Pengantar Redaksi
Tata krama di sekolah sering kali dipahami sebagai sesuatu yang sederhana—sekadar aturan perilaku yang kita harapkan muncul secara otomatis dari peserta didik. Namun, di tengah dinamika pendidikan hari ini, persoalan tata krama ternyata menyimpan lapisan-lapisan yang jauh lebih dalam daripada yang tampak di permukaan. Ia bukan hanya terkait sikap siswa di kelas atau sopan santun dalam berinteraksi, tetapi juga menyangkut atmosfer batin sebuah sekolah, cara para guru berbahasa, hingga kehadiran kepala sekolah sebagai penjaga nada moral lembaga pendidikan.
Menjelang peringatan Hari Guru Nasional, Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja seorang guru IPA sekaligus pemerhati budaya sekolah mengajak kita berhenti sejenak untuk melihat cermin yang mungkin selama ini kita hindari: bagaimana sebenarnya kondisi tata krama di sekolah kita hari ini? Apakah benar anak-anak menjadi semakin keras dalam bertutur? Ataukah justru para orang dewasa di sekolah yang tanpa sadar memberi teladan yang salah?
Melalui tulisan reflektif berikut, penulis membawa kita menyelami kembali ruang-ruang kecil di sekolah-lorong kelas, ruang guru, grup WhatsApp, bahkan ruang digital media sosial—tempat tata krama perlahan terbangun atau justru perlahan mengelupas. Ini bukan tulisan yang menggurui, bukan pula laporan formal. Ini adalah catatan sunyi yang mengundang kita berefleksi sebagai pendidik, sekaligus sebagai manusia yang setiap hari dilihat dan ditiru oleh generasi yang kita bimbing.
Selamat membaca dan semoga refleksi ini menjadi bahan renungan kita bersama dalam menjaga martabat profesi guru serta keberadaban sekolah.
Berbincang tentang Tata Krama
(Refleksi menjelang Hari Guru Nasional)
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Satu Catatan Sunyi dari tepi Halaman Sekolah
Di sebuah pagi yang tampak biasa, halaman sekolah sebenarnya sedang menyimpan banyak cerita. Di antara hiruk-pikuk suara bel, gesekan sandal dan sepatu, hingga bisik kecil di ujung lorong kelas, kita bisa mendengar sesuatu yang pelan-pelan berubah. Sesuatu yang tidak langsung terasa, tetapi semakin lama semakin tampak: tata krama yang mulai kendur.
Perubahan itu tidak datang dengan bunyi gaduh. Tidak ada sirene. Tidak ada poster atau pengumuman mendadak. Ia datang diam-diam: lewat sapaan yang hilang, bahasa yang memanas, ekspresi sinis yang entah kapan menjadi tren, atau cara anak-anak memanggil guru yang tidak lagi menyisakan jarak penghormatan yang dulu kita anggap wajar.
Namun yang paling menarik bukanlah perubahan pada diri anak-anak. Mereka memang berubah—tetapi bukankah setiap generasi selalu berubah? Yang justru lebih mengusik adalah perubahan pada orang dewasa di sekolah: para guru, pegawai, bahkan pimpinan satuan pendidikan. Mereka pun pelan-pelan berubah dalam cara berkomunikasi, dalam cara menampilkan diri, dalam cara menyampaikan instruksi, bahkan dalam cara bersikap di ruang publik.
Banyak hal yang dulu kita anggap tabu kini menjadi lumrah. Ada guru yang lebih lantang bercanda ketimbang memberikan contoh kesantunan. Ada yang lebih sibuk membuat konten TikTok ketimbang menjaga marwah profesinya. Ada juga yang kadang lupa bahwa setiap kata yang terucap di ruang guru, setiap unggahan di media sosial, dan setiap keluhan yang dilemparkan tanpa filter, sedang diamati oleh puluhan pasang mata kecil yang dengan cepat belajar dan meniru.
Di situlah keresahan ini berangkat.
Benarkah ada sesuatu yang retak dalam tata krama sekolah kita?
Dan jika memang ada, apakah kita, para orang dewasa, ikut menyumbang retaknya?
Hal pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa tata krama bukan sekadar aturan. Ia bukan daftar larangan atau kewajiban. Ia adalah budaya yang tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus: cara kita menyapa, cara kita menerima perbedaan pendapat, cara kita menahan diri agar tidak meledak, cara kita merespons anak yang belum paham, bahkan cara kita mengatur nada ketika berbicara dalam grup WhatsApp sekolah.
Tata krama adalah atmosfer.
Dan atmosfer itu dibentuk oleh banyak udara yang keluar dari mulut kita: kata-kata.
Karena itu, ketika guru sibuk saling menyindir di ruang publik, ketika kepala sekolah mengeluarkan instruksi dengan nada yang tidak ramah, ketika komunikasi kedinasan berubah menjadi cecaran panjang tanpa struktur, atmosfir sekolah ikut berubah. Anak-anak menghirup udara itu setiap hari. Mereka mengamati, meniru, dan memantulkannya kembali dalam interaksi mereka.
Banyak guru mengaku heran mengapa siswa sekarang mudah sekali menjawab dengan nada keras. Mengapa mereka berani menyela. Mengapa bahasa mereka kasar. Mengapa mereka memanggil guru tanpa melibatkan rasa hormat. Mengapa mereka seakan tidak tahu tata krama.
Tetapi jarang yang bertanya balik:
Apakah mungkin mereka sedang meniru kita?
Di era digital, hubungan antara guru dan siswa bukan lagi hubungan satu arah. Media sosial menciptakan ruang baru di mana batas-batas itu kabur. Siswa mengikuti akun guru. Guru membaca status siswa. Kadang mereka saling menyindir. Kadang mereka saling merasa tersinggung. Kadang guru mengunggah video kelas tanpa izin, sekadar untuk konten lucu. Tanpa sadar, guru kehilangan kewibawaannya bukan karena ia tidak tegas, tetapi karena ia tidak selektif dalam memperlihatkan dirinya.
Pada titik tertentu, batas profesional melebur.
Itulah tantangan terbesar sekolah hari ini: bagaimana tetap menjadi ruang beradab di tengah budaya digital yang serba spontan, serba cepat, dan sering kali serba tanpa filter.
Jika kita kembali setahun, atau lima tahun, atau sepuluh tahun ke belakang, kita mungkin akan terkejut betapa banyak perubahan yang terjadi tanpa kita sadari. Dahulu, sapaan "selamat pagi, Pak" terasa seperti hal yang lumrah. Anak-anak tidak akan duduk ketika guru lewat. Mereka tidak memanggil guru dengan nama kecil. Mereka tidak menyela atau menantang argumentasi dengan nada defensif seperti hari ini.
Namun zaman memang berubah. Kita tidak bisa berharap semua perilaku lama kembali begitu saja. Yang bisa kita lakukan hanyalah menata arah baru: bukan kembali ke masa lalu, tetapi memastikan masa kini tetap berpijak pada nilai.
Di sinilah peran guru kembali menjadi krusial. Bukan dalam bentuk khotbah panjang tentang sopan santun, tetapi dalam bentuk teladan sehari-hari.
Siswa lebih mudah memercayai apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Mereka belajar dari contoh, bukan dari aturan.
Mereka mendengar dengan mata, bukan dengan telinga.
Karena itu, tata krama guru terhadap sesama guru menjadi sangat menentukan. Cara seorang guru memanggil koleganya, misalnya, adalah pelajaran tidak langsung untuk murid. Ketika guru memanggil teman sejawatnya dengan candaan yang merendahkan, anak-anak segera menangkap pola bahwa merendahkan adalah hal yang lumrah. Ketika guru memanggil nama rekan begitu saja tanpa sapaan formal dalam situasi yang sebenarnya resmi, murid merasa bahwa formalitas bukanlah sesuatu yang penting.
Di baliknya ada masalah yang lebih besar: bagaimana kita memandang relasi profesional itu sendiri.
Banyak guru tidak sadar bahwa bahasa tidak hanya memengaruhi hubungan kerja, tetapi juga memengaruhi kualitas pembelajaran. Guru yang saling menghormati akan menghadirkan suasana kerja yang sehat, yang kemudian menetes ke ruang kelas.
Sebaliknya, guru yang saling menyindir menciptakan suasana yang secara tidak kasat mata terasa tidak nyaman. Siswa mungkin tidak tahu akar masalahnya, tetapi mereka merasakan ketegangan itu. Anak-anak selalu peka terhadap atmosfer emosional yang mengitari orang dewasa.
Lalu di mana peran kepala sekolah?
Kepala sekolah memiliki posisi unik: ia bukan hanya manajer, tetapi penjaga atmosfer. Cara kepala sekolah berbicara menjadi standar moral bagi seluruh sekolah. Instruksi yang disampaikan dengan nada yang santun dan jelas akan menghasilkan budaya kerja yang sehat. Sebaliknya, instruksi yang disampaikan dengan kemarahan, tudingan, atau nada perintah yang seolah tanpa empati, perlahan-lahan menciptakan budaya ketakutan atau kejengkelan.
Padahal budaya tidak pernah dibangun dengan ketakutan. Ia dibangun dengan rasa saling menghormati.
Kepala sekolah yang bijak tahu kapan harus tegas, kapan harus lentur, kapan harus mengalirkan semangat, kapan harus mengerem konflik. Ia tahu bahwa struktur tanpa kehangatan hanya akan membentuk kepatuhan semu. Dan kehangatan tanpa struktur akan melahirkan kekacauan. Dua-duanya harus berjalan bersamaan.
Dan pada titik-inilah tata krama menjadi landasan paling penting.
Namun kita tentu tidak bisa menyalahkan guru saja. Guru bukan makhluk super. Mereka manusia yang lelah, kadang kewalahan, kadang dibebani tuntutan administratif yang tidak realistis, kadang terbakar stres, kadang tidak mendapatkan penghargaan yang layak. Dalam kondisi seperti itu, tata krama memang mudah sekali terkikis.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang tata krama sekolah, kita tidak hanya berbicara tentang aturan, tetapi juga tentang keseimbangan mental para pelakunya. Guru yang merasa aman, dihargai, dan didukung akan lebih mudah menjaga kesantunan diri. Guru yang merasa tertekan akan lebih mudah marah, letih, dan reaktif.
Jadi sebenarnya soal tata krama bukan hanya soal perilaku, tetapi juga soal kesehatan ekosistem pendidikan.
Lantas, bagaimana kita bisa memulihkan tata krama yang mulai retak itu?
Tidak ada rumus instan. Tidak ada satu program yang bisa menyelesaikan semuanya. Tidak ada modul pelatihan yang bisa mengubah karakter dalam semalam.
Perubahan tata krama hanya bisa dimulai dengan satu cara: kesadaran bersama.
Kesadaran bahwa kita sedang ditonton.
Kesadaran bahwa profesi guru membawa konsekuensi moral yang tidak bisa ditawar.
Kesadaran bahwa anak-anak belajar dari cara kita memperlakukan orang lain.
Kesadaran bahwa setiap unggahan di media sosial adalah bagian dari pembelajaran itu sendiri.
Jika seorang guru mulai memperbaiki caranya berbahasa, memanggil, menyapa, menginstruksi, menanggapi keluhan, memarahi, atau menertawakan sesuatu, maka ia sebenarnya sedang membangun peradaban kecil di dalam sekolah.
Dan jika tiap guru melakukannya, sekolah menjadi peradaban besar.
Ada satu adegan kecil yang mungkin tampak remeh tetapi sering terjadi. Seorang siswa masuk ke ruang guru untuk meminta tanda tangan raport. Ia mengetuk pelan. Tidak ada sahutan. Ia membuka pintu sedikit, melihat guru-guru sedang bercanda. Tawa mereka keras. Ada guyonan yang sebenarnya merendahkan kolega yang tidak hadir. Anak itu berdiri canggung, memegang map raport. Salah satu guru melihatnya dan berkata, “Ngapain kamu di situ? Masuk dong kalau mau tanda tangan!”
Si anak terkejut. Nada itu lebih keras dari yang ia harapkan. Ia masuk, menyerahkan raport, dan pulang. Di kepalanya, ia tidak hanya mempelajari prosedur meminta tanda tangan raport. Ia juga belajar tentang nada bicara, tentang kebiasaan bercanda, tentang hubungan antar guru, tentang bagaimana orang dewasa memperlakukan orang dewasa lain.
Adegan kecil, tetapi dampaknya panjang.
Begitulah tata krama bekerja:
Ia ditenun oleh adegan-adegan kecil yang tampaknya sepele, tetapi berlangsung setiap hari.
Meski begitu, kita harus mengakui bahwa sekolah bukan ruang steril. Sekolah adalah miniatur masyarakat yang penuh dinamika: ada konflik antarguru, ada tekanan kurikulum, ada tantangan mengelola siswa yang semakin kritis dan terbuka. Kadang guru kehilangan kesabaran. Kadang guru bersuara sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Itu manusiawi.
Yang tidak manusiawi adalah ketika kita menganggap semua itu wajar.
Di sinilah kita perlu memulihkan kesadaran bahwa tata krama adalah kompas moral bagi seluruh civitas sekolah. Kita mungkin tidak bisa kembali ke masa ketika semua tampak lebih sopan. Namun kita bisa menciptakan cara baru untuk tetap beradab di era yang cepat dan penuh tekanan ini.
Kita bisa memulai dari hal kecil:
menyapa dengan tulus,
memilih kata dengan lebih hati-hati,
menjaga nada saat menulis di grup WA,
memanggil kolega dengan hormat,
berhenti membuat konten yang merendahkan murid atau rekan guru,
menggunakan instruksi yang ringkas, sopan, dan jelas,
dan yang paling penting, memberi contoh bahwa menjadi manusia baik bukanlah soal aturan, tetapi soal pilihan setiap hari.
Tata krama yang baik bukan tanda bahwa sekolah itu kuno.
Ia tanda bahwa sekolah itu matang.
Dan sekolah yang matang akan selalu menjadi tempat terbaik bagi anak untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu memperlakukan orang lain dengan hormat.
Pada akhirnya, bicara tata krama bukan bicara masa lalu.
Ini bicara masa depan.
Karena generasi apa pun—entah Gen Z, Gen Alpha, atau generasi setelahnya—tetap membutuhkan panduan bagaimana menjadi manusia yang bisa hidup berdampingan dengan orang lain.
Tata krama adalah fondasi itu.
Tanpa tata krama, kecerdasan tidak punya arah.
Tanpa tata krama, kecakapan hanya menjadi alat untuk saling melukai.
Tanpa tata krama, sekolah kehilangan rohnya.
Kita bisa terus mengejar inovasi pembelajaran, memperbaiki kurikulum, menambah program unggulan, memasang banner visi misi, dan mengadakan berbagai lomba. Tetapi tanpa tata krama, semua itu hanya tempelan warna pada tembok yang retaknya semakin besar.
Karena itu, sekolah hari ini tidak sedang membutuhkan slogan baru.
Ia membutuhkan teladan.
Ia membutuhkan kesadaran.
Ia membutuhkan keheningan sejenak untuk kembali bertanya:
Apakah kita sudah memuliakan profesi kita dengan memuliakan cara kita memperlakukan sesama?
Jika jawabannya belum, maka sekolah masih punya pekerjaan rumah terpentingnya.
Dan pekerjaan itu dimulai dari kita — dari cara kita menata kata, menata sikap, menata hubungan, dan menata hati.
Sebab tata krama bukan sekadar pelajaran.
Ia adalah napas keberadaban.
Dan sekolah ada di situ untuk menjaganya tetap hidup.
Ajibarang, 14 Nop 2025
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja, guru IPA SMP N 2 Ajibarang
Posting Komentar