Metode Jadul yang Masih Relevan: Rahasia Menghafal Lebih Lama dengan Tulis Tangan


Info Banyumas-Dalam keseharian, kemampuan membaca dan menghafal itu bukan cuma skill akademik, tapi skill hidup. Dari pelajar yang harus siap ujian, mahasiswa yang ngejar presentasi, sampai pebisnis yang menyusun proposal, semuanya butuh otak yang bisa menangkap dan nyimpen informasi dengan cepat.


Masalahnya, volume informasi sekarang makin brutal. Materi makin panjang, distraksi makin banyak, waktu malah makin sempit. Akhirnya, banyak orang merasa sudah belajar lama tapi hasilnya cepat lupa.


Secara umum, cara paling klasik untuk menghafal adalah dengan membaca berulang-ulang. Metode ini memang bekerja, tapi jujur aja, makan waktu dan energi. Tidak semua orang punya waktu luang buat bolak-balik baca materi yang sama.


Apalagi di era serba cepat seperti sekarang. Deadline mepet, tugas numpuk, notifikasi HP nggak ada ampun. Otak dipaksa kerja cepat, tapi metode belajarnya masih lambat.


Karena itu, muncul kebutuhan akan metode menghafal yang lebih efisien. Bukan cuma cepat masuk, tapi juga tahan lama di ingatan. Di sinilah metode tulis tangan mulai relevan lagi, meskipun terkesan “jadul”.


Menulis dengan tangan bukan sekadar memindahkan teks dari buku ke kertas. Ada proses berpikir, memilah informasi, dan merangkai ulang kata yang terjadi secara alami. Otak dipaksa aktif, bukan pasif


Psikolog pendidikan dari University of Nebraska, Kenneth Kiewra, menjelaskan bahwa aktivitas menulis mampu mempertajam fungsi otak yang berkaitan dengan memori dan pemahaman. Artinya, otak tidak hanya mengingat, tapi juga memahami konteks materi.


Penelitian ini sejalan dengan temuan dari para peneliti Washington University. Mereka menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tulisan tangan cenderung mengingat materi lebih lama dibandingkan mereka yang hanya membaca atau mengetik.


Alasannya cukup masuk akal secara ilmiah. Saat menulis, otak melakukan encoding informasi lebih dalam. Kita tidak mungkin menulis semua kata secara mentah, sehingga otomatis terjadi proses seleksi dan penyederhanaan. Atau dengan kata lain, proses encoding informasi adalah mengubah data atau pesan dari bentuk aslinya menjadi format lain (kode atau simbol) agar mudah disimpan ataupun ditransmisikan. Proses ini membuat otak lebih terorganisasi. Informasi disimpan dalam bentuk struktur, bukan tumpukan data acak. Inilah yang bikin materi lebih gampang dipanggil kembali atau diingat saat dibutuhkan.


Berbeda dengan mengetik yang cenderung cepat dan mekanis. Jari bergerak lebih cepat dari pikiran, sehingga otak sering hanya menyalin tanpa benar-benar mencerna isinya.


Menulis tangan juga melibatkan koordinasi motorik yang kompleks. Aktivitas ini mengaktifkan lebih banyak area otak, termasuk yang berhubungan dengan fokus dan konsentrasi.


Dari sudut pandang neuroscience, semakin banyak area otak yang terlibat, semakin kuat jejak memori yang terbentuk. Itu sebabnya catatan tulisan tangan sering terasa lebih “nempel” di kepala.


Walaupun kelihatannya ribet dan lambat, menulis tangan justru menghemat waktu dalam jangka panjang. Karena kita tidak perlu mengulang belajar terlalu sering akibat lupa.


Jadi, kalau tujuan kita bukan sekadar cepat selesai belajar, tapi benar-benar paham dan ingat, metode tulis tangan masih jadi salah satu strategi paling masuk akal. Murah, sederhana, dan didukung sains.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama