disampaikan pendongeng. Melalui gaya tutur yang ringan dan menghibur, siswa diajak mengenal empat sifat utama Rasulullah SAW, yakni siddiq yang berarti jujur, amanah atau dapat dipercaya, tablig yakni menyampaikan kebaikan, serta fatanah yang berarti cerdas. Pesan-pesan tersebut tidak disampaikan sebatas teori, tetapi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga nilai keteladanan Rasulullah lebih mudah dipahami dan dihayati.


Dalam penyampaiannya, Ustadz Slamet mengajak siswa memahami bahwa menjadi anak cerdas tidak cukup hanya dengan memperoleh prestasi akademik. Kecerdasan harus berjalan bersama kejujuran, tanggung jawab, dan kemauan menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Melalui dongeng interaktif, siswa diajak merespons cerita, memahami pesan moral, dan melihat contoh sederhana penerapan sifat Rasulullah dalam kehidupan mereka. 


“Anak-anak harus menjadi pribadi yang cerdas, tetapi kecerdasan itu harus disertai kejujuran dan tanggung jawab. Itulah bagian penting dari keteladanan Rasulullah yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. 


Cara penyampaian yang komunikatif membuat materi keagamaan terasa lebih ringan sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi peserta didik.


Kepala SD NU Master Sokaraja, Dani Sistriani, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, peringatan Maulid Nabi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda tahunan sekolah. Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengajak siswa kembali mengenal dan menghidupkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam proses pendidikan. 


“Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW ke dalam proses pembelajaran anak sehari-hari,” ujar Dani Sistriani. 


Ia menilai pendekatan edukatif melalui dongeng dapat menjadi salah satu metode yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar.


Dani menambahkan, pendidikan karakter membutuhkan pendekatan yang menyenangkan agar pesan yang disampaikan dapat diterima anak dengan baik. Melalui kisah-kisah Rasulullah yang disampaikan secara interaktif, siswa tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga diajak memahami hubungan antara nilai agama dan perilaku sehari-hari. Kejujuran dapat diterapkan ketika mengerjakan tugas, amanah dapat diwujudkan dengan menjalankan tanggung jawab, tablig dapat dilakukan dengan menyampaikan kebaikan, sedangkan fatanah dapat dikembangkan melalui semangat belajar. 


“Melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan ini, kami berharap karakter utama Rasulullah dapat menjadi inspirasi nyata bagi anak-anak dalam belajar dan berbuat baik, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat,” tambah Dani.


Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat menjadi ruang pendidikan karakter yang dikemas secara kreatif. Seni dongeng tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan keagamaan dengan bahasa yang lebih mudah diterima anak. Antusiasme siswa selama mengikuti kegiatan menjadi gambaran bahwa pembelajaran mengenai akhlak dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan tanpa kehilangan substansi. 


“Kami berharap kisah-kisah yang disampaikan hari ini tidak berhenti di masjid atau di sekolah, tetapi dibawa anak-anak ke rumah dan diterapkan dalam kehidupan mereka,” menjadi harapan yang mengiringi kegiatan tersebut.


Peringatan Maulid Nabi di SD NU Master Sokaraja kemudian ditutup dengan doa bersama. Doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, kebaikan lingkungan pendidikan, serta kelancaran seluruh proses belajar-mengajar di sekolah. Dari kegiatan tersebut, pesan yang hendak diwariskan kepada para siswa bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadikan beliau sebagai teladan dalam setiap langkah kehidupan. Siddiq, amanah, tablig, dan fatanah diharapkan tumbuh menjadi nilai yang hidup dalam keseharian siswa, bukan sekadar istilah yang mereka hafalkan. Dengan dongeng yang menghibur dan pesan yang menyentuh, Maulid Nabi di SD NU Master Sokaraja menjadi momentum untuk menanamkan keyakinan bahwa prestasi dan akhlak harus berjalan beriringan. Belajar dengan cerdas, hidup dengan jujur, bertanggung jawab, menyebarkan kebaikan, dan terus meneladani Rasulullah itulah semangat yang diharapkan tumbuh dari peringatan Maulid tahun ini.


Kontributor: Siti Komariyah, S. Pd

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama