Kesantunan, Kekuasaan, dan Transaksi Kepentingan
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Ada sebuah nasihat yang agaknya semakin relevan dalam
kehidupan modern: berbuatlah baik, tetapi jangan lupa menghitung keuntungannya.
Bersikaplah ramah, tetapi pastikan ada manfaat yang bisa dibawa pulang.
Bantulah orang lain, tetapi jangan sampai kesempatan itu berlalu tanpa
menghasilkan sesuatu bagi dirimu sendiri.
Kalau perlu, lakukan semuanya dengan senyum paling
manis. Sebab dalam kehidupan yang semakin pandai mengemas kepentingan,
keramahan adalah pakaian yang cukup pantas untuk menyembunyikan banyak hal.
Kita hidup di zaman ketika kebaikan semakin mudah
dipertontonkan. Bantuan dapat diabadikan, kepedulian dapat disiarkan, kesalehan
dapat dipamerkan, bahkan kesedihan orang lain kadang menjadi latar belakang
yang menarik untuk sebuah unggahan. Kamera menyala, senyum mengembang, tangan
terulur. Semua tampak begitu manusiawi.
Tidak ada yang salah dengan mendokumentasikan kebaikan.
Masalahnya muncul ketika dokumentasi lebih penting daripada pertolongan, ketika
tepuk tangan lebih dicari daripada perubahan, dan ketika orang yang dibantu
hanya menjadi bagian dari panggung untuk membangun citra seseorang.
Kebaikan perlahan-lahan berubah menjadi investasi. Ada
modal yang dikeluarkan, ada keuntungan yang diharapkan, dan ada pasar tempat
citra diperdagangkan.
Tentu saja, tidak semua orang yang berbuat baik
memiliki niat tersembunyi. Tidak semua bantuan merupakan pencitraan. Tidak
semua keramahan adalah kepura-puraan. Tetapi kita perlu jujur mengakui bahwa
budaya transaksional telah merembes ke banyak ruang kehidupan. Hubungan
antarmanusia semakin sering diukur berdasarkan manfaat. Persahabatan dipelihara
selama masih saling menguntungkan. Silaturahmi terkadang lebih rajin dilakukan
kepada mereka yang memiliki jabatan daripada kepada mereka yang sekadar membutuhkan
teman bicara.
Kita bahkan mengenal keramahan yang memiliki tingkatan.
Kepada orang penting, suara mendadak menjadi lembut, senyum menjadi lebar, dan
sapaan terasa penuh penghormatan. Kepada orang kecil, terkadang sekadar menoleh
pun terasa terlalu mahal.
Begitulah cara kepentingan bekerja. Ia tidak selalu
datang dengan wajah garang. Kadang-kadang ia mengenakan batik terbaik,
berbicara dengan bahasa santun, mengutip ayat suci, mengucapkan Pancasila, lalu
duduk di kursi kehormatan.
Di negeri ini, kita sebenarnya tidak kekurangan bahasa
moral. Kita memiliki Pancasila, yang mengajarkan kemanusiaan, persatuan,
musyawarah, dan keadilan sosial. Kita memiliki konstitusi yang menjamin
persamaan kedudukan warga negara di hadapan hukum. Kita juga memiliki berbagai
aturan tentang integritas, amanah, dan pemberantasan korupsi.
Tetapi, antara nilai yang diucapkan dan perilaku yang
dijalankan, kadang terbentang jarak yang begitu jauh.
Kita mengenal politik uang, patronase, nepotisme,
konflik kepentingan, dan korupsi. Kita menyaksikan bagaimana bantuan dapat
menjadi alat membangun loyalitas, kedekatan dapat berubah menjadi mata uang
kekuasaan, dan jabatan publik terkadang diperlakukan seolah-olah sebagai hak
istimewa, bukan amanah.
Menjelang pemilihan, tangan-tangan politik terasa
begitu ringan menjangkau masyarakat. Kunjungan dilakukan, bantuan dibagikan,
janji diucapkan, dan foto bersama diabadikan. Semua tampak seperti kepedulian.
Namun, setelah kursi kekuasaan berhasil diduduki, tidak semua orang masih ingat
kepada siapa dahulu ia pernah berjanji.
Barangkali inilah salah satu ironi demokrasi kita:
rakyat sering kali menjadi pusat perhatian ketika suara mereka dibutuhkan,
tetapi belum tentu menjadi pusat kepentingan ketika kekuasaan sudah berada di
tangan.
Persoalannya bukan terletak pada kekayaan, jabatan,
atau kekuasaan itu sendiri. Uang dibutuhkan untuk hidup. Jabatan diperlukan
untuk mengatur pekerjaan bersama. Kekuasaan bahkan diperlukan agar keputusan
publik dapat dijalankan. Yang menjadi masalah adalah ketika semuanya berubah
menjadi tujuan yang membenarkan segala cara.
Kekayaan kemudian dianggap sebagai ukuran kebenaran.
Jabatan menjadi ukuran kehormatan. Kedekatan dengan penguasa menjadi ukuran
keberhasilan. Orang yang memiliki banyak harta lebih mudah dipercaya, sementara
orang yang memiliki integritas tetapi tidak memiliki kekuatan ekonomi sering
kali kurang diperhitungkan.
Kita mengaku hidup dalam masyarakat yang menjunjung
tinggi kesetaraan, tetapi dalam praktiknya masih sering menundukkan kepala di
hadapan gelar, pangkat, dan kekayaan. Budaya feodal ternyata tidak selalu
membutuhkan kerajaan untuk bertahan hidup. Ia cukup tinggal dalam pikiran
manusia yang merasa kecil di hadapan kekuasaan dan merasa besar ketika memiliki
kesempatan untuk menguasai orang lain.
Lalu, di mana posisi hukum dan moralitas?
Hukum memang diperlukan untuk mengatur batas perilaku
manusia. Ia menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tetapi
integritas tidak cukup dibangun hanya dengan rasa takut terhadap hukuman. Ada
wilayah kehidupan yang tidak selalu dapat dijangkau oleh pasal-pasal hukum:
kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi, kesediaan menolak keuntungan yang
tidak semestinya, serta keberanian tidak menyalahgunakan kesempatan meskipun
peluang itu terbuka lebar.
Seseorang mungkin pandai mematuhi prosedur, tetapi
belum tentu memiliki keluhuran moral. Ia mungkin tidak tertangkap melakukan
pelanggaran, tetapi bukan berarti seluruh tindakannya mencerminkan keadilan.
Hukum mengatur perilaku yang dapat
dipertanggungjawabkan secara formal. Nurani mengingatkan manusia tentang
tanggung jawab yang lebih luas, bahkan ketika tidak ada orang lain yang
melihat.
Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap kesalehan
yang hanya berhenti pada penampilan. Rajin beribadah tentu merupakan hal baik.
Menggunakan simbol agama bukanlah kesalahan. Tetapi nilai keagamaan semestinya
tidak berhenti pada pakaian, ucapan, atau ritual. Ia harus menemukan jalannya
dalam kejujuran berdagang, keadilan memimpin, kesediaan menghormati orang lain,
dan keberanian tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Sebab tidak ada gunanya suara terdengar begitu fasih
menyebut nama Tuhan jika tangan masih ringan mengambil hak sesama manusia.
Namun, jangan buru-buru menunjuk orang lain. Jangan
sampai kita terlalu sibuk mengkritik kemunafikan pejabat, tetapi diam-diam
memelihara kemunafikan dalam kehidupan sendiri.
Kita mengecam politik uang, tetapi terkadang tidak
keberatan menerima keuntungan pribadi dari transaksi yang sama. Kita mengkritik
pencitraan, tetapi senang ketika kebaikan kita mendapatkan banyak pujian. Kita
menuntut kejujuran, tetapi terkadang hanya menyukai kejujuran selama tidak
mengganggu kepentingan sendiri.
Jangan-jangan, budaya transaksional bukan hanya
dipelihara oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Kita semua, dalam ukuran dan
kesempatan masing-masing, mungkin pernah ikut menyuburkannya.
Inilah bagian yang paling tidak nyaman untuk
direnungkan. Kerusakan moral tidak selalu dimulai dari tindakan besar yang
menggemparkan. Kadang-kadang ia tumbuh dari kompromi kecil yang terus
dimaklumi. Dari kebohongan yang dianggap biasa, dari ketidakadilan yang
dibiarkan, dari bantuan yang disertai tuntutan balasan, sampai akhirnya kita
tidak lagi merasa bersalah melakukan sesuatu yang dahulu kita anggap keliru.
Lama-kelamaan, ketidakjujuran memperoleh nama baru:
kecerdikan. Keserakahan disebut ambisi. Penyalahgunaan kesempatan disebut
pandai membaca peluang. Kepura-puraan disebut kemampuan membangun hubungan.
Bahkan, orang yang berani menolak permainan kotor terkadang justru dianggap
tidak pandai bergaul.
Aneh, bukan? Kita hidup dalam masyarakat yang
menginginkan keadilan, tetapi kadang-kadang tidak menyukai orang yang
sungguh-sungguh memperjuangkannya ketika perjuangan itu merugikan kepentingan
kita.
Maka, mungkin persoalan terbesar manusia bukanlah
ketika ia membutuhkan uang untuk hidup. Persoalannya muncul ketika ia mulai
menganggap segala sesuatu dalam kehidupan harus dapat dibeli: kepercayaan,
kehormatan, persahabatan, kesetiaan, bahkan suara hati nuraninya sendiri.
Padahal, tidak semua yang berharga mahal memiliki
makna. Ada kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun dan hancur oleh satu
kebohongan. Ada persahabatan yang tetap bertahan meskipun tidak lagi saling
memberikan keuntungan. Ada kehormatan yang justru lahir ketika seseorang berani
kehilangan kesempatan daripada harus mengorbankan prinsip.
Kebaikan memang tidak selalu mendatangkan keuntungan
materi. Kejujuran tidak menjamin seseorang memperoleh jabatan. Ketulusan juga
tidak selalu dibalas dengan perlakuan yang sama. Tetapi kehidupan manusia akan
kehilangan sesuatu yang sangat mendasar jika semua hubungan hanya dihitung
berdasarkan untung dan rugi.
Dunia memang membutuhkan orang-orang yang cerdas
mencari peluang. Tetapi dunia juga membutuhkan orang-orang yang tahu kapan
harus berhenti mengambil keuntungan. Negara membutuhkan pemimpin yang mampu
membangun kekuasaan, tetapi lebih membutuhkan pemimpin yang tahu bahwa
kekuasaan bukan milik pribadi. Masyarakat membutuhkan orang kaya, tetapi lebih
membutuhkan kekayaan yang memberi manfaat bagi kehidupan bersama.
Dan kita membutuhkan kebaikan yang tidak selalu sibuk
mencari penonton.
Barangkali, ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya
seberapa tinggi kedudukannya, seberapa banyak hartanya, atau seberapa luas
pengaruhnya. Ada ukuran lain yang lebih sederhana, tetapi sering terlupakan:
apakah kehadirannya membuat orang lain merasa lebih dihargai, apakah
kekuasaannya membuat kehidupan lebih adil, dan apakah kebaikannya tetap
berlangsung ketika tidak ada kamera yang merekam.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya akan dikenang
dari apa yang berhasil dikumpulkannya, tetapi juga dari apa yang pernah
diberikan dan bagaimana ia memperlakukan sesamanya.
Dunia boleh semakin pandai berdagang. Teknologi boleh
semakin canggih. Politik boleh semakin lihai membangun citra. Tetapi jangan
sampai kita begitu lama hidup dalam budaya transaksi hingga akhirnya menganggap
ketulusan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Jangan sampai suatu hari nanti kita tidak lagi mampu
membedakan mana kebaikan yang lahir dari nurani dan mana kebaikan yang sekadar
sedang mencari pembeli.
Sebab yang paling menyedihkan bukanlah ketika dunia
kehilangan orang-orang baik. Melainkan ketika orang-orang masih berbuat baik,
tetapi sudah lupa bagaimana caranya menjadi tulus.
Ajibarang, 4 Nov 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Posting Komentar