Perjuangan 12 Pendidik PAUD Nonformal Kedungbanteng Demi Raih Gelar Sarjana



KEDUNGBANTENG, INFO BANYUMAS – Sebanyak 12 pendidik PAUD Nonformal Korwilcam Dindik Kedungbanteng memulai perjalanan pendidikan tinggi S1 dengan penuh keterbatasan ekonomi, namum memiliki tekad kuat untuk meraih gelar sarjana sambil tetap menjalankan tugas sehari-hari di Kelompok Bermain (KB) dan mengurus keluarga.


Para pendidik KB tersebut menerima honor dari desa atau yayasan yang masih jauh dari kata layak dan penerimaannya kadang tidak menentu sehingga harus mencari sumber pemasukan lainnya demi bisa membiayai membiayai studi S1 mereka di Universitas Veteran Semarang.


Mereka juga harus bisa mengatur waktu dengan baik dan disiplin, antara mengajar anak-anak, mengerjakan tugas rumah tangga, dan menghadiri perkuliahan dan bimbingan akademik, sehingga hari-hari mereka dipenuhi jadwal padat sejak pagi hingga larut malam.


Sejumlah pendidik mengaku kesulitan memahami materi kuliah setelah lama tidak belajar formal, sehingga mereka perlu usaha ekstra dan meminta bantuan dosen untuk mengejar ketertinggalan akademik.


"Saya harus belajar dari nol lagi, sering sampai tengah malam karena mengajar pagi dan mengurus anak," kata salah satu pendidik KB yang meminta identitasnya untuk tidak disebutkan.


Mereka menabung sedikit demi sedikit dari honor yang menurut perhitungan tidak masuk akal jika digunakan untuk membiayai kuliah, namun tekad untuk meningkatkan kompetensi membuat mereka tetap melanjutkan.


Untuk memangkas biaya, beberapa dari mereka rela menyewa kamar sempit dengan dua kasur yang dipakai bergantian oleh tujuh orang rekan sesama mahasiswa agar kebutuhan tempat tinggal lebih murah.


Pengorbanan itu dianggap wajar oleh para pendidik karena gelar sarjana dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan anak didik dan pengembangan layanan pendidikan nonformal di lingkungan mereka.


"Saya melihat ini bukan sekadar gelar, tapi tanggung jawab kepada bangsa dan negara melalui peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini," ujar Penilik Korwilcam Dindik Kedungbanteng yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi pada mereka.


Selama dua tahun perjuangan, kerja keras, solidaritas antar-pendidik, dan dukungan dari beberapa dosen akhirnya membuahkan hasil ketika mereka berhasil menyelesaikan studi dan diwisuda dengan gelar sarjana.


Rasa bahagia dan kepuasan tampak jelas di wajah para pendidik tersebut ketika mengenang malam-malam panjang belajar, bolak-balik kampus, dan pengorbanan materi demi menyelesaikan tugas akhir dan ujian.


Keberhasilan mereka juga membuka ruang diskusi tentang perlunya perhatian lebih dari pemangku kepentingan untuk mendukung pendidik nonformal yang ingin meningkatkan kualifikasi namun terkendala biaya.


Beberapa pendidik berharap pemerintah daerah, yayasan, dan masyarakat bisa menyediakan beasiswa, subsidi, atau kebijakan honor yang lebih layak agar perjuangan serupa tidak lagi menjadi beban tunggal bagi pendidik.


Penilik mengungkapkan kebanggaannya terhadap semangat para guru tersebut dan menilai setiap langkah perjuangan merupakan investasi untuk masa depan anak-anak di wilayah kerjanya.


"Teruslah bermimpi, teruslah belajar. Mari wujudkan pendidikan yang berkualitas untuk Indonesia lebih maju," ujar Penilik Korwilcam Dindik Kedungbanteng, menutup cerita dengan dorongan agar semangat belajar para guru menjadi inspirasi bagi banyak pihak.


Kontributor: Inamah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama