Widagdo hadir mewakili Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Kwarda Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Upacara tersebut diikuti jajaran Gerakan Pramuka dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Hadir pula Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti, serta para bupati dan wali kota atau perwakilannya selaku Ketua Mabicab bersama Ketua Kwarcab dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Petugas upacara Hari Pramuka ke-65 Tingkat Kwarda Jawa Tengah tersebut adalah Pasukan Tunas Muda Kwarcab Banyumas. Kehadiran pasukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kepramukaan yang sebelumnya telah berlangsung, termasuk Estafet Tunas Kelapa (ETK) Kwarda Jawa Tengah 2026.
Dalam amanatnya, Widagdo menyampaikan pesan agar Gerakan Pramuka Jawa Tengah terus memperkuat peran dan pengabdiannya di tengah berbagai tantangan zaman. Menurutnya, Pramuka tidak cukup hanya menjadi organisasi pendidikan bagi generasi muda, tetapi juga harus mampu hadir di tengah masyarakat dan ikut memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 tersebut, menurut Widagdo, menjadi momentum untuk memperkuat semangat pengabdian sekaligus meneguhkan kembali tanggung jawab Gerakan Pramuka dalam membentuk generasi muda Jawa Tengah yang tangguh dan berkarakter.
“Peringatan tahun ini semakin istimewa dengan pelaksanaan Estafet Tunas Kelapa (ETK) yang menjadi salah satu ciri khas peringatan Hari Pramuka di Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dilaksanakan dari 14 titik keberangkatan hingga berakhir di Kwartir Cabang Banyumas. Estafet Tunas Kelapa bukan sekadar perjalanan simbolik, melainkan gambaran tentang estafet nilai, estafet semangat, dan estafet pengabdian dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” katanya.
Menurut Widagdo, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin beragam. Karena itu, Gerakan Pramuka harus mampu mengambil posisi strategis dalam membantu pemerintah dan masyarakat menghadapi persoalan sosial yang berkembang.
Pramuka, lanjutnya, diharapkan dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam berbagai bidang, termasuk upaya pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Peran tersebut dinilai sejalan dengan semangat pengabdian yang selama ini menjadi bagian dari pendidikan kepramukaan.
Selain persoalan sosial, Widagdo mengingatkan adanya berbagai ancaman yang dapat memengaruhi perkembangan generasi muda. Penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, perundungan, judi online, pergaulan bebas, penyebaran hoaks, provokasi, hingga paham yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian bersama.
Dalam kondisi tersebut, Gerakan Pramuka diminta tidak hanya menjadi pihak yang menyaksikan berbagai persoalan dari luar. Anggota Pramuka harus memiliki keberanian untuk mengambil peran sesuai kapasitasnya dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman, sehat, dan positif bagi generasi muda.
“Pramuka jangan hanya menjadi penonton, Pramuka harus menjadi bagian dari solusi,” tegas Widagdo.
Memasuki era digital, ia juga mendorong Gerakan Pramuka Jawa Tengah untuk terus melakukan transformasi digital dan modernisasi tata kelola organisasi. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat membantu meningkatkan efektivitas pelayanan dan komunikasi organisasi.
Pengembangan sistem surat elektronik serta berbagai aplikasi kepramukaan menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk mewujudkan tata kelola organisasi yang lebih cepat, transparan, andal, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Namun, kemajuan teknologi tersebut menurutnya tidak boleh menggeser aspek utama dalam pendidikan kepramukaan. Teknologi harus ditempatkan sebagai sarana pendukung, sementara pembentukan karakter tetap menjadi fondasi utama.
“Teknologi adalah alat, namun karakter harus tetap menjadi fondasi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Widagdo secara khusus memberikan apresiasi kepada Kwarcab Banyumas. Ia menilai Banyumas telah berhasil membangun tata kelola organisasi sekaligus sistem pembinaan kepramukaan yang matang dan terarah.
Menurutnya, pengembangan Gerakan Pramuka di Banyumas menunjukkan pola pembinaan yang dapat menjadi contoh bagi kwartir lainnya. Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah sistem pencapaian Pramuka Garuda yang diterapkan secara terukur.
Widagdo menilai keberhasilan pembinaan Pramuka tidak semestinya hanya dilihat dari banyaknya anggota yang berhasil memperoleh predikat Pramuka Garuda. Lebih dari itu, kualitas proses pembinaan dan kompetensi yang dimiliki peserta didik setelah mencapai predikat tersebut harus menjadi perhatian.
“Kwarcab Banyumas tidak sekadar berorientasi pada jumlah anggota yang mencapai predikat Pramuka Garuda, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kualitas. Pola tersebut layak menjadi referensi bagi kwartir di daerah lain di Jawa Tengah,” pungkasnya.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat Kwarda Jawa Tengah di Banyumas tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa Gerakan Pramuka memiliki ruang pengabdian yang semakin luas. Tantangan sosial, perkembangan teknologi, dan kebutuhan pembentukan karakter generasi muda menuntut Pramuka untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Dengan semangat “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan”, peringatan Hari Pramuka ke-65 diharapkan tidak berhenti pada seremoni. Momentum tersebut menjadi dorongan bagi seluruh jajaran Gerakan Pramuka Jawa Tengah untuk memperkuat pembinaan, meningkatkan kualitas organisasi, serta menghadirkan aksi nyata yang dirasakan masyarakat.
Banyumas sebagai tuan rumah juga menampilkan pesan penting bahwa keberhasilan Gerakan Pramuka dibangun melalui kolaborasi. Dari perjalanan ETK, keterlibatan peserta didik, dukungan pemerintah daerah, hingga pembinaan Pramuka Garuda, seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa semangat kepramukaan terus bergerak dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kontributor: Parsito
Editor: Suripto
Posting Komentar