Karakter Tidak Tumbuh dalam Sehari, Sekolah Perlu Konsisten Memantau Kebiasaan Baik Siswa


PURWOKERTO, Info Banyumas. Pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan mengajarkan siswa tentang kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian. Nilai-nilai tersebut perlu dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di rumah.


Seorang siswa mungkin sudah memahami bahwa kejujuran merupakan nilai penting. Namun, pemahaman tersebut perlu dibuktikan ketika siswa berani berkata jujur setelah melakukan kesalahan. Begitu pula dengan tanggung jawab. Siswa tidak hanya perlu mengetahui maknanya, tetapi juga dibiasakan menyelesaikan tugas tanpa harus terus-menerus diingatkan.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter merupakan proses yang membutuhkan waktu dan pendampingan. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, siswa mendapatkan berbagai pengaruh dari lingkungan sekitar maupun perkembangan teknologi. Karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam menyediakan lingkungan yang mampu membantu siswa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, peduli, dan memiliki jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.


Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Dra. Wiwi Parluki, S.Pd, mengatakan berbagai program pendidikan karakter sebenarnya telah dijalankan di sekolah. Namun, banyaknya kegiatan tersebut perlu diikuti dengan pemantauan agar sekolah mengetahui sejauh mana pembiasaan berjalan dan persoalan apa yang dihadapi siswa.


Menurutnya, pemantauan bukan sekadar mencatat apakah suatu kegiatan telah dilaksanakan. Pemantauan diperlukan untuk melihat perkembangan pembiasaan siswa sehingga sekolah dapat memberikan pendampingan secara lebih tepat.


Berangkat dari kebutuhan tersebut, Wiwi mengembangkan dua aplikasi yang dapat digunakan untuk mendukung pemantauan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, yakni PINTU KAIH melalui www.pintukaihwiwi.com dan PeNdikar melalui s.id/PeNdikar.


Kedua aplikasi tersebut dikembangkan sebagai sarana untuk membantu sekolah melihat pelaksanaan pendidikan karakter secara lebih terstruktur. Dengan dukungan teknologi, berbagai kegiatan pembiasaan dapat dicatat, dipantau, dan menjadi bahan evaluasi bagi sekolah.


Pembiasaan Perlu Dijaga Bersama

Karakter pada dasarnya tidak terbentuk secara instan. Karakter tumbuh melalui tindakan yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan. Siswa belajar bertanggung jawab ketika mendapatkan kesempatan untuk menjalankan tugas. Mereka belajar menghargai orang lain melalui cara berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan bersama.


Kemandirian juga berkembang ketika siswa mendapatkan ruang untuk mencoba, mengambil keputusan, serta memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Proses tersebut membutuhkan pendampingan dari guru dan lingkungan sekolah yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dari pengalaman.


Karena itu, kegiatan pembiasaan perlu dilakukan secara konsisten. Guru dan kepala sekolah tidak hanya memastikan program berjalan, tetapi juga perlu memperhatikan bagaimana siswa merespons kegiatan tersebut.



Pemantauan dapat membantu sekolah mengenali kegiatan yang mendapatkan respons positif dari siswa, memahami kesulitan yang muncul, serta menyesuaikan bentuk pendampingan agar pembiasaan karakter tetap relevan dan bermakna.


Pengembangan PINTU KAIH dan PeNdikar tersebut memiliki tiga tujuan utama, yaitu membantu sekolah memantau pelaksanaan pendidikan karakter, menguatkan pembentukan karakter melalui pembiasaan, serta mendukung upaya pencegahan kenakalan remaja.


Teknologi dalam hal tersebut berfungsi sebagai alat bantu untuk mencatat dan melihat perkembangan. Namun, teknologi bukan pengganti hubungan manusia dalam pendidikan. Hubungan yang hangat antara siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua tetap menjadi bagian penting dalam membangun karakter.


Hasil Pemantauan Menjadi Bahan Tindak Lanjut

Pemantauan yang dilakukan secara teratur dapat memberikan sekolah bahan untuk melakukan evaluasi. Kegiatan yang berjalan baik dapat dipertahankan dan dikembangkan. Sebaliknya, apabila ditemukan kendala, guru dan kepala sekolah dapat membicarakan penyebabnya untuk kemudian menentukan langkah tindak lanjut.


Pemanfaatan aplikasi tersebut diharapkan membuat pelaksanaan pendidikan karakter lebih mudah dipantau, dievaluasi, dan ditindaklanjuti. Hal tersebut sekaligus membantu sekolah melihat pengalaman siswa selama mengikuti berbagai kegiatan pembiasaan.


Respons siswa menjadi bagian yang tidak kalah penting. Pembiasaan karakter akan lebih mudah tumbuh ketika siswa merasa dilibatkan, memahami manfaat kegiatan, dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan selama menjalankannya.


Pendidikan karakter pada akhirnya merupakan pekerjaan bersama. Sekolah menyediakan teladan dan ruang bagi siswa untuk berlatih. Guru memberikan pendampingan dalam keseharian. Orang tua memperkuat kebiasaan tersebut di rumah, sedangkan siswa menjalani proses pembentukan karakter melalui tindakan yang dilakukan dari hari ke hari.


Melalui pemantauan yang teratur, sekolah dapat menjadi lebih peka terhadap perkembangan siswa. Melalui pembiasaan yang konsisten dan menyenangkan, siswa memperoleh kesempatan untuk terus belajar dan bertumbuh.


Sebab, karakter tidak tumbuh dalam sehari. Ia dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang, didampingi dengan kesabaran, dan dijaga bersama oleh sekolah, keluarga, serta lingkungan. Dari proses tersebutlah karakter kuat dan pribadi yang berdaya dapat tumbuh.


Kontributor: Wiwi Parluki

Editor: Suripto

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama