LUMBIR, INFO BANYUMAS – Suasana
tenang di lingkungan pendidikan Kecamatan Lumbir mendadak terusik setelah atap
dan tembok samping bagian atas gedung RA Diponegoro 210 Cingebul, Kecamatan
Lumbir, Kabupaten Banyumas, roboh pada Kamis (5/11/2026) sekitar pukul 14.00.
Peristiwa yang mengejutkan tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa maupun
luka-luka karena bangunan sekolah dalam keadaan kosong setelah seluruh kegiatan
pembelajaran selesai.
Robohnya bagian bangunan sekolah
tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi keluarga besar pendidikan di wilayah
Kecamatan Lumbir. Terlebih, gedung yang selama ini menjadi tempat
berlangsungnya aktivitas belajar dan bermain anak-anak usia dini itu mengalami
kerusakan pada bagian atap dan dinding samping atas.
Berdasarkan keterangan Kepala RA
Diponegoro 210 Cingebul, Ibu Nurbaeti, kerusakan bangunan diduga kuat berkaitan
dengan kondisi material penyangga atap yang sudah berusia sangat tua. Kayu-kayu
yang digunakan sebagai konstruksi penopang genting diperkirakan telah berumur
puluhan tahun sehingga mengalami penurunan kekuatan.
Kepala RA Diponegoro 210 Cingebul
menjelaskan, selain faktor usia, kondisi kayu juga diduga semakin rapuh akibat
pelapukan serta kerusakan yang ditimbulkan oleh binatang kecil perusak kayu.
Kondisi tersebut membuat konstruksi penyangga tidak lagi mampu menopang beban
genting dan komponen atap lainnya.
"Kayu-kayu penyangga atap
memang sudah cukup tua, usianya puluhan tahun. Selain mengalami pelapukan,
sebagian kayu juga diduga rusak akibat binatang kecil yang memakan kayu.
Kemungkinan kondisi itulah yang menyebabkan konstruksi tidak lagi kuat menahan
beban atap," ungkap Nurbaeti.
Peristiwa robohnya bangunan
terjadi setelah aktivitas pembelajaran berakhir. Para murid telah meninggalkan
lingkungan sekolah bersama guru dan kepala sekolah untuk kembali ke rumah
masing-masing. Situasi tersebut menjadi faktor penting yang membuat kejadian
tidak sampai mencelakakan anak-anak maupun tenaga pendidik yang setiap hari
beraktivitas di gedung tersebut.
Meski tidak menimbulkan korban
manusia, kejadian itu tetap menyisakan keprihatinan. Sebab, bangunan pendidikan
anak usia dini bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang tumbuh, bermain,
dan membangun pengalaman pertama anak-anak dalam mengenal dunia pendidikan.
Kerusakan gedung tentu berpotensi mengganggu kenyamanan dan keamanan kegiatan
pembelajaran berikutnya.
Kondisi tersebut sekaligus
menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan berkala terhadap kelayakan bangunan
satuan pendidikan, terutama gedung yang telah berusia puluhan tahun. Kerusakan
pada bagian konstruksi yang tidak terlihat secara langsung, seperti pelapukan
kayu penyangga atap, perlu mendapatkan perhatian sebelum berkembang menjadi
kerusakan yang lebih besar.
Bagi jajaran pendidikan di
Kecamatan Lumbir, kejadian ini diharapkan menjadi perhatian bersama agar
kondisi sarana dan prasarana pendidikan, khususnya lembaga PAUD, memperoleh
penanganan yang memadai. Keamanan lingkungan belajar harus menjadi prioritas sehingga
anak-anak dapat mengikuti kegiatan pendidikan tanpa dibayangi risiko akibat
kondisi fisik bangunan yang tidak lagi layak.
Kini, di tengah rasa prihatin
atas robohnya sebagian bangunan sekolah, hal paling penting adalah memastikan
kondisi gedung diperiksa secara menyeluruh dan dilakukan penanganan sesuai
tingkat kerusakannya. Sebab, keselamatan peserta didik, guru, dan seluruh warga
sekolah harus selalu menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan
pendidikan.


Posting Komentar