Dari Tumpukan Laporan Menjadi Sekolah Digital, Wiwi Parluki Ubah Dokumentasi Jadi Sumber Semangat


Banyumas, Info Banyumas. Tumpukan laporan dan dokumentasi kinerja yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaan kepala sekolah dan pengawas justru dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Dari kebutuhan tersebut, Dra. Wiwi Parluki, M.Pd., pengawas SMP di Kabupaten Banyumas, mengembangkan aplikasi berbasis Google Sites untuk membantu sekolah mendokumentasikan berbagai hasil kerja sekaligus membangun semangat warga sekolah dalam melakukan digitalisasi.


Gagasan tersebut berangkat dari kondisi bahwa menjadi kepala sekolah bukan hanya berkaitan dengan memimpin pembelajaran. Berbagai program harus direncanakan, dilaksanakan, didokumentasikan, dan dilaporkan. Hal serupa juga dirasakan pengawas yang harus mengelola berbagai data hasil pembinaan dan pemantauan sekolah.


Dalam kondisi tersebut muncul pertanyaan bagaimana dokumentasi dapat dibuat lebih praktis, tetapi pada saat yang sama mampu memberikan gambaran mengenai perkembangan sekolah.


Dari kebutuhan tersebut, Wiwi Parluki mengembangkan sebuah aplikasi berbasis Google Sites yang digunakan sebagai ruang digital untuk mendokumentasikan hasil kerja sekolah. Gagasan dan praktik tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah makalah yang dipresentasikan pada Simposium Nasional tahun 2019.


Aplikasi tersebut tidak dirancang sekadar menjadi tempat menyimpan berbagai berkas. Dokumentasi yang terkumpul diarahkan menjadi bagian dari perjalanan sekolah sehingga kepala sekolah dapat melihat program yang telah dilakukan, perkembangan kegiatan, hingga capaian yang berhasil diraih.


“Dokumentasi jangan hanya dipandang sebagai kewajiban untuk membuat laporan. Kalau dikelola dengan baik, dokumentasi bisa menjadi gambaran perjalanan sekolah dan membuat kita melihat kembali apa yang sudah dilakukan,” demikian gagasan Wiwi dalam praktik pengembangan aplikasi tersebut.


Keberadaan ruang digital tersebut membuat dokumentasi menjadi lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari. Kegiatan yang dilakukan sekolah dapat direkam dan ditata sehingga tidak hanya muncul ketika sekolah membutuhkan bukti administrasi.


Bagi kepala sekolah, kondisi tersebut dapat membantu dalam menata bukti kinerja, melihat perkembangan program, dan melakukan refleksi. Berbagai kegiatan yang selama ini berjalan dalam kesibukan sekolah memiliki jejak yang dapat ditinjau kembali.


“Ketika pekerjaan sekolah terdokumentasi, kita bisa melihat bahwa banyak hal yang sebenarnya sudah dilakukan. Hal itu dapat memberikan rasa terbantu sekaligus semangat karena hasil kerja sekolah terlihat,” ungkap Wiwi.


Tujuan utama pengembangan aplikasi tersebut adalah memotivasi kepala sekolah dan pengawas agar konsisten menjalankan tugas. Semangat tersebut diharapkan kemudian dapat menjalar kepada guru, siswa, orang tua, serta seluruh warga sekolah.


Ketika program sekolah terlihat dan perkembangan kegiatan dapat dipantau, guru juga memperoleh dorongan untuk terus berkarya. Begitu pula siswa yang dapat melihat kegiatan dan prestasi mereka mendapatkan perhatian.


Teknologi dalam praktik tersebut bukan ditempatkan sebagai tujuan akhir. Aplikasi hanyalah sarana, sementara perubahan tetap bergantung pada orang-orang yang menggunakannya.


Kepala sekolah yang tekun mendokumentasikan kegiatan, guru yang konsisten menjalankan program, pengawas yang memberikan pendampingan, serta siswa yang terus mengembangkan potensi menjadi bagian dari terbentuknya budaya digital di sekolah.


“Aplikasi ini sebenarnya hanya alat. Yang membuatnya berarti adalah orang-orang yang menggunakannya. Kalau kepala sekolah, guru, dan siswa mau memanfaatkannya, teknologi dapat menjadi bagian dari budaya positif di sekolah,” kata Wiwi.


Pengembangan aplikasi tersebut juga membuka peluang belajar bagi kepala sekolah dan pengawas. Pemanfaatan teknologi mendorong mereka untuk mencoba cara baru dalam menyelesaikan persoalan pekerjaan pendidikan.


Dari proses tersebut tumbuh pula semangat kewirausahaan. Dalam konteks pendidikan, kewirausahaan tersebut dapat dimaknai sebagai keberanian mengenali persoalan, mencari solusi, dan menghasilkan karya yang memiliki manfaat bagi pekerjaan.


“Kalau kita menemukan masalah di lapangan, jangan berhenti pada masalahnya. Kita bisa mencoba mencari solusi, belajar teknologi, kemudian membuat sesuatu yang bisa digunakan untuk membantu pekerjaan,” ujarnya.


Praktik tersebut semakin relevan ketika dunia pendidikan menghadapi perubahan besar, termasuk pandemi Covid-19. Kondisi tersebut mengubah banyak kebiasaan dalam pembelajaran dan pengelolaan sekolah sekaligus memperkuat kebutuhan terhadap pemanfaatan teknologi.


Dokumentasi digital dapat membantu sekolah mengelola informasi, menjaga komunikasi, dan menata pekerjaan secara lebih sistematis. Sekolah juga dituntut memiliki kemampuan beradaptasi ketika menghadapi perubahan.


Menariknya, aplikasi yang dikembangkan pada 2019 tersebut masih digunakan hingga sekarang. Keberlanjutan tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak harus selalu berupa teknologi yang rumit. Sebuah inovasi dapat bertahan apabila mampu menjawab kebutuhan nyata penggunanya.


“Inovasi tidak harus rumit. Yang penting adalah menjawab kebutuhan. Kalau sebuah aplikasi memang membantu pekerjaan, kemudian terus digunakan, berarti inovasi tersebut memiliki manfaat yang dirasakan oleh penggunanya,” tutur Wiwi.


Pengalaman tersebut kemudian dibagikan melalui makalah dan presentasi dalam Simposium Nasional. Praktik yang lahir dari persoalan sehari-hari di sekolah tersebut menjadi pengalaman yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh pendidik lainnya.


Bagi pengawas, praktik tersebut juga menjadi pembelajaran bahwa pendampingan sekolah tidak selalu harus dimulai dengan memberikan solusi yang besar. Mendengarkan persoalan yang dihadapi sekolah kemudian mencari jalan keluar yang sesuai dengan kondisi lapangan dapat menjadi bagian dari proses pendampingan.


Dari Banyumas, pengalaman Wiwi Parluki tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi sekolah dapat dimulai dari kebutuhan sederhana. Beban dokumentasi yang semula terasa sebagai pekerjaan administratif justru dapat menjadi titik awal untuk menciptakan sistem yang lebih tertata.


Teknologi kemudian berfungsi sebagai alat untuk merekam kinerja, melihat perkembangan, menumbuhkan motivasi, dan memantik kreativitas warga sekolah.


“Sekolah digital bukan hanya sekolah yang menggunakan aplikasi. Sekolah digital adalah sekolah yang mau belajar, berani mencoba, dan menggunakan teknologi untuk membuat pekerjaan pendidikan menjadi lebih bermakna,” tegas Wiwi.


Dengan demikian, dokumentasi tidak lagi harus dipandang sebagai tumpukan laporan yang membebani. Ketika dikelola secara tepat, dokumentasi dapat berubah menjadi rekam jejak perjalanan sekolah sekaligus sumber semangat untuk terus melakukan perbaikan.


Praktik baik tersebut dapat ditelusuri lebih lanjut melalui laman yang dibagikan pengembang, s.id/pemodu2020.


Kontributor: Wiwi Parluki

Editor: Suripto

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama