MENCARI TUJUH BINTANG BAHASA JAWA: FTBI 2026 WANGON BUKA JALAN MENUJU PANGGUNG PRESTASI KABUPATEN DAN PROVINSI





WANGON - Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Korwilcam Dindik Wangon resmi digelar di SD Negeri 1 Kalipetung, Senin (31/8/2026), dengan mempertemukan para siswa terbaik dari berbagai sekolah dasar di wilayah Wangon. Setiap sekolah mengirimkan satu siswa sebagai perwakilan pada masing-masing mata festival yang diperlombakan. Ajang tersebut menjadi momentum penting untuk menjaring tujuh siswa terbaik yang nantinya diproyeksikan mewakili Korwilcam Dindik Wangon pada tingkat kabupaten, dengan harapan dapat melanjutkan kiprah hingga tingkat provinsi. Tidak sekadar mencari pemenang, FTBI menjadi ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan kemampuan, keberanian, kreativitas, serta kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.


Sejak kegiatan dimulai, suasana kompetisi sekaligus persaudaraan terasa di lingkungan SD Negeri 1 Kalipetung. Para peserta hadir bersama guru pendamping dengan membawa semangat untuk memberikan penampilan terbaik pada cabang festival yang mereka ikuti. Berbagai persiapan telah dilakukan sebelum peserta datang ke arena perlombaan, mulai dari latihan materi, pemantapan teknik penampilan, hingga kesiapan mental. Kehadiran peserta dari berbagai sekolah juga menghadirkan kesempatan bagi anak-anak untuk bertemu dengan teman baru dan mendapatkan pengalaman berharga. Bagi sebagian peserta, festival tersebut bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga kesempatan pertama untuk tampil dan menguji kemampuan di hadapan peserta lain serta para penilai.


Ketua Panitia FTBI Korwilcam Dindik Wangon, Rudiyanto, S.Pd., menegaskan bahwa penyelenggaraan festival tersebut membawa harapan besar untuk menemukan talenta-talenta terbaik yang mampu melangkah ke jenjang kompetisi berikutnya. Menurutnya, tujuh peserta terbaik yang terpilih nantinya diharapkan mampu membawa nama baik Korwilcam Dindik Wangon pada tingkat kabupaten dan, apabila memperoleh hasil terbaik, melanjutkan perjuangan hingga tingkat provinsi. 


“Pergelaran festival ini dengan penuh harap bisa memilih tujuh terbaik untuk mewakili Korwilcam Dindik Wangon ke kabupaten, syukur sampai ke tingkat provinsi. Jaga kesehatan selalu,” ujar Rudiyanto. 


Pesan tersebut sekaligus mengingatkan para peserta bahwa perjuangan menuju prestasi tidak hanya membutuhkan kemampuan, tetapi juga kondisi fisik dan mental yang terjaga.


Festival berlangsung dengan mengedepankan proses kompetisi yang sehat sekaligus memberikan ruang pembelajaran bagi peserta dan guru pendamping. Setiap cabang festival menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi masing-masing, sementara para guru dapat mengamati, mengevaluasi, dan memperkaya pengalaman dalam mendampingi peserta didik. Ketua Korwilcam Dindik Wangon, Eko Purnomo, S.Pd., yang sekaligus membuka kegiatan, menekankan pentingnya seluruh peserta dan pendamping mengikuti rangkaian festival hingga selesai. Menurutnya, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut bukan hanya memberikan pengalaman kepada siswa, tetapi juga menjadi sarana bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dalam setiap cabang festival yang dilombakan.


“Saya berharap peserta dan pendamping dapat mengikuti kegiatan ini hingga selesai, karena guru juga dapat meningkatkan kompetensi pada setiap cabang festival. Semoga dari kegiatan ini lahir juara-juara yang berkompeten,” ungkap Eko Purnomo saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 tingkat Korwilcam Dindik Wangon. 


Harapan tersebut menunjukkan bahwa FTBI memiliki dua sisi pembelajaran sekaligus: siswa memperoleh pengalaman berkompetisi dan mengembangkan bakat, sedangkan guru mendapatkan pengalaman untuk meningkatkan kemampuan dalam pembinaan dan pendampingan. Dengan demikian, festival tidak berhenti pada pencarian juara, tetapi menjadi bagian dari proses peningkatan kualitas pendidikan dan pembinaan potensi peserta didik secara berkelanjutan.


Koordinator kegiatan, Timbul, S.Pd., kemudian memberikan arahan teknis kepada para peserta dan pendamping mengenai pembagian ruangan serta roundown pelaksanaan festival. Penjelasan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh peserta memahami lokasi dan tahapan kegiatan sehingga perlombaan dapat berjalan tertib dan sesuai jadwal. Di tengah suasana kompetisi, peserta juga diajak menikmati festival sebagai pengalaman sosial yang menyenangkan. “Selamat mengikuti lomba dan selamat menikmati ajang bertemu teman baru,” pesan Timbul kepada seluruh peserta. Kalimat sederhana tersebut memberikan warna tersendiri bagi pelaksanaan FTBI karena kompetisi tidak harus selalu menghadirkan ketegangan. Bertanding secara serius dapat berjalan beriringan dengan membangun persahabatan dan memperluas pengalaman antarsiswa dari berbagai sekolah.


Bagi Korwilcam Dindik Wangon, pelaksanaan FTBI 2026 menjadi tahapan penting dalam mempersiapkan wakil terbaik menuju persaingan pada tingkat yang lebih tinggi. Tujuh mata festival yang diikuti peserta menjadi ruang seleksi sekaligus pembinaan untuk menemukan siswa yang memiliki kemampuan paling siap untuk membawa nama Wangon. Proses tersebut tentu membutuhkan dukungan dari sekolah, guru pendamping, keluarga, serta lingkungan pendidikan agar peserta mampu berkembang secara optimal. Lebih jauh, keberanian tampil dalam festival juga menjadi pengalaman yang dapat membentuk rasa percaya diri peserta didik. Mereka belajar menghadapi penilaian, menerima hasil, menghargai peserta lain, serta menjadikan pengalaman kompetisi sebagai bagian dari proses belajar.


FTBI 2026 tingkat Korwilcam Dindik Wangon akhirnya bukan sekadar perhelatan untuk menentukan siapa yang menjadi juara, melainkan menjadi panggung kecil tempat bakat-bakat muda mulai menemukan jalannya. Dari SD Negeri 1 Kalipetung, tujuh calon terbaik dipersiapkan untuk membawa nama Wangon menuju tingkat kabupaten, dengan harapan mampu menembus panggung provinsi. Di balik setiap penampilan, terdapat latihan, keberanian, dukungan guru, dan harapan untuk memberikan yang terbaik. Hari itu, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah gelar juara, tetapi sebuah kesempatan untuk tumbuh. Dari bahasa daerah yang diwariskan para leluhur, anak-anak Wangon belajar berani tampil, berkompetisi, dan menjaga identitas budaya. Dari tujuh mata festival, diharapkan lahir tujuh bintang yang bukan hanya mampu menjadi juara, tetapi juga menjadi generasi yang bangga menggunakan, melestarikan, dan menghidupkan bahasa serta budaya daerah.


Kontributor: Iqbal

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama